<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Welgedewelbeh</title>
	<atom:link href="http://mulut.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mulut.wordpress.com</link>
	<description>Mencerahkan dan mencerdaskan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 13:28:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mulut.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Welgedewelbeh</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mulut.wordpress.com/osd.xml" title="Welgedewelbeh" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mulut.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Adili pimpinan dan backing FPI, Bubarkan FPI</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com/2008/06/08/adili-pimpinan-dan-backing-fpi-bubarkan-fpi/</link>
		<comments>http://mulut.wordpress.com/2008/06/08/adili-pimpinan-dan-backing-fpi-bubarkan-fpi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 20:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lidah api]]></category>
		<category><![CDATA[FPI]]></category>
		<category><![CDATA[gus dur]]></category>
		<category><![CDATA[habib riziq]]></category>
		<category><![CDATA[kejadian monas]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulut.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Welgedewelbeh Kasus monas 1 Juni kemaren yang diikuti dengan adu opini di berbagai blog, milis, forum dan lain-lain, berbagai macam fitnah serta pemelintiran fakta-fakta membuat mulut tidak tahan dan muak dengan itu semua. Pelaku kekerasan FPI harus diproses hukum dan ditahan. Pimpinan FPI serta dalang-dalangnya harus diungkap dan diadili, organisasi FPI harus dibubarkan. Opini-2 dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=56&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff00ff;"><em><strong>Welgedewelbeh</strong></em></span></p>
<div>
<p>Kasus monas 1 Juni kemaren yang diikuti dengan adu opini di berbagai blog, milis, forum dan lain-lain, berbagai macam fitnah serta pemelintiran fakta-fakta membuat <span style="color:#ff00ff;"><strong><em>mulut </em></strong></span>tidak tahan dan muak dengan itu semua. Pelaku kekerasan FPI harus diproses hukum dan ditahan. Pimpinan FPI serta dalang-dalangnya harus diungkap dan diadili, organisasi FPI harus dibubarkan.</div>
<div>
<p>Opini-2 dari blog-2 ataupun milis-2 yang sedang bersliweran mungkin saja    sangat bias. Apalagi testimoni-2 ataupun kutipan korespondensi orang-2 yang    dituduh sebagai aktor intelektual kerusuhan untuk mendukung teori konspirasi    validitasnya juga masih simpang siur.</p></div>
<div>
<p>Akan tetapi mungkin rekaman video bisa secara jujur berbicara. Apapun    alasannya, tindakan-2 FPI di video-2 berikut ini sama sekali nggak boleh    ditoleransi. Kekerasan dan sok-sokan gak mengeal hukum harus dienyahkan dari    bumi Indonesia. Coba saja lihat video-video berikut:</p></div>
<div>
<p>Yang pertama ini berisi agitasi untuk membunuh pengikut    ahmadiyah. Hasutan yang sangat jelas dan gamblang untuk membenci    Ahmadiyah, menghalalkan darah anggota ahmadiyah dan anjuran untuk membunuh    anggota ahmadiyah di manapun di bumi Indonesia. Provokasi yang dilakukan tidak    oleh kroco, tapi sekretaris pusat FPI, Sobri Lubis. Ini upaya sistematis    penghasutan massa oleh organisasi, bukan oleh oknum.</p></div>
<div>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.youtube.com/watch?v=U7RLCXNdKF4" target="_blank"><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://mulut.wordpress.com/2008/06/08/adili-pimpinan-dan-backing-fpi-bubarkan-fpi/"><img src="http://img.youtube.com/vi/U7RLCXNdKF4/2.jpg" alt="" /></a></span></a></div>
<div>
<p>&gt;&gt; kalau bukti ini kurang cukup untuk membuka mata hati kita, &#8230;..    kebangetan deh<br />
&gt;&gt; kalau bukti ini tidak cukup membuat pemerintah bertinak tegas    &#8230;.. patut dicurigai siapa backingnya</p></div>
<div>
<p>Yang ini jelas-jelas penganiayaan oleh FPI terhadap massa sipil    di tragedi monas kemaren .. Bahkan yang sudah terluka dan tidak    melawan &#8230; masih dianiaya. Apapun alasannya, heran deh, tindakan tak beradab    seperti ini kok ya masih dibela. Adil harus &#8230; tapi kalau membenarkan    tindakan FPI, apakah kita sudah kehilangan obyektivitas? ?.</p></div>
<div>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.youtube.%20com/watch?%20v=r--6XNvZwMo" target="_blank">http://www.youtube. com/watch?    v=WmGsR6bviO0<br />
http://www.youtube. com/watch?    v=UGrLrMMPDzk<br />
http://www.youtube. com/watch?    v=r&#8211;6XNvZwMo</a></div>
<div>
<p>Yang ini cara FPI menyelesaikan masalah, sekali lagi warga    sipil dihajar dengan kejam terus meski sudah tidak melawan. Polisi    pun melakukan pembiaran lagi &#8230;<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.youtube.com/watch?v=qnCzdoScFq0&amp;feature=related" target="_blank"><br />
http://www.youtube. com/watch? v=ZWBP6mPH8cE<br />
http://www.youtube. com/watch?    v=qnCzdoScFq0&amp;feature=related</a><a rel="nofollow" href="http://www.youtube.com/watch?v=DHoyBcmPMz8" target="_blank"><br />
http://www.youtube. com/watch?    v=DHoyBcmPMz8</a></div>
<div>
<p>Ini kasus betapa sewenang-wenangnya FPI, di bulan Romadhon &#8230; Emangnya    puasa mengajari orang untuk sewenang-wenang dan mudah marah ya ????</p></div>
<div>
<p>Yang ini adalah penganiayaan terhadap jamaah AHmadiyah, ternyata    kebencian atas nama tuhan juga disebar-2 di masjid2. Atribut FPI juga dipakai    oleh mereka-2 yang menganiaya ini.</p></div>
<div>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.youtube.%20com/watch?%20v=EozuwflQ3N8" target="_blank">http://www.youtube. com/watch?    v=yPAORBa1bX0<br />
http://www.youtube. com/watch?    v=Zd2y1yCO9es<br />
http://www.youtube. com/watch?    v=HKCoIqKHofc<br />
http://www.youtube. com/watch? v=x0SEYdJ-    xwE<br />
http://www.youtube. com/watch?    v=EozuwflQ3N8</a></div>
<div>
<p>Susah-sudah para wali mengislamkan sebagian besar orang Indonesia,    susah-susah ulama&#8217; yang tanpa pamrih menjaga pancaran kedamaian Islam menaungi    bumi Indonesia. Sekarang islam dirusak sendiri oleh orang yang ngaku-2    paling islami. Kalau begini Islam yang ditampilkan, jangan harap ada orang non    Islam masuk Islam, orang yang sudah Islam saja dipaksa untuk mengaku bukan    Islam.</p></div>
<div>
<p>Sudah terlalu banyak bukti &#8230;..</p></div>
<div>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">Adili pelaku kekerasan FPI, Adili pimpinan dan backing FPI, Bubarkan organisasi FPI !!!</span></strong></div>
<p>Bhineka Tunggal Ika<br />
Mari    diwujudkan, jangan hanya jadi slogan !!<br />
Islam    rahmat bagi semesta<br />
Mari    dipraktekkan, bukan untuk jualan !!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulut.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulut.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulut.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulut.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulut.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulut.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulut.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulut.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulut.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulut.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulut.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulut.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulut.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulut.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulut.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulut.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=56&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulut.wordpress.com/2008/06/08/adili-pimpinan-dan-backing-fpi-bubarkan-fpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3437fa6e10a2a7074749785b794c382?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Welgedewelbeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terkait konflik PKB, detik.com tidak netral</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com/2008/05/05/detikcom-sudah-tak-netral-lagi/</link>
		<comments>http://mulut.wordpress.com/2008/05/05/detikcom-sudah-tak-netral-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 09:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lidah api]]></category>
		<category><![CDATA[detik.com]]></category>
		<category><![CDATA[gus dur]]></category>
		<category><![CDATA[kaidah jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[konflik pkb]]></category>
		<category><![CDATA[muhaimin]]></category>
		<category><![CDATA[pkb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulut.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Welgedewelbeh Berita politik paling panas dalam dua minggu terakhir ini adalah berita tentang konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Hampir semua siaran berita, baik cetak maupun elektronik (termasuk didalamnya adalah portal berita online) juga turut menyoroti konflik tersebut. Manuver demi manuver yang dilakukan oleh kedua kubu selalu saja memiliki daya tarik sendiri bagi media untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=55&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong><span style="color:#ff00ff;">Welgedewelbeh</span></strong></em></p>
<p>Berita politik paling panas dalam dua minggu terakhir ini adalah berita tentang konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Hampir semua siaran berita, baik cetak maupun elektronik (termasuk didalamnya adalah portal berita online) juga turut menyoroti konflik tersebut. Manuver demi manuver yang dilakukan oleh kedua kubu selalu saja memiliki daya tarik sendiri bagi media untuk memberitakannya. Sayangnya beberapa media massa yang seharusnya menjaga netralitasnya ternyata memiliki kecondongan-kecondongan keberpihakan. Yang ingin <em><span style="color:#ff00ff;"><strong>mulut </strong></span></em>soroti saat ini adalah portal berita detik.com, sebagai media masssa berpengaruh dan memiliki pelanggan yang sangat luas ternyata tidak menjalankan <a title="kode etik" href="http://ajiindonesia.org/index.php?fa=org.ethic" target="_blank">kode etik jurnalistik</a> secara baik.</p>
<p>Coba saja lihat di berita-berita konflik PKB yang diturunkannya, penggunaan istilah-istilah yang tendensius serta distorsi berita dapat dilihat dengan sangat telanjang. Misalkan penggunaan istilah &#8220;Muhaimin dipecat gus dur&#8221; yang secara konsisten di pakai di berbagai beritanya (lihat <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/28/time/064716/idnews/914627/idkanal/10" target="_blank">di sini</a>, <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/27/time/114316/idnews/914200/idkanal/10" target="_blank">sini</a>, atau di <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/30/time/130835/idnews/915472/idkanal/10" target="_blank">sini</a> dll). Padahal pada kenyataanya Muhaimin belum dipecat waktu itu, dia hanya diminta untuk mundur dari ketua tanfidz PKB. Soal pemberhentian itu dilakukan setelahnya di forum MLB setelah dia menolak untuk mundur, dan malah melawan suara terbanyak di dewan pimpinan PKB. Isu soal beredarnya SK pemecatan Muhaimin yang diberitakan portal detik.com juga tidak ada konfirmasinya (lihat <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/08/time/093840/idnews/919971/idkanal/10" target="_blank">di sini</a> dan <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/08/time/064100/idnews/919851/idkanal/10" target="_blank">di sini</a>).</p>
<p>Penyebutan Gusdur sebagai pihak pemecat Muhaimin juga merupakan distorsi kenyataan, padahal yang menghendaki muhaimin mundur adalah sebagian besar pucuk pimpinan PKB yang terdiri dari anggota-anggota dewan syuro DPP-PKB dan anggota ketua dewan tanfidz DPP-PKB. Gus Dur sendiri saat pengambilan suara memilih abstain sebagaimana Muhaimin. Nah ini bagaimana ceritanya kok tiba-tiba redaksionalnya berubah menjadi Gusdur memecat Muhaimin. </p>
<p>Di <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/30/time/093214/idnews/931769/idkanal/10" target="_blank">berita yang lain</a> di detik.com disampaikan bahwa ada acara nonton bareng (nobar) film &#8220;para pembelot gusdur&#8221; di MLB Parung Bogor. Padahal jelas-jelas tertulis di artikel berita itu bahwa judul film-nya adalah &#8220;Bersama Gus Dur Menang Untuk Rakyat&#8221;. Ini jelas-jelas sebuah distorsi pemberitaan yang sangat telanjang, tidak sesuai fakta dan menggiring ke opini tertentu sesuai dengan kepentingan detik.com. Di <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/30/time/170401/idnews/932235/idkanal/10" target="_blank">berita lain</a> terkait permasalahan yang sama, lebih telanjang lagi, detik.com malah menulis di bagian judul berita <strong>&#8220;Muhaimin Diteriaki &#8216;Huu!&#8217; Saat Nongol di Film Pembelot Gus Dur&#8221;</strong> . Nah itu bagaimana ceritanya kok detik mengubah judul film secara tak bertanggung jawab. Ini jelas-jelas distorsi berita.</p>
<p>Kesimpulannya, detik.com sudah kehilangan netralitasnya. Terlihat sekali bahwa ada pembentukan opini untuk memperburuk gusdur dan PKB melalui berita-berita yang diturunkannya. Parahnya, hal ini dilakukan tanpa mengindahkan kaidah-kaidah prinsip jurnalistik yang independen, balance dan akurat. Bagi para pembaca setia detik.com, juga media massa lain di tanah air &#8230;. selalulah kritis dan waspada &#8230;. media kita sudah mulai terbukti tidak netral, ada kepentingan yang bermain di sana.</p>
<p>waspadalah &#8230; waspadalah</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulut.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulut.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulut.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulut.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulut.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulut.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulut.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulut.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulut.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulut.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulut.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulut.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulut.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulut.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulut.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulut.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=55&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulut.wordpress.com/2008/05/05/detikcom-sudah-tak-netral-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3437fa6e10a2a7074749785b794c382?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Welgedewelbeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang hilang di era informasi itu telah kembali</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com/2008/01/24/yang-hilang-di-era-informasi-itu-telah-kembali/</link>
		<comments>http://mulut.wordpress.com/2008/01/24/yang-hilang-di-era-informasi-itu-telah-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 10:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mulut Manis]]></category>
		<category><![CDATA[berhenti ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[dampak internet]]></category>
		<category><![CDATA[era informasi]]></category>
		<category><![CDATA[intelektualisme]]></category>
		<category><![CDATA[kekuatan blog]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh ponsel]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulut.wordpress.com/2008/01/24/yang-hilang-di-era-informasi-itu-telah-kembali/</guid>
		<description><![CDATA[welgedewelbeh Semenjak era informasi mulai mewabahi negeri ini, mulut merasakan ada suatu tradisi yang sangat penting yang perlahan-lahan memudar. Apa yang menghilang itu ? yaitu tradisi intelektualisme. Kemudahan dan kemurahan berkomunikasi secara langsung menggunakan ponsel, menina-bobokan anak-anak muda kita dan membunuh daya intelek generasi bangsa ini secara perlahan-lahan. SMS dan e-mail sebagai sarana komunikasi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=53&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b><i><font color="#ff00ff">welgedewelbeh</font></i></b></p>
<p>Semenjak era informasi mulai <i>mewabahi</i> negeri ini, <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> merasakan ada suatu tradisi yang sangat penting yang perlahan-lahan memudar. Apa yang menghilang itu ? yaitu tradisi <a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/08/opi4.htm" target="_blank">intelektualisme</a>.  Kemudahan dan kemurahan berkomunikasi secara langsung menggunakan ponsel, menina-bobokan anak-anak muda kita dan membunuh daya intelek generasi bangsa ini secara perlahan-lahan. SMS dan e-mail sebagai sarana komunikasi yang baru yang lebih murah dan <i>real time</i> membuat layanan jasa pos menjadi <a href="http://isnaweblog.blogspot.com/2005/05/kantor-pos-pagi-itu-sekitar-pukul-07.html" target="_blank">sepi peminat</a>.  Bahkan <i>masa panen</i> jasa pos yang biasanya berlangsung di <a href="http://www.suarapembaruan.com/News/2007/09/23/Utama/ut01.htm" target="_blank">saat-saat menjelang Idul Fitri dan Natal pun kini juga semakin kehilangan pelanggannya</a>.</p>
<p>Lantas apa hubungan antara sepinya jasa layanan kantor pos dan intelektualisme ?. Baiklah simak penjelasan berikut ya &#8230;.</p>
<p>Tanpa harus memulai <a href="http://inventors.about.com/library/inventors/bl_history_of_communication.htm" target="_blank">sejarah komunikasi dan telekomunikasi</a> manusia sejak awal, kita tahu bahwa berkorespondensi melalui media surat adalah satu-satunya jalan untuk tetap menjalin hubungan dengan kawan atau sejawat yang berada di tempat jauh. Teknologi pengirimannya pun berkembang pesat dari jaman ke jaman mulai dari dititipkan kepada kurir (baca: para kafilah/gembala yang hendak bepergian jauh), menggunakan merpati/elang post hingga yang lebih moderen dan terorganisasi yakni melalui jawatan pos. Seperti halnya teknologi pengirimannya, isinya pun juga berkembang mengikuti konteks jaman dan kebutuhan. Dari hal-hal yang bersifat personal seperti berkeluh kesah kepada sahabat, mengabarkan keluarga yang sakit, membagi berita bahagia kepada sanak famili dan handai taulan yang jauh sampai pada korespondensi perdagangan, kerjasama antar negara, korespondensi akademis, serta intelektual semuanya menggunakan jalur yang satu ini.</p>
<p>Seiring perjalanan sejarah, dan seakan didesak oleh kebutuhan akan kecepatan serta keandalan pengiriman yang tidak bisa ditawar lagi, kemajuan teknologi telekomunikasi pun meningkat pesat. Laju perkembangan teknologi yang ber-kurva eksponensial melesat meninggalkan garis waktu yang terus saja menggelinding konstan di horizon peradaban. Memasuki fase berikutnya, telegram pun menjadi jalur alternatif komunikasi baru yang bisa diandalkan. Beberapa tahun setelah telegram, era teleponpun menyusul dan turut berperan besar mengukir sejarah peradaban umat manusia. Berturut-turut kemudian teknologi radio pun memenuhi ruang udara bumi, dan yang terakhir, beberapa dasawarsa berikutnya menyusul teknologi komputer dan internet. Yang terakhir ini, ditambah lagi dengan kemajuan teknologi <i>data storage</i>, bagaikan mengubah aliran informasi menjadi bah informasi.</p>
<p>Sayangnya, seiring dengan kemajuan tersebut secara berbanding terbalik perilaku intelektual manusia di era informasi menjadi menurun. Lho kok bisa &#8230;. ?. ya begini gambarannya. Pada saat komunikasi jarak jauh masih mengandalkan surat, orang-orang biasa menuliskan pesan-pesan atau apapun yang ingin disampaikannya dengan cukup detail. Secara kasarannya, sebuah surat kadang berisi beberapa halaman tulisan yang berisi pesan yang ingin disampaikan tersebut. Pesan-pesan yang ditulis tangan ataupun ditulis dengan menggunakan mesin penulis tersebut hampir bisa dipastikan juga memuat ekspresi emosi dan pemikiran yang menulisnya. Jarang sekali ada orang yang mengirim surat yang hanya berisikan satu atau dua kalimat saja.</p>
<p>Bandingkan hal ini dengan kebiasaan berkomunikasi di era yang dimanjakan teknologi komunikasi (terutama ponsel dengan fitur sms-nya) di akhir tahun 90&#8242;an dan awal abad 21 beberapa waktu yang lalu. Para muda-mudi kita menggunakan teknologi canggih itu untuk terutama memenuhi <i>social need</i> mereka saja. Untuk bersambung silaturahmi dengan keluarga, bercengkerama dengan teman, pe-de-ka-te dan pacaran, menggoda ataupun curhat-curhatan saja. Sebagian yang lain menggunakannya untuk mempermudah mobilitas dan kordinasi yang menunjang keprofesian serta bisnisnya. Untuk dua keperluan di atas, sepertinya masih mending dibandingkan yang menggunakannya hanya sekedar untuk gengsi-gengsian saja.</p>
<p>Tidak terlalu berbeda dengan telepon dan ponsel, teknologi internet dengan kemudahan berkirim surat setrum (<i>electronic mail -email</i>) yang mulai mewabah dan me-murah di awal tahun 90 an, tidak serta merta memindahkan kebiasaan berkirim surat (dengan tulisan panjang &#8211; melalui kantor pos) ke teknologi ini. Padahal email memungkinkan kita untuk menulis sebanyak-banyaknya selayaknya berkirim surat menggunakan jasa kantor pos, bahkan dengan berbagai keunggulan. Misalkan waktu <i>delivery </i>yang cuman sekian detik dan <i>delivery reliability</i>. Tidak semua sih memanfaatkan internet dan email untuk tujuan-tujuan yang disebutkan terakhir, terutama bagi mereka yang berkecimpung di bidang jurnalistik, akademik, intelektual dan bisnis.</p>
<p>Yah mungkin saja fenomena ini disebabkan karena mahalnya pulsa ponsel dan tidak efektifnya menulis teks yang panjang-panjang untuk dikirim via SMS. Atau, yang soal email, mungkin juga disebabkan karena <strike>kemalasan</strike> ketidak-nyamanan membaca email yang panjang-panjang di layar monitor atau cuman karena faktor <a href="http://indomelb.wordpress.com/2008/01/06/bangsa-yang-besar-adalah-bangsa-yang-menulis/" target="_blank">budaya yang malas baca dan malas menulis</a>. Yang jelas, tidak ada yang akan menulis sms yang panjangnya setara dengan satu halaman penuh apalagi sampe dua atau tiga halaman. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Nah karena tulisan ini tidak dibuat untuk <a href="http://www.thenewatlantis.com/archive/6/rosen.htm" target="_blank">mengupas <b>seluruh</b> pengaruh</a> baik<a href="http://komputasi.inn.bppt.go.id/konvergensi_TIK.html" target="_blank"> </a>dan <a href="http://rusdimathari.wordpress.com/2007/11/30/dampak-buruk-dari-ponsel/" target="_blank">buruk</a> teknologi ponsel atau <a href="http://komputasi.inn.bppt.go.id/konvergensi_TIK.html" target="_blank">internet </a>pada  kehidupan manusia, maka kita akan kembali fokus ke masalah intelektualitas dan teknologi komunikasi yang digunakan.</p>
<p>Seperti telah <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> uraikan sebelumnya bahwa ternyata teknologi komunikasi yang kita gunakan berpengaruh pada aktivitas-aktivitas intelektual (yang terkait dengan komunikasi tentunya) beserta kualitas aktivitas tersebut. Dalam hal menulis misalkan, ternyata surat konvensional lebih memberikan dorongan bagi orang-orang untuk dapat mencurahkan pikiran-pikirannya ke dalam bentuk tulisan. Dengan menulis dan mengkomunikasikannya kepada orang lain, kreativitas terasah, pengorganisasian ide terbentuk, dan diskusi pun bisa berkembang. Demikian pula dengan membaca, surat konvensional memberikan kemudahan (karena nggak harus punya/bayar akses internet, nggak harus ada listrik dll) bagi orang untuk membacanya. Pun dengan surat, kedua aktivitas tersebut sepertinya &#8220;<i>lebih manusiawi</i>&#8221; lebih punya emosi dan perasaan &#8212; karena kita bisa memberi ilustrasi gambar, sketsa, pernak pernik dll di surat yang ditulis.</p>
<p>Bandingkan hal ini dengan email, bentuk huruf pun semuanya seragam. Kalaupun ada pilihan <i>customize</i> &#8230; itu cuman terbatas pada beberapa jenis font dan warna yang disediakan oleh mail servernya. Kalau mau menambahkan pernak-pernik pun atau gambar, semuanya adalah produk dari proses yang instan. Gambar kita copy paste dari kamera digital atau ponsel kita, atau dari gambar yang kita temukan entah di mana di jagad maya internet. Tentu saja bentuk komunikasi tulisan ini lebih sedikit memiliki jiwa daripada bentuk terdahulu yang lebih konvensional. Ini ngomongin e-mail lho &#8230;. soal SMS lebih-lebih lagi &#8230;. semakin miskin rasa, hati dan jiwa.</p>
<p>Lebih dalam soal membaca, kemajuan teknologi informasi membuat lebih banyak lagi orang hanya menjadi konsumen saja. Melakukan aktivitas intelektual pasif meskipun informasi dapat diperoleh secara lebih mudah. Soal menulis (yang <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> anggap sebagai aktivitas intelektual aktif), turut mencipta nilai dan menyumbangkan gagasan serta pemikiran berangsur-angsur menjadi barang yang langka. Kebanyakan orang kita hanya menjadi konsumen pasif baik di milis-milis ataupun di portal penyedia informasi lainnya. Padahal kalau kita mau kritis, menjadi konsumen informasi banyak kerugiannya lho &#8230; coba pikirkan siapa yang mampu hosting sendiri (pada saat internet masih mahal dulu), siapa yang bisa dan mampu bikin website di internet. Itu semua tentunya orang-orang/pihak-pihak yang berduit, mereka itu kebanyakan adalah pihak-pihak yang tidak bebas kepentingan. Apakah itu untuk mencari kekuasaan politik, pengaruh ideologi, ataupun sekadar untuk mencari keuntungan finansial.</p>
<p>Untungnya era www yang dahulu lebih didominasi kaum berpunya dan &#8220;berkepentingan&#8221; itu lambat laun mulai bergeser. Lebih-lebih dengan adanya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Web_2" target="_blank">teknologi web 2.0</a> yang bisa dianggap generasi ke dua web berbasis komunitas. Teknologi ini membuat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Social_networking_sites" target="_blank">situs social networking</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Wiki" target="_blank">wiki</a>, dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Folksonomy" target="_blank">folksonomy</a> serta fitur-fitur web baru seperti <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/RSS_%28file_format%29" target="_blank">RSS Feed</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Application_programming_interface" target="_blank">APIs (application programming interface)</a> tumbuh bagaikan jamur di musim hujan diberi pupuk dan disebari benihnya. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Teknologi ini memungkinkan siapa saja warga dunia untuk berperan aktif, berkontribusi dalam penciptaan nilai, sharing pengetahuan, bersambung rasa; budaya; ideologi; serta emosi. Semenjak itu, jagad maya tidak lagi menjadi hegemoni orang berpunya dan &#8220;berkepentingan&#8221; saja. Orang biasa pun kini bisa turut andil dalam penciptaan informasi, saling mengoreksi dan membangun nilai global secara komunal.<br />
Sebagai salah satu anak kandung dari web 2.0 ini, blog memegang peranan yang sangat besar. Sifatnya yang setengah personal setengah konsumsi publik, setengah ilmiah setengah gaul, mudah administrasinya, search engine friendly, serta fitur-fitur tag, APIs, Agregator, Tracker dan lain sebagainya membuatnya menjadi teknologi yang sangat digemari. Bahkan <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> yakin <a href="http://mulut.wordpress.com/2007/11/19/second-life-trend-baru-setelah-blogging/" target="_blank">aktivitas ngeblog sudah mulai menggeser aktivitas chatting</a> yang sempat menjadi &#8220;<i>the black hole</i>&#8221; yang menyedot habis waktu kita saat ngenet.</p>
<p>Kembali ke masalah intelektualisme.</p>
<p>Menulis sebagai <a href="http://mindamedia.blogspot.com/2005/07/penulisan-sumber-kekuatan-yang-perlu.html" target="_blank">aktivitas</a> untuk menciptakan, mengorganisir dan mengkomunikasikan nilai, ide serta pengetahuan telah dilakukan sejak jauh hari oleh beberapa generasi sebelum kita. Para pemikir yang tahu kekuatan tulisan menuliskan hasil-hasil pemikirannya. Semua intelektual berkorespondensi dan bertukar pikiran dengan orang-orang yang memiliki interes yang sama dengannya dengan media tulisan. Mulai dari Kartini, Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Gie, Kahlil Gibran, Tagore, Nietche, Einstein, Hassan Hanafi, H. Agus Salim, Cak Nur, Hamka, Gus dur dan banyak lagi juga melakukan hal yang sama, meski teknologi komunikasi masih sangat terbatas.  Bahkan Pramoedya A.T. menyatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Di dunia Arab ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa &#8220;Ilmu itu bagaikan binatang liar, maka ikatlah ia dengan tulisan&#8221;.</p>
<p>Karena demikian hebatnya hubungan antara <a href="http://webersis.com/" target="_blank">aktivitas menulis</a> dan intelektualisme, maka kita semua, para blogger, hendaknya bersukur dengan teramat sangat dengan adanya teknologi <a href="http://cheaperworld.wordpress.com/2007/11/10/the-power-of-blog/" target="_blank">blog ini dengan segala kekuatannya</a>. Terkait dengan kekuatan ini, bahkan sebuah buku mengatakan bahwa <a href="http://cheaperworld.wordpress.com/2007/11/10/clear-blogging-how-people-blogging-are-changing-the-world-and-how-you-can-join-them/" target="_blank">ngeblog bisa mengubah dunia</a>. Toh <a href="http://aryabimantara.wordpress.com/2006/06/04/menulis-itu-sexy-obat-kuat-untuk-calon-manusia-indonesia-seutuhnya/" target="_blank">telah</a> <a href="http://gielardino.wordpress.com/2008/01/23/36/" target="_blank">begitu</a> <a href="http://bataknews.wordpress.com/2008/01/15/tips-menulis-piramida-terbalik-dan-5w1h/" target="_blank">banyak</a> <a href="http://afatih.wordpress.com/2007/09/06/bahan-nulis-blog/" target="_blank">orang baik</a> <a href="http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/01/07/ebook-tips-tips-menulis-writing-10/" target="_blank">yang</a> <a href="http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/17/timbulkan-lapar-menulis/" target="_blank">secara</a> <a href="http://gurupkn.wordpress.com/" target="_blank">ikhlas</a> <a href="http://reditya.wordpress.com/" target="_blank">memberikan</a> <a href="http://epugi.wordpress.com/2008/01/24/membaca-dan-menulis-adalah-perintah-pertama/" target="_blank">dorongan</a> untuk menulis, <a href="http://sawali.info/2008/01/09/demam-ngeblog-di-kalangan-guru-makin-parah/" target="_blank">terutama melalui blog</a> yang murah meriah dan efektif ini.</p>
<p>Adanya blog seakan membangunkan jiwa-jiwa intelektual bangsa Indonesia yang lama terlelap dinina bobokan gemerlapnya kemajuan teknologi. Terbukti ribuan blog baru dibuat setiap harinya, ribuan tulisan disampaikan setiap saat, ribuan yang lain mengakses dan berkorespondensi melalui fitur <i>komen</i> dan <i>track back</i>. Kualitas posting dan blog meningkat tajam dari waktu ke waktu. Korespondensi dua arah yang biasa dilakukan oleh intelektual masa lalu, diperluas teknologi blog menjadi korespondensi publik yang multi arah, multi channel. Blog telah membobol keran-keran pergulatan wacana publik yang dahulu didominasi para penulis ternama di surat-surat kabar. Blog telah merubah banyak hal &#8230;.. <font color="#ff00ff"><b><i></i></b></font></p>
<p><font color="#ff00ff"><b><i>Mulut</i></b></font> yakin media internet dengan web 2.0 nya, <b>terkhusus lagi blog</b>, akan mempercepat langkah-langkah meraih kegemilangan umat manusia dan bangsa kita pada khususnya. Kalau dahulu, dengan perangkat komunikasi seadanya bangsa ini bisa melahirkan pemikir pemikir besar seperti Kartini,  Hatta, Tan Malaka, dan lain-lain. Maka yakinlah bahwa teknologi blog ini akan dapat melahirkan tidak hanya satu orang pemikir besar, akan tetapi sebuah generasi Indonesia baru yang cinta dan peduli tanah air, kreatif, cerdas, optimis, positif bertanggung jawab, dan berbudi luhur.</p>
<p>Tulisan ini juga merupakan himbauan <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> kepada rekan-rekan blogger yang lain untuk tidak berhenti berkarya, mengasah akal budi, intelektualitas kita dengan ngeblog. <a href="http://chaosregion.wordpress.com/2008/01/23/cara-mematikan-blog-yang-baik-dan-benar/" target="_blank">Mematikan blog</a>, <a href="http://hariadhi.wordpress.com/2008/01/23/ikutan-bunuh-diri-ah/" target="_blank">bunuh</a> <a href="http://blogirang.wordpress.com/" target="_blank">diri</a> <a href="http://fertobhades.wordpress.com/2007/07/15/penyusutan-dan-bunuh-diri/" target="_blank">blog</a>, <a href="http://sisca79.wordpress.com/2008/01/01/duniaku-bukan-di-sini/" target="_blank">berhenti ngeblog</a> atau <a href="http://morishige.wordpress.com/2008/01/23/semoga-hoek-mati-dengan-girang/" target="_blank">apapun namanya</a> yang saat ini menjadi trend para blogger Indonesia merupakan anomali yang menyedihkan di saat kualitas posting dan blog secara umum mulai beranjak membaik.</p>
<p>Singkat kata, ayo bersukur akan karunia besar ini dengan terus berkarya, JANGAN BERHENTI NGEBLOG. Kalau anda merasa ngeblog terlalu menyita waktu anda, cobalah belajar manajemen diri dan waktu dengan sungguh-sungguh. Topik terkait dengan yang terakhir ini akan menjadi posting mulut berikutnya . . . . sabar ya.<br />
Mulut bersukur karena yang hilang di era informasi itu telah kembali . . . . .</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulut.wordpress.com/53/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulut.wordpress.com/53/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulut.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulut.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulut.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulut.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulut.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulut.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulut.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulut.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulut.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulut.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulut.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulut.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulut.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulut.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=53&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulut.wordpress.com/2008/01/24/yang-hilang-di-era-informasi-itu-telah-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3437fa6e10a2a7074749785b794c382?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Welgedewelbeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gusdur tidak konsisten ?</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com/2008/01/13/gusdur-tidak-konsisten/</link>
		<comments>http://mulut.wordpress.com/2008/01/13/gusdur-tidak-konsisten/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2008 01:19:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Mulut]]></category>
		<category><![CDATA[Lidah api]]></category>
		<category><![CDATA[capres]]></category>
		<category><![CDATA[gus dur]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulut.wordpress.com/2008/01/13/gusdur-tidak-konsisten/</guid>
		<description><![CDATA[welgedewelbeh Akhir tahun merupakan momentum yang banyak digunakan orang terutama para blogger untuk memaklumatkan resolusi, kilas balik, refleksi, meluncurkan album dan lain-lain, agar menjadi lebih baik di masa mendatang ke ruang publik. Serasa tidak mau ketinggalan, partai politik A dan B, ormas C dan D, pebisnis, para politisi, kelompok penggiat masyarakat dan lain lain pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=51&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b><i><font color="#ff00ff">welgedewelbeh</font></i></b></p>
<p>Akhir tahun merupakan momentum yang banyak digunakan orang <strike>terutama para blogger</strike> untuk memaklumatkan <a href="http://asruldinazis.wordpress.com/2008/01/02/unhappy-new-year-kaleidoskop-2007-vs-resolusi-2008/" target="_blank">resolusi</a>, <a href="http://alief.wordpress.com/2007/12/21/kaleidoskop-blog%e2%84%a2-cak-alief-2007/" target="_blank">kilas balik</a>, refleksi, <a href="http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=21&amp;dn=20071107130021" target="_blank">meluncurkan album</a> dan lain-lain, agar menjadi lebih baik di masa mendatang ke ruang publik. Serasa tidak mau ketinggalan, <a href="http://www.demokrat.or.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=279&amp;Itemid=17" target="_blank">partai</a> <a href="http://www.golkar.or.id/detail_nasional.php?option=content&amp;task=view&amp;id=9386" target="_blank">politik</a> <a href="http://www.eramuslim.com/berita/nas/6c28170447-refleksi-akhir-tahun-2006-pan-dan-pkb-kementrian-bidang-ekuin-jeblok.htm?prev" target="_blank">A</a> dan <a href="http://bulanbintang.wordpress.com/2007/12/30/catatan-akhir-tahun-bulan-bintang-media/" target="_blank">B</a>, <a href="http://www.nusatenggaranews.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;cid=13&amp;artid=2409" target="_blank">ormas</a> <a href="http://papernas.org/id/news/catatan-akhir-tahun-2007" target="_blank">C</a> <a href="http://www.liputan6.com/politik/?id=24039" target="_blank">dan</a> <a href="http://gp-ansor.org/?p=3784" target="_blank">D</a>, <a href="http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=147930&amp;actmenu=35" target="_blank">pebisnis</a>, <a href="http://immfaiuad.wordpress.com/2008/01/06/refleksi-akhir-tahun-baru-masjid-gedhe-kauman-jogjakarta/" target="_blank">para</a> <a href="http://www.gusdur.net/indonesia/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=2770&amp;Itemid=1" target="_blank">politisi</a>, kelompok <a href="http://bcwbanten.blogspot.com/2007/12/refleksi-akhir-tahun.html" target="_blank">penggiat masyarakat</a> dan lain lain pun melakukan hal serupa. Para tokoh politik pun memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan publisitas atas apa yang ingin dia raih di tahun mendatang, terkait ataupun tidak dengan target politik menjelang pemilu 2009 nanti.</p>
<p>Satu hal yang menarik dari berbagai acara di akhir tahun 2007 tersebut adalah <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/31/utama/4113326.htm" target="_blank">pernyataan Gusdur bahwa beliau mau maju kembali menjadi capres Indonesia di pemilu 2009</a> yang akan datang. Lho gus barusan kemaren (bulanNovember 2007) kan bilang kalau <a href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=10782" target="_blank">tidak bersedia menjadi capres di pemilu 2009</a>, kok sekarang ngomongnya lain lagi?. Apakah njenengan tidak khawatir dianggap plin-plan atau tidak konsisten oleh rakyat di republik ini?. Welgedewelbeh &#8230;<br />
<a href="http://mubarok-institute.blogspot.com/2006/11/psikologi-mimpi-4-mimpi-gus-dur.html" target="_blank">Para</a> <a href="http://www.ywibisono.com/index.php?page=menyimak-gus-dur-memberantas-korupsi-dengan-menaikkan-gaji" target="_blank">pengagum</a> dan orang-orang yang menghendaki Gusdur menjadi presiden pasti telah menyadari hal ini dan akan (mungkin sudah) menyiapkan seribu satu penjelasan akan sikap Gus yang satu ini. Begitu pula sebaliknya, para pembenci Gusdur, lawan politik ataupun orang yang sudah kadung sebel dengan segala tindak tanduk dan statemennya akan memakai fakta ini untuk mengecilkan beliau.</p>
<p>Posting ini tidak dibuat untuk menakar kekonsistenan Gusdur, ataupun menghakimi pilihan yang dibuatnya. Akan tetapi untuk mengajak kita semua merenungkan lebih dalam lagi makna konsistensi.</p>
<p>Bagi kelompok orang yang pertama, Gusdur itu adalah orang yang konsisten. Konsisten dalam menebarkan dan mengamalkan pluralisme dan kemanusiaan. Konsisten membela kaum tertindas, baik dari golongan mayoritas ataupun minoritas, tak peduli siapa yang ditindas (bahkan diri sendiri) dan siapa yang menindas, <a href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=11132" target="_blank">kawan sendiri</a> ataupun<a href="http://www.gusdur.net/indonesia/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1278&amp;Itemid=67" target="_blank"> lawan,</a> menaikkan popularitas ataupun menghancurkan reputasinya. Mereka akan berkata kalau <a href="http://www.gusdur.net/indonesia/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=2724&amp;Itemid=42" target="_blank">Gusdur itu konsisten di tujuan dan niat, caranya bisa jadi berbentuk macam-macam</a> termasuk berubah pernyataan dengan sangat cepat.</p>
<p>Bagi mereka, bisa jadi ketidak-konsisten-an Gusdur kali ini didasari oleh rasa prihatin yang luar biasa terhadap perkembangan terakhir ke arah mana bangsa ini akan dibawa.  Mulai dari merebaknya  <a href="http://www.gusdur.net/indonesia/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=2770&amp;Itemid=1" target="_blank"></a><a href="http://www.gusdur.net/indonesia/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=2770&amp;Itemid=1" target="_blank">kekerasan yang berlindung alasan klasik </a>kemurnian agama, sampai pada masalah serius seperti <a href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=10890" target="_blank">pelanggaran konstitusi</a> kebebasan berpendapat dan beragama, termasuk sikap <a href="http://www.eramuslim.com/berita/nas/7327170605-gus-dur-presiden-sby-takut-tekanan-george-w.-bush.htm?rel" target="_blank">penakutnya</a> presiden dalam hal ini. Arah pembangunan ekonomi yang lebih berpihak pada kapitalis besar dan <a href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=11192" target="_blank">disetir oleh kepentingan asing</a>. <a href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=11176" target="_blank">Melebarnya kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin</a> dan lain sebagainya. Semua isu penting tersebut &#8220;memaksa&#8221; Gusdur untuk mau ber susah-susah lagi (mau) menjadi calon presiden.</p>
<p>Kelompok pertama ini, juga akan menambahi bahwa <a href="http://islamlib.com/id/index.php?id=1144&amp;page=article" target="_blank">Gusdur itu bukan orang yang &#8220;pedulian&#8221;</a>. Pasti akan dikatakan kalau beliau itu nggak pernah mau peduli dikatakan nggak tahu diri, ngawur, kafir, sesat, apalagi cuman dikatakan plin plan dan nggak konsisten.  Atau kasarannya, yang penting menempatkan kepentingan dan arah bangsa padda rel yang benar nggak peduli mau jadi presiden atau tidak.</p>
<p>Bagi orang-orang yang memang sudah nggak demen Gusdur pasti akan bilang: &#8220;nah tuh kan apa gue bilang &#8230;. tambah satu lagi bukti<a href="http://www.indomedia.com/bernas/2000/05/UTAMA/05uta3.htm" target="_blank"> ke-mencla-mencle-an gusdur</a>&#8220;.  Dari sononya sudah <a href="http://www.gatra.com/2000-12-22/" target="_blank">nggak konsisten</a>, mau dipegang apanya omongan dia itu. Orang nggak konsisten macam ini kan berbahaya banget kalau mimpin negara, bisa anjrut-anjrutan negeri ini jadinya. (dan biasanya) Akan ditambah-tambahi pula dengan sederet <a href="http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/1/8/op2.htm" target="_blank">berbagai &#8220;prestasi&#8221; buruk</a> dan bukti-bukti lain <a href="http://www.tempointeraktif.com/harian/kolom/kom-22072000.html" target="_blank">keplin-plan-an</a> Gusdur semasa memimpin negeri ini di masa lalu.</p>
<p>Hmmmh &#8230; mengenai hal ini <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> jadi teringat sendiri akan posting <a href="http://mulut.wordpress.com/2007/11/24/susahnya-untuk-konsisten/" target="_blank">susahnya untuk konsisten</a> yang dibuat <font color="#ff00ff"><i><b>mulut</b></i></font> beberapa bulan yang lalu. Untungnya <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> hanyalah orang <strike>nggak penting</strike> biasa yang konsisten atau tidaknya diri tidak berpengaruh pada kehidupan orang banyak. Jadi ingat sepenggal kalimat yang <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>tulis di sana &#8230;</p>
<blockquote><p>Menurut <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font>, konsisten itu bagai pedang bermata dua, bisa ke arah positif dan sebaliknya bisa juga ke arah negatif. Sehingga sikap berhati-hati sangat penting untuk dipake sebagai pendamping sikap konsisten. Jangan sampai sikap <strike>tidak mau berubah</strike> konsisten kita itu malah menjadikan kita lebih buruk dan tidak meningkatkan kualitas kita sebagai manusia. Jangan karena kawatir dianggap tidak konsisten lalu kita takut berubah, padahal perubahan tersebut akan membawa kita kepada kebaikan, atau … kalau kita tidak berubah malah membawa kita pada keburukan.</p></blockquote>
<p>Nah apakah Gusdur memang manusia yang nggak mau terikat lagi dengan tanggapan-tanggapan publik mengenai segala pernyataan, keputusan dan tindak-tanduknya?, ataukah ini hanyalah tambahan bukti saja bahwa Gusdur memang tidak konsisten?.</p>
<p>Semua terserah anda yang menafsirkan kan &#8230;</p>
<p>Semoga saja, apapun yang terjadi pada negeri ini adalah yang terbaik yang memang berhak kita terima dari Yang Kuasa. Kalaupun kita memang belum berhak menerima yang terbaik semoga saja dimudahkan jalan kita untuk menjadi bangsa yang berhak itu. (*Mode maksa Tuhan : On <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ) he he he. Yang terbaik sajalah &#8230;. dan harus yang terbaik ya Tuhan yaa &#8230; yaa</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulut.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulut.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulut.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulut.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulut.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulut.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulut.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulut.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulut.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulut.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulut.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulut.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulut.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulut.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulut.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulut.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=51&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulut.wordpress.com/2008/01/13/gusdur-tidak-konsisten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3437fa6e10a2a7074749785b794c382?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Welgedewelbeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ternyata niat baik saja (dianggap) tidak cukup</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com/2008/01/08/ternyata-niat-baik-saja-dianggap-tidak-cukup/</link>
		<comments>http://mulut.wordpress.com/2008/01/08/ternyata-niat-baik-saja-dianggap-tidak-cukup/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 20:43:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percakapan ... mulut]]></category>
		<category><![CDATA[etika internet]]></category>
		<category><![CDATA[identitas]]></category>
		<category><![CDATA[identitas blogger]]></category>
		<category><![CDATA[integritas]]></category>
		<category><![CDATA[integritas blogger]]></category>
		<category><![CDATA[sastrawan internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulut.wordpress.com/2008/01/08/ternyata-niat-baik-saja-dianggap-tidak-cukup/</guid>
		<description><![CDATA[welgedewelbeh &#160; &#160; Beberapa waktu yang lalu, mulut terlibat dalam sebuah diskusi yang cukup asyik dengan saudara Wibisono Sastrodiwiryo di blog budayawan muda miliknya. Gara-garanya adalah komentar mulut di postingan Isyarat Pak Harto di mana mulut menyatakan tidak menyetujui beberapa poin dari isi postingan tersebut.Komen pertama mulut ditanggapi dengan baik oleh sang empunya blog, meski [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=52&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i><b><font color="#ff00ff">welgedewelbeh</font></b></i></p>
<table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="465">
<tr>
<td colspan="3" style="background-image:url('http://www.snapdrive.net/files/462494/night/night_r1_c1.png');background-repeat:no-repeat;width:447px;height:55px;">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td style="background-image:url('http://www.snapdrive.net/files/462494/night/night_r2_c1.png');width:5px;">&nbsp;</td>
<td style="background-image:url('http://www.snapdrive.net/files/462494/night/night_r2_c2.png');width:437px;"><font color="#ccffff">Beberapa waktu yang lalu,</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> <font color="#ccffff">terlibat dalam sebuah diskusi yang cukup asyik dengan saudara <span class="comment_author"></span>Wibisono Sastrodiwiryo di blog <a href="http://dendemang.wordpress.com/" target="_blank">budayawan muda</a> </font><font color="#ccffff">miliknya. Gara-garanya adalah komentar</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font><font color="#ccffff">di postingan</font> <font color="#ccffff"><a href="http://dendemang.wordpress.com/2008/01/05/isyarat-pak-harto/" target="_blank">Isyarat Pak Harto</a> </font><font color="#ccffff">di mana</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> <font color="#ccffff">menyatakan tidak menyetujui beberapa poin dari isi postingan tersebut.</font><font color="#ccffff"><a href="http://dendemang.wordpress.com/2008/01/05/isyarat-pak-harto/#comment-1257" target="_blank">Komen pertama</a> mulut <a href="http://dendemang.wordpress.com/2008/01/05/isyarat-pak-harto/#comment-1258" target="_blank">ditanggapi</a> dengan baik oleh sang empunya blog, meski sempat dikira kurang jeli membaca artikelnya.</font><font color="#ccffff">Dengan semangat berdiskusi yang hangat</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> <font color="#ccffff">melanjutkan mengajukan beberapa tang</font><font color="#ccffff">gapan dan meyakinkan bahwa mulut sudah cukup teliti di</font> <font color="#ccffff"><a href="http://dendemang.wordpress.com/2008/01/05/isyarat-pak-harto/#comment-1261" target="_blank">komen ke dua</a>.</font><font color="#ccffff"></font><font color="#ccffff">Yang</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> <font color="#ccffff">nyesel adalah di komen ke-dua tersebut,</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> <font color="#ccffff">pake ngajak bercanda penulis dengan mengatakan bahwa mungkin malah dia yang kurang teliti, juga bahwa posting itu bukanlah Isyarat Pak Harto melainkan isyarat kalau si penulis adalah orang yang ngefans Amin Rais.</font><font color="#ccffff">Nah mungkin gara-gara </font><font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> <font color="#ccffff">tetep bersikukuh pada pendapat semula dan karena guyonan tersebut, akhirnya mulut mendapat</font> <a href="http://dendemang.wordpress.com/2008/01/05/isyarat-pak-harto/#comment-1264" target="_blank">komen balik</a> <font color="#ccffff">yang beberapa poinnya cukup pedas. Puncaknya adalah ketika </font><b><font color="#ccffff">identitas</font> <font color="#ff00ff"><i>mulut </i></font></b><font color="#ccffff">mulai dipertanyakan dan dipermasalahkan. Dikatakannya bahwa diskusi tanpa identitas adalah jauh dari apa yang namanya bertanggung jawab. Bagi dia identitas adalah elemen yang penting dalam berdiskusi. Bahkan secara tersirat <i>hidden identity</i> yang dipilih holeh</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font><font color="#ccffff">seperti dijelaskan dalam <a href="http://mulut.wordpress.com/disclaimer/" target="_blank">disclaimer</a> kami dianggap tidak mencerminkan sebuah kredibilitas yang tinggi.<br />
</font><br />
<font color="#ccffff">Satu hal yang janggal dalam komen balik kedua ini adalah, sikap defensif yang luar biasa yang ditunjukkan oleh kawan potensial yang mengaku sebagai budayawan muda ini. Seperti diambilnya</font> <a href="http://mulut.wordpress.com/2007/11/10/pks-muhhamadiyah-nu-jamaah-islamiyah-aliran-tersesat/" target="_blank">posting pertama mulut</a> <font color="#ccffff">sebagai dalih bahwa</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> <font color="#ccffff">tidak bisa memahami jalan pikiran Amin Rais. Padahal jelas-jelas (kalau mau baca dengan teliti posting tersebut &#8212; bukan judulnya saja), maka akan jelas bahwa tujuan postingan tersebut adalah untuk mengajak kita semua berempati, dan nggak gampang menyesatkan kelompok lain.</font><font color="#ccffff">Sepertinya kok kawan kita yang satu ini mencari-cari segala <b>kelemahan personal</b> mulut untuk tidak terus fokus menanggapi topik yang</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font><font color="#ccffff">diskusikan, yaitu soal Amin Rais dan reformasi. Mungkin inilah yang disebut para politisi ataupun aktivis sebagai pembunuhan karakter. Komen balik kedua tersebut diakhiri dengan menyebut disclaimer mulut sebagai sebuah pernyataan yang kontradiktif. Dalam bahasa dia sendiri, dia menyatakan </font><i><font color="#ccffff">&#8220;Niat baik tanpa identitas? Bagaimana mempertanggung jawabkannya? Tapi itu urusan anda. Sebagus apapun pikiran dan gagasan anda tak bisa dipertanggung jawabkan.&#8221;</font> </i></p>
<p><font color="#ccffff">Mengabaikan seluruh serangan dan ke OOT-an bahasan,</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> <font color="#ccffff">terus melanjutkan diskusi dengan penuh prasangka baik, harapan dan rasa tanggung jawab, setidaknya demikianlah suasana hati</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font><font color="#ccffff">menurut </font><font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font><font color="#ccffff">sendiri. Coba saja lihat <a href="http://dendemang.wordpress.com/2008/01/05/isyarat-pak-harto/#comment-1275" target="_blank">komen terakhir</a></font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font><font color="#ccffff">dalam diskusi tersebut. Dimulai dengan permintaan maaf, mengatur segala kata dengan kontrol sopan santun dan adab ketimuran yang mulut yakini merupakan nilai yang adiluhung. Tidak ada satupun &#8220;serangan&#8221; di komen balik kedua yang</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font><font color="#ccffff">tanggapi dengan &#8220;serangan&#8221; balik lagi karena</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font><font color="#ccffff">nggak ada waktu untuk debat kusir.</font></p>
<p><font color="#ccffff">Tapi apa daya, harapan tinggal harapan. Dengan hati yang hancur akhirnya <a href="http://dendemang.wordpress.com/2008/01/05/isyarat-pak-harto/#comment-1280" target="_blank">tanggapan balik ketiga</a> atas komen ketiga</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font><font color="#ccffff">harus </font><font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> <font color="#ccffff">terima. Beberapa link berita memang masih diberikan untuk membahas topik diskusi, selebihnya .. sebagian besar adalah kelanjutan serangan kepada karakter</font> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font><font color="#ccffff">. Tidak perlu rasanya mulut kupas satu persatu apa serangan balik yang mulut terima di komen <a href="http://dendemang.wordpress.com/2008/01/05/isyarat-pak-harto/#comment-1280" target="_blank">balik tersebut</a> toh semua blogger bisa menilai sendiri dari komen balik tersebut. Yang lebih menyedikan adalah niat baik <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> untuk minta maaf ditanggapi dingin dengan berkata :</font></p>
<p><i><font color="#ccffff">&#8220;Permohonan maaf andapun sulit saya tanggapi karena siapa yang harus saya maafkan? anda bukan siapa siapa.&#8221;</font></i></p>
<p><font color="#ccffff"><font color="#ff00ff"><b><i>Mulut </i></b></font>tidak hendak melanjutkan diskusi di sana toh dia sendiripun telah menyatakan enggan untuk berdiskusi secara lebih jauh dengan mulut dengan mengatakan :</font></p>
<p><font color="#ccffff"><i>&#8220;BTW: Saya males membahas masalah anda ini, membuat postingan saya jadi tidak fokus.&#8221;</i> </font></p>
<p><font color="#ccffff">Baiklah,  <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> pun tidak melihat ada niat yang baik dari saudara </font><span class="comment_author"></span><font color="#ccffff">Wibisono Sastrodiwiryo</font> <font color="#ccffff">dalam menan</font><font color="#ccffff">ggapi maksud baik <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font>. Semoga saja, itu tidak menjadi bunuh diri intelektual kawan kita yang satu ini.<br />
</font></td>
<td style="background-image:url('http://www.snapdrive.net/files/462494/night/night_r2_c3.png');width:5px;">&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3"><img src="http://www.snapdrive.net/files/462494/night/night_r3_c1.png" style="border:medium none;margin:0;padding:0;" border="0" height="17" width="470" /></td>
</tr>
</table>
<p>Get more frame on <a href="http://blogframes.wordpress.com" target="_blank">BlogFrames</a></p>
<p>Semua diskusi di atas adalah background dari posting <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> kali ini. Diulas terlebih dahulu dengan bahasan yang dicoba diutarakan seobyektif mungkin agar para pembaca paham latar belakang tulisan ini. Masalah hidden identity dari seorang blogger seperti yang mulut pilih dan kredibilitasnya di blogosphere Indonesia penting untuk diangkat di sini, karena ini menyangkut hajat hidup banyak blogger. Benarkah hidden identity = tidak bertanggung jawab = tidak memiliki kredibilitas?. Simak saja deh ulasan <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>berikut ini yang sebagiannya diambil dan dimodifikasi dari <a href="http://dendemang.wordpress.com/2008/01/05/isyarat-pak-harto/#comment-1275">komentar ke-tiga</a> <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> di artikel yang bersangkutan.</p>
<p>Semoga saja, ulasan ini bisa menjadi pelajaran yang berharga buat kita semua para blogger Indonesia. Harapan <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> ke depan, masalah ini tidak perlu terlalu diributkan lagi dan marilah membangun negeri ini dalam kerangka rukun blogger dan niat yang baik. Bagi <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font>, terlalu sayang energi dan waktu dibuang-buang hanya untuk meributkan hal yang tidak terlalu penting semacam ini. Akan tetapi, tentunya semua terserah anda &#8230;. andapun <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>undang untuk unjuk pendapat dalam masalah ini di forum komentar dari artikel ini.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-&gt;</p>
<p>Menulis tanpa identitas, bukanlah hal baru di dunia ini. Dunia sastra kita pun pernah mengalami fase dimana para penulisnya adalah anonim. Pilihan ini tidak membuat mereka dikatakan sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, bahkan beberapa diantaranya adalah karya sastra yang luar biasa dan mendapat apresiasi yang tinggi. Tanggapan saudara <font color="#000000">Wibisono Sastrodiwiryo terhadap hal ini dengan mengatakan bahwa mereka tidaklah anonim akan tetapi memiliki nama alias sebenarnya sudah terjawab dari awwalnya. Bukankah &#8220;<font color="#ff00ff"><b>mulut</b></font>&#8220;<b> </b>juga merupakan sebuah nama alias juga?. Penggunaan nama alias semacam ini tentu saja didasari oleh sebuah pemikiran dan tujuan tertentu, dalam hal ini telah dijelaskan semua dalam <a href="http://mulut.wordpress.com/disclaimer/" target="_blank">disclaimer</a> blog <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font>. </font></p>
<p>Bahkan kalau kita ikut mengalir bersama zaman, dan aware dengan aliran jaman tersebut. Maka dunia intelektualisme bentuk baru tidaklah harus beridentitas. Ya … dunia maya Internet memaksa kita untuk memaknai ulang makna eksistensi manusia dan identitas kemanusiaan. Dalam bahasa pak <a href="http://lallement.com/discus/messages/3/5.html?1190790746" target="_blank">Ribut Wiyoto</a><i> “internet dapat mewujudkan gagasan kebudayaan post-Filosofi”</i>.  <i>&#8220;Sebuah karya sastra cerdas&#8221;</i> yang bergerak dari satu pemikiran filsuf besar ke filsuf besar lainnya tanpa sungkan, sambil tidak segan memunculkan pemikiran sendiri secara kritis. Mengajukan <i>&#8220;deskripsi, sistem simbol dan cara pandang&#8221;</i>  yang lain.</p>
<p>Lebih Jauh lagi, dengan adanya internet, beliau mengatakan <i>“telah terjadi perubahan konsepsi kemanusiaan”</i> itu sendiri. Kasarannya <i>“di internet, tidak ada yang tahu kalau Anda berwujud anjing”</i> he he he. bener nggak?. Kalau kita mau jujur siapa yang bisa jamin kebenaran identitas seseorang di Internet?. Terlalu banyak kasus blog yang menggunakan identitas yang seakan-akan benar, dilengkapi dengan foto, dan nomor telepon de el el segala padahal itu palsu. Siapa yang tahu kalau <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b> </font>ini ternyata Amin Rais atau kang Jalal atau bahkan SBY sendiri he he he.</p>
<p>Pertanggung jawaban dan integritas secara intelektual di internet itu tercermin dari apa yang disampaikan dan kemauan yang bersangkutan untuk berkomunikasi. Sejauh anda bisa dihubungi, memiliki email address, tidak menutup komen dan berkata dengan bertanggung jawab maka itulah inti sikap bertanggung jawab secara intelektual di internet. Lebih jauh lagi secara moral … pertanggung jawaban itu sejatinya kepada Tuhannya sendiri-sendiri.</p>
<p>Cara berfikir tentang tanggung jawab intelektualitas yang sekan wajib beridentitas mirip dengan bangsa barat, dimana sekarang <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> sedang menimba ilmu. Di dunia barat dibiasakan bersikap kritis, sayangnya sikap kritis itu terlalu berat dimaknai sebagai “lihatlah siapa yang berbicara”. Jika ada seseorang membaca sebuah jurnal, maka <i>initial assessment</i> dari jurnal tersebut adalah siapa penulis jurnal itu, jurnal apa yang memuat, berapa banyak jurnal lain yang dia hasilkan, dari lembaga mana penulis itu berasal. Semua yang disebutkan <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>di atas digunakan sebagai judgment awal penentu layak tidaknya sebuah jurnal untuk dilihat lebih lanjut. Inilah budaya <i>popularity based </i>yang memang merupakan salah satu fundamen bangunan sosial bangsa barat.</p>
<p>Sikap kritis demikian tentu boleh-boleh saja diadopsi, akan tetapi kalau digunakan sebagai satu-satunya dasar judgment … maka kita akan rugi sendiri. Ibaratnya … bagaimana jika ada mutiara di dalam lumpur dasar laut yang kotor. Sikap kritis semacam itu hendaknya membantu kita melihat sebuah opini atau karya intelektual secara lebih komprehensif itu saja.</p>
<p>Secara idealita, bangsa kita sebenarnya memiliki cara pandang yang lebih mulia akan obyektifitas intelektual. Telah sering diajarkan pada kita untuk melihat apa yang diucapkan dan bukan siapa yang mengucapkan. Itulah sebenarnya yang menjadi landasan filosofi blog <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font>. Mendidik diri sendiri untuk menerima kebenaran secara apa adanya, yang bisa datang dari siapa saja dan dari mana saja.</p>
<p>Mengenai integritas seseorang terkait dengan jelasnya identitas orang tersebut sebagaimana saudara Wibisono Satrodiwiryo rujukkan ke tulisan <a href="http://afatih.wordpress.com/2005/05/02/apa-itu-kredibilitas/" target="_blank">Fatih Syuhud</a>.  Bagi mulut tulisan itu bahkan memperkuat argumen yang diajukan <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>tentang identitas itu sendiri. Tidak ada di sana keharusan bahwa untuk ber-integritas seseorang harus memiliki identitas yang jelas, yang ada adalah kepribadian yang jelas, kepribadian yang selaras antara ucapan dan tindakannya.</p>
<p>Bahkan pandangan yang lebih fundamental soal identitas ini secara indah dikutip oleh <span class="small"><a href="http://www.puisi.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=263&amp;Itemid=43" target="_blank">Alex R. Nainggolan</a> dari pemikiran </span>Goenawan Mohammad, bahwa para sastrawan <i>&#8220;harus menyerahkan diri mereka sebagai “<b>orang tanpa identitas</b>”—dengan mengutamakan prinsip humanisme universal, sehingga memandang sesuatu persoalan dengan lengkap&#8221;</i>. Sekali lagi identitas <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> adalah tersirat dari buah-buah pikiran yang mulut hasilkan itu sendiri, silahkan saja semua orang mengkonstruk image identitas <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> berdasarkan persepsinya massing-masing. Toh meminta orang lain untuk mengakui diri sendiri sebagai orang yang anu atau orang yang ini juga merupakan tindakan yang sia-sia.</p>
<p>Penerapan konsepsi validitas pendapat dan perkataan seseorang terkait dengan integritas pribadi orang tersebut yang <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>diskusikan di sini tentu saja tidak bisa kita terapkan secara semena-mena dalam kasus menimbang sanad (ketersambungan hadits dari pengucap terakhir kepada rasulullah) dari sebuah hadits. Hadits adalah salah satu sumber hukum Islam, dimana kedudukannya adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur&#8217;an. Tentu saja kita harus berhati-hati mengambil perkataan Nabi kita dari orang yang tidak terpercaya. Sedangkan kita ini hanyalah manusia biasa, ucapan dan pendapat kita hanyalah satu dari sekian juta pendapat yang bertebaran di atas bumi. Tidak ada yang akan menjadikannya sebagai pegangan hidup yang bersifat eternal, jadi karenanya logika tersebut menjadi absurd di sini.</p>
<p>Hati-hatilah kita semua karena yang disebut-sebut orang sebagai intelektualisme dan sikap kritis itu dapat membuat kita mencerabut diri sebagian akar tradisi bangsa kita yang adi luhur. Membuat kita pongah dan berlari menjauh dari apa yang kita sebut dengan budaya yang santun,  sikap yang saling menghormati dan budi pekerti yang tinggi.</p>
<p>Terakhir, soal niat/berbuat baik tanpa identitas (terutama dalam konteks sosial). Jika saudara seorang muslim, bukankah hal demikian (dalam hal-hal tertentu) malah dianjurkan?. Ingat nggak ungkapan berikut : “kalau bisa tangan kirimu tidak tahu ketika tangan kananmu bersedekah”. Oleh karena itulah banyak sekali kitab luar biasa dalam khasanah Islam klasik (turats &#8212; bukan kitab Taurat lho) ada banyak kitab yang pengarangnya (mushonnif &#8212; bahasa arab dari pengarang) hanya menyebut dirinya sebagai hamba Allah ataupun sebagai <i>mushonnif</i> saja.</p>
<p>Nah bagaimana pendapat anda semua, para blogger Indonesia, mengenai hal ini?. Pendapatnya kami tunggu di sini. Semoga diskkusi ini membawa manfaat bagi <font color="#ff00ff"><i><b>mulut</b></i></font>, saudara Wibisono Sastrodiwiryo serta seluruh anak bangsa Indonesia.</p>
<p>Jayalah Indonesiaku, Jayalah Bangsaku.</p>
<p>Artikel terkait :</p>
<ol>
<li><a href="http://fatihsyuhud.com/2007/08/29/scientific-and-credible-blogger/" target="_blank">Scientific and Credible Blogger</a></li>
<li><a href="http://fatihsyuhud.com/2007/08/29/anonymity-and-credibility/" target="_blank">Anonymity and credibility</a></li>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulut.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulut.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulut.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulut.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulut.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulut.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulut.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulut.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulut.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulut.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulut.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulut.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulut.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulut.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulut.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulut.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=52&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulut.wordpress.com/2008/01/08/ternyata-niat-baik-saja-dianggap-tidak-cukup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3437fa6e10a2a7074749785b794c382?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Welgedewelbeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.snapdrive.net/files/462494/night/night_r3_c1.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Napas-napas kemerdekaan bangsa di Bulan Desember</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com/2007/12/28/napas-napas-kemerdekaan-bangsa-di-bulan-desember/</link>
		<comments>http://mulut.wordpress.com/2007/12/28/napas-napas-kemerdekaan-bangsa-di-bulan-desember/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 01:58:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mulut Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Hari bela Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Makna Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulut.wordpress.com/2007/12/28/napas-napas-kemerdekaan-bangsa-di-bulan-desember/</guid>
		<description><![CDATA[welgedewelbeh Di bulan Desember ini paling tidak terdapat tiga hari Nasional yang luar biasa maknanya akan tetapi tidak banyak yang menyadari dan menganggapnya sebagai sekedar hari nasional biasa. Ketiga hari nasional yang mulut maksud adalah Hari Nusantara, Hari Bela Negara dan Hari Ibu. Yang pertama diperingati setiap tanggal 13 Desember, yang kedua diperingati setiap 19 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=50&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#ff00ff"><b><i>welgedewelbeh</i></b></font></p>
<p>Di bulan Desember ini paling tidak terdapat tiga hari Nasional yang luar biasa maknanya akan tetapi tidak banyak yang menyadari dan menganggapnya sebagai sekedar hari nasional biasa. Ketiga hari nasional yang <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>maksud adalah <b>Hari Nusantara</b>, <b>Hari Bela Negara</b> dan <b>Hari Ibu</b>. Yang pertama diperingati setiap tanggal 13 Desember, yang kedua diperingati setiap 19 Desember sedangkan yang terakhir disebut diperingati setiap tanggal 22 Desember.</p>
<p>Mengapa ketiga hari tersebut <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>katakan memiliki makna yang istimewa?, tentu saja karena ketiga hari tersebut dipilih untuk memperingati tiga momen luar biasa dalam sejarah perjalanan bangsa kita. Tiga momentum sejarah yang atasnya kita seharusnya berbangga dan sekaligus malu sebagai generasi muda Indonesia tahun 2000-an. Lho kok bangga dan malu, apa nggak merupakan suatu paradox? OK deh untuk mendapat jawabannya silahkan simak penjelasan <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>berikut ini :<span id="more-50"></span></p>
<p><b>1. Hari Nusantara (13 Desember)</b></p>
<p><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/2/2f/Djuanda%283%29.jpg/180px-Djuanda%283%29.jpg" alt="Ir. H. Djuanda Kartawidjaya" align="left" height="216" width="164" />Tanggal 13 Desember diperingati untuk mengenang <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Djuanda" target="_blank">deklarasi Juanda</a>.  Sebuah deklarasi fenomenal dalam sejarah bangsa kita yang dikumandangkan oleh perdana menteri kita <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Djuanda_Kartawidjaja" target="_blank">Ir. H Djuanda Kartawijaya</a> pada tahun 1957. Deklarasi tersebut  merupakan titik tolak  penegasan bahwa wilayah kedaulatan hukum Republik Indonesia adalah meliputi seluruh darat dan laut diseluruh kepulauan Nusantara yang meliputi laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.</p>
<p>Deklarasi tersebut sekaligus juga menolak pengakuan dunia Internasional bahwa wilayah kedaulatan Republik Indonesia hanya sebatas wilayah daratan plus 3 mil laut dari garis pantai masing-masing pulau sehingga kapal asing boleh berlayar secara bebas di luar wilayah tersebut. Dengan deklarasi tersebut wilayah negara kita meluas menjadi dua setengah kali lipat (5.193.250 km²) dari luas wilayah sebelumnya yang hanya 2.027.087 km². Ia juga membuat negara kita menjadi negara kepulauan terbesar di dunia  salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fakta_geografi_dunia" target="_blank">wikipedia</a>).</p>
<p>Meskipun telah dideklarasikan sejak tahun 1957, akan tetapi pengakuan internasional akan konsep <a href="http://www.oceanlaw.net/texts/losc4.htm" target="_blank">negara kepulauan</a> Indonesia tidaklah didapat dengan mudah. Baru tahun 1982 deklarasi ini <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1982" title="1982"></a>akhirnya dapat diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/PBB" title="PBB">PBB</a> ke-III Tahun 1982 (<i>United Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982</i>).</p>
<p>Sayangnya meskipun telah mendapat pengakuan internasional atas kesatuan wilayah laut, darat dan udara bangsa kita, namun bangsa ini belum mampu mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari hal ini. Malahan <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0605/03/0803.htm" target="_blank">orientasi kebijakan pembangunan nasional</a> bangsa kita lebih menekankan pada pembangunan daratan daripada kelautan. Hal ini bisa dilihat dari tidak adanya departemen khusus yang menangani kelautan selama 54 tahun setelah kemerdekaan, baru pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999) wawasan nusantara dicoba untuk diwujudkan secara nyata dengan dibentuknya <a href="http://www.dkp.go.id/category.php?c=95" target="_blank">Departemen Kelautan dan Perikanan</a>. Indikator lainnya adalah dipilihnya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Panglima_TNI" target="_blank">panglima TNI</a> yang didominasi unsur angkatan darat sejak tahun 1973.</p>
<p>Akibatnya <a href="http://cdc.eng.ui.ac.id/article/articleview/2437/1/2/" target="_blank">potensi kelautan</a> kita tidak termanfaatkan dengan baik. Mulai dari <a href="http://www.geocities.com/minangbahari/artikel/nasibnelayan.html" target="_blank">termarginalkannya masyarakat nelayan</a> kita (<a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0303/10/0106.htm" target="_blank">baca juga di sini</a>),  perbandingan tenaga kerja  sektor kelautan-daratan yang  sangat timpang,  <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0303/10/0106.htm" target="_blank">pencurian ikan</a> oleh kapal-kapal asing, <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/03/0802.htm" target="_blank">rendahnya teknologi kelautan kita</a>, <a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0505/28/Fokus/1777450.htm" target="_blank">rusaknya habitat laut</a> (baca juga di <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/012006/19/0310.htm" target="_blank">sini</a>) dan <a href="http://www.geocities.com/minangbahari/artikel/ukuran_kerugian.html" target="_blank">terumbu karang</a> dan lain sebagainya. Padalah kalau kita mampu memanfaatkan laut kita secara maksimal <a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0307/30/daerah/457166.htm" target="_blank">kita bisa kaya</a> dan <a href="http://www.suarapembaruan.com/News/2004/09/07/Editor/edit02.htm" target="_blank">masalah pengangguran bisa mendapatkan jalan keluarnya</a>.</p>
<p>Belum lagi secara kultural bangsa kita telah mulai terbiasa menjadi bangsa daratan. Bahkan beberapa suku bangsa kita yang kental dengan tradisi laut seperti suku Bugis-Makasar, Maluku, Madura dan lain sebagainya perlahan-lahan mulai terkikis nilai-nilai kebahariannya;  Anak-anak mudanya mulai tidak tertarik pada dunia laut ataupun menjadi nelayan (baca di <a href="http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/spirit-bahari-yang-telah-pergi/" target="_blank">sini</a> atau di <a href="http://www.dkp.go.id/content.php?c=949" target="_blank">sini</a>). Padahal kalau kita mau menengok jejak-jejak sejarah bangsa kita, semua kerajaan besar bangsa kita berciri sebagai kerajaan maritim (baca di <a href="http://www.mail-archive.com/cikeas@yahoogroups.com/msg06276.html" target="_blank">sini</a>). Juga lihatlah sejarah bangsa-bangsa besar di masa lalu dimana armada laut memainkan peranan kunci untuk kemajuan bangsanya.</p>
<p>Lebih jauh lagi, saat ini lagu &#8220;<a href="http://voicekids.blogspot.com/2006/07/pelaut.html" target="_blank">Nenek moyangku seorang pelaut</a>&#8221; mulai diposisikan sebagai lagu anak-anak belaka, semangat keunggulan bangsa dari lagu tersebut sudah mulai dilupakan, bahkan nilai-nilai kebesaran bangsa pelaut sudah banyak yang tidak mengerti (baca di <a href="http://3kh4.wordpress.com/2007/08/03/nenek-moyangku-seorang-pelaut/" target="_blank">sini</a>). Yang berkembang malah opini bahwa <a href="http://tumoutou.net/702_07134/henny_pagoray.htm" target="_blank">laut adalah tempat sampah</a>, dan menguatnya istilah &#8220;kelaut aje&#8221; seakan-akan laut adalah tempat dari segala sesuatu yang buruk dan nggak keren.</p>
<p>Nah bagaimana bisa menjadi negara maritim yang besar dan disegani oleh negara lain kalau kebijakan kita tidak menuju arah yang semestinya?. Bagaimana bisa memanfaatkan laut untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat kalau teknologi kelautan kita tidak dibangun dengan sungguh-sungguh?. Bagaimana kita bisa melindungi kekayaan laut kita kalau armada penjaga laut kita terdiri dari kapal-kapal bekas yang selalu kalah cepat dari kapal para pencuri ikan kita?. Nampaknya pemimpin bangsa ini masih lebih mengindahkan kepentingan kelompoknya dengan mengorbankan kepentingan bangsa yang lebih besar (renungkan ketimpangan tampuk kekuasaan TNI yang 90% dipegang oleh angkatan darat).</p>
<p><a href="http://www.sarwono.net/analisispol.php?id=24" target="_blank">Terlepas dari visi maritim bangsa kita dan segala permasalahannya</a>, yang menarik dari fragmen sejarah deklarasi Juanda ini adalah perjuangan dan kepeloporan bangsa Indonesia dalam mengajukan konsep negara kepulauan. Demi kepentingan nasional, pantang menyerah bangsa kita memperjuangkan konsep ini hingga menjadi konvensi internasional. Sebuah warisan bagi anak cucu bangsa Indonesia yang tak terkira nilainya. Meskipun pada awalnya ditentang oleh bangsa-bangsa besar dunia (tentu saja mereka keberatan karena kepentingan nasional mereka dirugikan), bangsa kita (sekali lagi) kukuh menunjukkan <b>KEMERDEKAAN</b>-nya sebagai sebuah bangsa, tidak takut akan tekanan ekonomi ataupun politik dari negara-negara neo imperalisme moderen. Sekali lagi ini adalah salah satu napas kemerdekaan bangsa kita di bulan Desember.</p>
<p><b>2. Hari Bela Negara (19 Desember)</b></p>
<p><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/0/0d/Sjafrudin_prawiranegara.jpg/180px-Sjafrudin_prawiranegara.jpg" alt="Mr. Sjafrudin Prawiranegara" align="left" height="221" width="169" />Pencanangan 19 Desember sebagai <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Bela_Negara" target="_blank">hari bela negara</a> memang <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/12/18/brk,20061218-89689,id.html" target="_blank">relatif masih baru</a>, yaitu semenjak tahun 2006 yang lalu oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Akan tetapi maknanya juga tak kalah luar biasanya dibanding dengan makna hari Nusantara.</p>
<p>Hari bela negara dicanangkan untuk memperingati pembentukan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintahan_Darurat_Republik_Indonesia">Pemerintahan Darurat Republik Indonesia</a> di Bukit Tinggi, Sumatera Barat karena pimpinan negara (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno" target="_blank">Sukarno</a>-<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Hatta" target="_blank">Hatta</a>-<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutan_Syahrir">Syahrir</a>) ditawan dan dibui setelah  agresi militer Belanda  ke-2 tahun 1948. Kewenangan untuk memaklumkan eksistensi republik yang baru berdiri tersebut dilimpahkan kepada <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syafruddin_Prawiranegara" target="_blank">Mr. Syafruddin Prawiranegara</a> bersama Kol. Hidayat, Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera.</p>
<p>Peristiwa ini penting sekali untuk diresapi maknanya karena ia membuktikan keuletan bangsa Indonesia, sikap pantang menyerah dan pewujudan Republik Indonesia bangsa merdeka meskipun ditekan dan diserang oleh kekuatan-kekuatan besar dunia. Peristiwa ini juga menunjukkan semangat bahwa prioritas nomor satu adalah kepentingan bangsa dan negara bukan kepentingan golongan. Hal ini bisa dilihat dari latar belakang partai <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syafruddin_Prawiranegara" target="_blank">Mr. Syafruddin Prawiranegara</a> yang berasal dari partai Masyumi, bukan dari PNI yang merupakan partainya Presiden Sukarno ataupun dari Partai Sosialis Indonesia yang merupakan partai PM Syahrir.  Beliau juga bukan berasal dari Sumatera yang merupakan daerah Bung Hatta.</p>
<p>Karena peristiwa ini, Belanda tidak bisa membuktikan kalau Republik Indonesia telah bubar dan kemudian harus mengambil jalan diplomasi dengan PDRI yang dipimpin Mr. Syafruddin Prawiranegara tersebut. Sekali lagi ini adalah salah satu napas kemerdekaan bangsa kita yang lain.<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syafruddin_Prawiranegara" target="_blank"><br />
</a></p>
<p><b>3. Hari Ibu (22 Desember)</b></p>
<p>Momentum luar biasa ketiga di bulan Desember ini adalah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_ibu" target="_blank">hari Ibu</a>. Momentum hari ibu bagi bangsa kita ini sangat luar biasa karena ia memiliki akar sejarah yang sekali lagi menunjukkan jati diri sebuah bangsa yang <b>merdeka jiwa raga</b> (red: pada saat itu). Hari ibu ditetapkan untuk memperingati Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928 atau sekitar dua bulan setelah Sumpah Pemuda.</p>
<p>Fakta bahwa tanggal hari ibu bangsa Indonesia yang berbeda dengan <i><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_ibu#Mother.27s_day" target="_blank">mother&#8217;s day</a></i> sebagian besar bangsa-bangsa lain yang membebek hari ibu <a href="http://www.voanews.com/indonesian/archive/2003-05/a-2003-05-13-17-1.cfm" target="_blank">Amerika Serikat maupun Eropa</a> adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat disangkal. Apalagi <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/31/swara/1527829.htm" target="_blank">spirit</a> perayaan hari ibu bangsa kita yang tidak sama dengan perayaan hari ibu bangsa-bangsa lain tersebut menunjukkan kemandirian jati diri bangsa kita yang luar biasa. Kalau perayaan hari ibu di Amerika, Eropa dan sebagian nagara-negara Timur Tengah berakar sejarah pada pemujaan Rhea sebagai ibu para Dewa Yunani, maka hari Ibu kita mewakili kemandirian jati diri bangsa yang merdeka. Tidak serta merta membebek pada propaganda ideologis yang dilancarkan Amerika dan bangsa Barat lain yang diturut saja oleh bangsa-bangsa lain seperti Turki, Australia, Jepang, Italia, Jerman termasuk juga Singapura dan Malaysia dan lain sebagainya.</p>
<p>Kalau hari ibu di negara-negara tersebut berspirit ungkapan terima kasih atas pengorbanan kaum ibu di sektor domestik, maka hari ibu bangsa kita bertitik tolak pada perjuangan kaum ibu untuk  turut serta membangun dan memerjuangkan kemerdekaan bangsanya. Tercatat berbagai rekomendasi strategis pemberdayaan perempuan telah ditelurkan dari kongres bersejarah tersebut seperti penolakan terhadap perkawinan paksa dan perkawinan di usia anak-anak yang banyak merugikan perempuan, pengusulan beberapa butir pasal perceraian yang pro-perempuan, perjuangan tunjangan kesejahteraan bagi para janda dan anak yatim serta, pendirian sekolah-sekolah perempuan, akses pendidikan dan beasiswa. (baca di <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/31/swara/1527829.htm" target="_blank">sini </a>dan di <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1205/19/0803.htm" target="_blank">sini</a>) Mengenai ungkapan terimakasih terhadap kaum ibu, bangsa kita sudah terbiasa menghormati dan berterima kasih kepada para ibu.</p>
<p>Sekali lagi, yang perlu digaris bawahi di sini adalah kemandirian bangsa kita untuk menentukan identitasnya  sendiri berangkat dari  akar sejarah dan budayanya sendiri merupakan cerminan dari sikap bangsa yang <b>merdeka</b>. Partisipasi aktif <a href="http://kharisma.de/?q=node/9" target="_blank">pergerakan kaum perempuan</a> dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa ini yang menjadi spirit hari ibu bangsa kita merupakan satu lagi napas-napas kemerdekaan bangsa ini yang amat sangat layak kita banggakan.</p>
<address>==============================================================<br />
</address>
<p>Nah semua yang disampaikan <b><i><font color="#ff00ff">mulut </font></i></b>di atas adalah bukti-bukti bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki jati diri sebagai bangsa merdeka. Akan tetapi kecenderungan anak-anak muda kita yang mulai banyak berkiblat ke Amerika atau bangsa  lainnya, serta merasa malu dan minder sebagai bangsa Indonesia adalah hal lain yang patut disayangkan. Perasaan kerdil dan minder itu sendirilah sikap-sikap dimana kita seharusnya merasa malu.</p>
<address> </address>
<p>Terlalu banyak sudah para pengamat yang membicarakan negeri ini dengan nada mengecilkan, sudah tumpah ruah dokumen seminar yang hanya mampu menumbuhkan pesimisme anak bangsa, dan tak ada habisnya kata-kata berciri inferiority ditebarkan di sekeliling kita melalui koran, televisi maupun media masa lainnya termasuk juga blog. Padahal kalau kita mau menelusuri lorong-lorong sejarah, kita pasti akan malu untuk bermental demikian kepada generasi awal kemerdekaan, kepada generasi pra kemerdekaan (mereka yang merasakan sakit dan pedihnya dijajah), kepada diri kita sendiri, kepada generasi sesudah kita nanti, maupun kepada sejarah itu sendiri.</p>
<p>Bangsa kita sudah ditakdirkan menjadi bangsa besar, merdeka jiwa dan raga. Pertanyaannya adalah &#8230;.. apakah kita akan terus-menerus berkubang dalam kebodohan, perasaan rendah diri dan merasa inferior sebagai bangsa?. Kitalah yang harus menjawabnya &#8230;.. kitalah yang harus mewujudkannya.</p>
<p>Bangsa kita berhak dan bisa menjadi bangsa besar. <b>MERDEKA !!!</b></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulut.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulut.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulut.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulut.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulut.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulut.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulut.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulut.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulut.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulut.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulut.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulut.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulut.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulut.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulut.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulut.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=50&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulut.wordpress.com/2007/12/28/napas-napas-kemerdekaan-bangsa-di-bulan-desember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3437fa6e10a2a7074749785b794c382?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Welgedewelbeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/2/2f/Djuanda%283%29.jpg/180px-Djuanda%283%29.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ir. H. Djuanda Kartawidjaya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/0/0d/Sjafrudin_prawiranegara.jpg/180px-Sjafrudin_prawiranegara.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mr. Sjafrudin Prawiranegara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terharu</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com/2007/12/20/terharu/</link>
		<comments>http://mulut.wordpress.com/2007/12/20/terharu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 02:35:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percakapan ... mulut]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[niyat]]></category>
		<category><![CDATA[terharu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulut.wordpress.com/2007/12/20/terharu/</guid>
		<description><![CDATA[Welgedewelbeh Sudah hampir dua puluh hari mulut nggak bisa memulai menarikan jemari di atas kibot untuk meng-update blog. Setiap kali beberapa huruf diketikkan dan beberapa titik dititikkan langsung saja motivasi menulis buyar begitu saja. Terlalu banyak pikiran yang mengambang belum menemukan jalurnya untuk dituangkan, saling libat melibat dan masih sulit untuk bisa diuraikan menjadi rangkaian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=49&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#ff00ff"><i>Welgedewelbeh</i> </font></p>
<p>Sudah hampir dua puluh hari <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>nggak bisa memulai menarikan jemari di atas kibot untuk meng-update blog. Setiap kali beberapa huruf diketikkan dan beberapa titik dititikkan langsung saja motivasi menulis buyar begitu saja. Terlalu banyak pikiran yang mengambang belum menemukan jalurnya untuk dituangkan, saling libat melibat dan masih sulit untuk bisa diuraikan menjadi rangkaian makna. Terlalu banyak pergulatan motivasi ngeblog yang menghalangi jemari <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>untuk memainkan musik tik tak tik tak di atas kibot.</p>
<p>Bukannya <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>nggak punya ide,  akan tetapi ngupdate blog demi menjaga atau meningkatkan hit pembaca atau kasarnya memanage popularitas kayaknya tidak cukup kuat untuk menjadi niyat yang benar dalam ngeblog. Bagi <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>pribadi, niyat ngeblog yang baik kayaknya mudah terkotori oleh rasa takabur dan kekaburan motivasi oleh yang namanya popularitas.</p>
<p>Akan tetapi kayaknya pemikiran macam begini nggak boleh dipertahankan terlalu lama, toh juga berhenti ngeblog juga tidak membawa kemajuan pribadi dan peningkatan spiritual apa-apa. Kayaknya <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> ini <i>maqom</i>-nya masih manusia biasa yang selalu belepotan dosa, niyat yang masih berbelok-belok dan terlumuri nafsu-nafsu rendah yang sifatnya semu belaka. Kayaknya <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> ini harus selalu berusaha dan belajar dari sejarah hidup  setiap waktu.</p>
<p><span id="more-49"></span>Kata Dewa, &#8220;Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti&#8221;. Berhenti berbuat (termasuk ngeblog) sepertinya lebih dekat pada berhenti berjuang yang juga berkonsekuensi pada berhenti hidup, berhenti menjadi manusia. Perjuanganlah yang menjadikan kita hidup, sekaligus memenuhi takdir kita sebagai manusia.</p>
<p>Atas semua kesalahan <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font>, dan keruwetan pikiran <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>hanya kata maaf yang bisa <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>sampaikan. Mohon maaf buat semua pembaca blog ini yang telah sia-sia ngeklik dan melongok blog ini dan mendapatinya sekali lagi tanpa perubahan.</p>
<p>Hari ini, sehabis terharu mendengarkan khotbah idul adha yang luar biasa kembali lagi <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> terharu mendapati sebuah komen dari pak <a href="http://santribuntet.wordpress.com/">kurtubi</a> yang secara tersirat menanyakan mengapa mulut lama nggak update tulisan lagi. Apapun motivasi pak kurt, <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> hanya bisa menyampaikan penghargaan yang tinggi atas perhatiannya kepada <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font>. Sekali lagi <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>terharu pak, ternyata ngeblog selain mendapatkan kawan seperjalanan jiwa juga kadang serasa mendapat keluarga.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulut.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulut.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulut.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulut.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulut.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulut.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulut.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulut.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulut.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulut.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulut.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulut.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulut.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulut.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulut.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulut.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=49&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulut.wordpress.com/2007/12/20/terharu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3437fa6e10a2a7074749785b794c382?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Welgedewelbeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembodohan ala Pers Malaysia</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com/2007/11/30/pembodohan-ala-pers-malaysia/</link>
		<comments>http://mulut.wordpress.com/2007/11/30/pembodohan-ala-pers-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 12:10:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lidah api]]></category>
		<category><![CDATA[Mulutku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulut.wordpress.com/2007/11/30/pembodohan-ala-pers-malaysia/</guid>
		<description><![CDATA[: Momen tepat menggugat tanggung jawab Pemerintah kita Baru saja mulut menerima sebuah email yang melampirkan cuplikan berita dari kantor berita Malaysia (Bernama). Berita tentang aksi demo seniman reog dari kantor berita resmi Negeri tetangga tersebut sungguh &#8220;aneh&#8221; bin &#8220;ajaib&#8221;. Beberapa kali mulut membaca berita itu, dengan maksud ingin sungguh-sungguh memahami perasaan mereka, namun (dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=47&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>: Momen tepat menggugat tanggung jawab Pemerintah kita</b></p>
<p>Baru saja <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>menerima sebuah email yang melampirkan cuplikan berita dari kantor berita Malaysia (Bernama). Berita tentang aksi demo seniman reog dari kantor berita resmi Negeri tetangga tersebut sungguh <b>&#8220;aneh&#8221; </b>bin <b>&#8220;ajaib&#8221;</b>. Beberapa kali <font color="#ff00ff"><i><b>mulut </b></i></font>membaca berita itu, dengan maksud ingin sungguh-sungguh memahami perasaan mereka, namun (dengan sangat menyesal) berulang kali pula <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>ngggak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.</p>
<p>Coba deh baca sendiri cuplikan berita tersebut seperti ini :</p>
<blockquote><p><b><font color="#ff0000">Duta Besar Malaysia ke Indonesia Datuk Zainal Abidin Mohamed Zain <u>memerlukan hanya tiga minit untuk menyuraikan demonstrasi anti-Malaysia</u></font></b>, yang sebelum itu berkobar-kobar dan kononnya akan berlangsung satu tindakan nekad di hadapan kedutaan di sini pagi ini.</p>
<p><b><font color="#ff0000">Lebih 1,000 pendemonstrasi anti-Malaysia daripada kalangan aktivis kebudayaan Reog Ponorogo</font></b>, yang diapi-apikan semangat anti-Malaysia oleh pelbagai laporan media massa yang menuduh Malaysia telah mengambil dan mengakui berhak terhadap kesenian itu, <b><font color="#ff0000">akhirnya menyuraikan diri selepas mendengar penjelasan itu.</font></b></p></blockquote>
<p>Cuplikan yang lain lagi dari berita yang sama :</p>
<blockquote><p><u><b><font color="#ff0000"> S</font></b><b><font color="#ff0000">etelah penjelasan yang menggunakan hanya kira-kira 50 patah perkataan sahaja itu</font></b></u>, Zainal Abidin terus turun dari pentas itu dan kembali meneruskan tugas di pejabatnya, meninggalkan <b><u><font color="#ff0000">para pendemonstrasi itu terdiam seperti terpukau</font></u>.</b></p></blockquote>
<p>Artikel selengkapnya dari Bernama yang berjudul <font size="3"><b>&#8220;D</b><b>uta Besar Suraikan 1,000 Aktivis, Demonstrasi Anti-Malaysia&#8221;</b></font> dapat dibaca di <a href="http://www.bernama.com.my/bernama/v3/bm/news.php?id=299308">sini</a>. Gimana, sudah ikutan ngakak seperti <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>nggak? wak kak kak kak &#8230;. cara memberitakannya itu lho seakan-akan dubesnya itu sakti mandraguna &#8230;. &#8220;hanya butuh waktu tiga menit, dan menggunakan tak lebih dari 50 kata saja sudah bisa membubarkan ribuan demonstran Indonesia&#8221; wa ka ka ka (sorry masih nggak bisa brenti ngakak).</p>
<p><span id="more-47"></span>(menulis sambil masih ngakak) Artikel yang sama juga terheran-heran dengan pers Indonesia yang tidak ada satupun yang memberitakan tentang ke-sakti-mandraguna-an duta besar mereka. Simak deh :</p>
<blockquote><p>Namun, tidak satu pun media massa dalam talian dan televisyen yang meliputi demonstrasi itu melaporkan aspek kecekapan diplomasi Zainal Abidin yang tampil dengan tenang menamatkan demonstrasi itu tanpa sebarang insiden buruk.</p></blockquote>
<p>Ya gustiiii, Malaysia &#8230; Malaysia &#8230;. kenapa kantor berita resmi negerimu begitu lucu ya &#8230;.. wak ka ka ka. Kalau rakyatnya dicekokin berita kayak gitu terus &#8230; pantas saja mereka begitu cupet mikirnya. Silahkan bandingkan pemberitaan kejadian serupa juga oleh <a href="http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&amp;id=315083">Jawapos</a>, <a href="http://www.kompas.com/ver1/Dikbud/0711/29/100306.htm">Kompas</a>, <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/11/29/brk,20071129-112557,id.html">Tempo Interaktif</a>, <a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0711/30/nas01.htm">Suara Merdeka</a> de el el. Inilah pembodohan terlucu ala pers Malaysia kepada rakyatnya. (TVRI saja dulu nggak lucu begitu &#8230; mmhm malah membosankan kali yaaa).</p>
<p><b><font color="#ff0000">Duarrrrr !!!!</font></b></p>
<p>Ketika <b><i><font color="#ff00ff">mulut </font></i></b>mengatakan itu <b>pembodohan</b>, jadi terpikir apakah kita juga sedang dibodohkan oleh pers kita ya?. Mmmmhm mungkin yang lebih tepat adalah <b>dinina-bobokkan</b>. Coba deh pikir, mungkin kemarahan kita terhadap Malaysia telah menyedot habis daya kritis kita terhadap pemerintah. Dengan &#8220;asyiknya&#8221; pers kita mengelola kemarahan kita atas malasyia itu menjadi berita yang bernilai jual tinggi, mendongkrak angka penjualan dan oplah harian mereka.</p>
<p>Di sisi lain, kita mungkin jadi kurang kritis dan teralihkan perhatiannya hanya pada masalah ini (klaim-klaim malaysia atas  berbagai warisan budaya kita tersebut). Padahal kalau kita mau berpikir lebih jauh, urusan harga diri bangsa seperti yang sedang kita hadapi saat ini tidaklah melulu urusan pencurian berbagai kesenian dan produk budaya kita oleh Malaysia. Malah menurut <font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font>, masalah harga diri bangsa yang lebih besar itu adalah masalah TKI/TKW kita di sana.</p>
<p>Sadarkah saudara bahwa ketika kita marah kepada Malaysia atas pencurian <b><i>reog, batik, congklak </i></b>ataupun <b><i>lagu rasa sayange</i></b> dan lain sebagainya, ribuan perempuan bangsa kita dihinakan, ditipu dan diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia dengan dijadikan pelacur (lihat artikel <a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0405/31/nas05.htm">ini</a> dan <a href="http://www.antara.co.id/arc/2007/10/31/wanita-asal-madiun-dijual-sebagai-pelacur-di-malaysia/">ini</a> serta masih banyak lagi yang lain). Ribuan lainnya diperkosa majikan, disiksa, tidak dibayarkan gajinya dan lain-lain (baca di <a href="http://www.indomedia.com/bpost/062007/28/depan/utama1.htm">sini</a>). <font color="#ff00ff"><i><b>Bukankah</b></i></font> seharusnya kita lebih marah pada yang beginian, mereka adalah manusia yang punya hati, martabat dan saudara sebangsa kita sendiri. Mengapa kita begitu marah atas dicurinya segala simbol kebudayaan bangsa yang &#8220;hanya merupakan benda mati belaka&#8221;. Mengapa kita &#8220;tidak terlalu marah&#8221; mendapati saudara-saudari kita dihinakan, dianiaya, ditindas, diperbudak di sana.  Parahnya, kejadian ini sudah berlangsung begitu lama, bertahun-tahun dan terus saja berulang-ulang tanpa ada tindakan kongkrit dari pemerintah kita untuk melindungi saudara sebangsa kita tersebut.</p>
<p>Bukannya <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>melarang anda semua untuk marah pada Malaysia atas pencurian kekayaan budaya dan tradisi kita tersebut. <font color="#ff00ff"><b><i>Mulut </i></b></font>hanya mengajak saudara sekalian untuk juga kritis pada bangsa/pemerintah kita sendiri (juga pada pemerintah Malaysia). Bukankah, merupakan tanggung jawab negara untuk melindungi seluruh warganya, menyediakan pekerjaan yang layak, pendidikan serta mewujudkan kemakmuran umum. Apa kemajuan yang telah dilakukan pemerintah kita dalam upaya melindungi saudara-saudara sebangsa kita tersebut ?. Jangan-jangan pemerintah kita sekarang malah bisa tidur nyenyak karena rakyatnya sedang marah kepada &#8220;orang lain&#8221; (Malaysia). Bersembunyi di tengah-tengah riuh rendah kemarahan bangsa pada negara tetangga.</p>
<p>Lebih menangis lagi ketika <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>teringat Miliaran rupiah dihambur-hamburkan untuk studi banding ke luar negeri para wakil rakyat kita. Miliaran rupiah dihamburkan hanya untuk uang makan rapat-rapat ini dan itu (baik pemerintah maupun legislatif) yang tidak menyentuh langsung kepentingan rakyat. Triliunan rupiah dihambur-hamburkan hanya untuk pesta-pesta pilkada, serta pemilu di seluruh penjuru negeri. Belum lagi triliunan uang rakyat yang dikorupsi. Bayangkan jika uang tersebut digunakan dengan baik, pasti bisa membuka lapangan kerja cukup banyak sehingga tidak perlu perempuan-perempuan saudara kita tersebut jauh-jauh tertipu agen PJTKI sehingga menjadi pelacur dan dihinakan di Malaysia. Inilah bung <b>harga diri bangsa </b>kita yang sebenarnya lebih patut kita nomor satukan.</p>
<p><font color="#ff00ff"><b><i>Mulut </i></b></font>jadi teringat pernah membaca sebuah artikel beberapa tahun yang lalu, tentang seorang pejabat kita yang dalam kunjungan dinasnya ke Malaysia, &#8220;iseng-iseng&#8221; dia &#8220;sweeping&#8221; sebuah sentra pelacuran di sana, kabarnya dia mampu membebaskan beberapa perempuan yang disekap dan dipaksa melacur di Malaysia. (sayang mulut tidak berhasil mendapatkan link artikel tersebut di Internet). Hanya dengan usaha sedikit saja, beberapa perempuan saudara sebangsa kita dapat dibebaskan dari penderitaan lahir batin yang dialaminya di sana. Sang pejabat (karena alasan tidak ada dukungan dana) akhirnya harus pulang kembali ke tanah air.</p>
<p>Bayangkan saudara, kalau pemerintah kita mau peduli, lakukan operasi serupa di atas secara sistematis &#8230; <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>yakin ratusan atau bahkan ribuan perempuan kita yang sedang diperbudak, dihina dan direndahkan di Malaysia akan dapat diselamatkan, dibebaskan dari penderitaan lahir batin yang mendera mereka. Ribuan TKW kita yang diperkosa majikannya, disiksa, atau tidak dibayarkan gajinya secara memadai akan dapat dibela. Melihat kemajuan perlindungan terhadap TKI/TKW sampai saat ini, satu saja kesimpulan logis yang muncul. Pemerintah TIDAK <strike>BEGITU</strike> PEDULI nasib anak bangsanya.</p>
<p>Bagaimana mengatasi hal ini &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Ada usulan beberapa politisi agar ada keterwakilan anggota DPR dari warga kita yang sedang bekerja di malaysia (<a href="http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&amp;id=302602">Jawapos 7 Sept 07</a>) sehingga bisa lebih memperjuangkan nasib para TKI/TKW kita di sana. Menurut <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>itu mungkin hanyalah komoditas politik saja bagi para politisi untuk mendapatkan lebih banyak kursi. Walaupun itu bisa dikatakan masih mending, dari pada yang tidak mikir sama sekali. Di sisi lain, pemerintah berkata mereka tak ada cukup dana &#8230;&#8230; ahhhh itu bohong belaka, <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>tahu pasti miliaran uang kau hamburkan untuk ini itu pengeluaran yang kadang dikarang-karang mereka demi sekedar ada. Meski uang kita hanya sedikit, kalau pemerintah ada kemauan pasti kita bisa bela.</p>
<p><font color="#ff0000"><b>ARRRRRGGGGHHHHH <i><font color="#ff00ff">mulut </font></i>marah !!!!</b><br />
</font></p>
<p>Saatnya kita bertindak, meski hanya lewat kata-kata, dengarkan 10 tuntutan <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>yang diserukan di alam blogosphere indonesia ini kepada <strike>yang mulia</strike> PEMERINTAH INDONESIA :</p>
<blockquote>
<blockquote>
<ol>
<li>
<address>Selamatkan harga diri bangsa &#8211; Selamatkan TKI/TKW kita di Malaysia</address>
</li>
<li>
<address>Selamatkan dan pulangkan saudara-saudari kami yang dipaksa menjadi pelacur di Malaysia sekarang juga.</address>
</li>
<li>
<address>Hukum mati pelaku traficking/PJTKI kurang ajar penjual saudara sendiri (baik yang berwarga negara Indonesia maupun Malaysia &#8212; kalo ketangkap di sini)</address>
</li>
<li>
<address>Lindungi TKI/TKW saudara kami di Malaysia dari kejahatan ketenaga-kerjaan.</address>
</li>
<li>
<address>Bikin undang-undang perlindungan TKI/TKW diluar negeri.</address>
</li>
<li>
<address>Lindungi seni budaya bangsa kita.</address>
</li>
<li>
<address>Lindungi kekayaan alam nusantara.</address>
</li>
<li>
<address>Ciptakan lapangan kerja.</address>
</li>
<li>
<address>Beri pendidikan murah.</address>
</li>
<li>
<address>Stop basa-basi &#8230;. kami sudah bosan !!!</address>
</li>
</ol>
</blockquote>
</blockquote>
<p>Jika saudara setuju dengan tulisan dan tuntutan di atas, tolong bantu  sebar luaskan pemahaman dan tuntutan ini.  Silahkan kopi, rujukkan, link atau bikin sendiri tulisan sejenis versi anda sendiri.</p>
<p>Mari bersatu, Ayo berjuang, wujudkan kemerdekaan bangsa yang sesungguhnya.</p>
<p>Artikel terkait:<a href="http://www.rayofshadow.com/blog/antara-aku-indonesia-malaysia-dan-blogger/" rel="bookmark"></a></p>
<blockquote>
<ol>
<li><a href="http://mulut.wordpress.com/2007/11/14/malaysia-kaciaaan-de-lu/">Kasihanilah Malaysia</a></li>
<li><a href="http://www.rayofshadow.com/blog/antara-aku-indonesia-malaysia-dan-blogger/" rel="bookmark">Antara aku Indonesia Malaysia dan Blogger</a></li>
<li><a href="http://www.rayofshadow.com/blog/indonesia-malaysia-dari-sisi-lain/">Indonesia Malaysia dari sisi lain</a></li>
<li><a href="http://itsme231019.wordpress.com/2007/11/30/104/">To be Babu No Way !!!</a></li>
<li><a href="http://fertobhades.wordpress.com/2007/10/08/antara-kita-dan-tetangga/">Antara kita dan Tetangga</a></li>
<li><a href="http://kamal87.wordpress.com/2007/12/07/kenapa-kalian-terus-mencerca-malaysia/#comment-366">Kenapa kalian terus mencerca Malaysia</a></li>
<li><a href="http://agorsiloku.wordpress.com/2008/01/07/lucu-deh-malaysia-itu-atau-indonesia/" target="_blank">Lucu Deh Malaysia itu (Atau Indonesia?)</a></li>
<li>(tulisan yang sangat komprehensif &#8211;&gt; recommended)</li>
<li>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; siapa saja punya tulisan terkait silakan daftar</li>
</ol>
</blockquote>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulut.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulut.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulut.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulut.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulut.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulut.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulut.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulut.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulut.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulut.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulut.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulut.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulut.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulut.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulut.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulut.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=47&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulut.wordpress.com/2007/11/30/pembodohan-ala-pers-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3437fa6e10a2a7074749785b794c382?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Welgedewelbeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekulerisme itu perlu</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com/2007/11/29/sekulerisme-itu-perlu/</link>
		<comments>http://mulut.wordpress.com/2007/11/29/sekulerisme-itu-perlu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 00:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Mulut]]></category>
		<category><![CDATA[Lidah api]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[sekuler]]></category>
		<category><![CDATA[sekulerisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulut.wordpress.com/2007/11/29/sekulerisme-itu-perlu/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang menghadap-hadapkan sekulerisme secara langsung dengan agama sebagai sesuatu yang bertolak belakang. Sebagian yang lain malah cenderung menyamakan bersikap sekuler sebagai anti agama, bahkan kafir atau yang paling halus sebagai sudah teracuni budaya barat (westoxified). Namun pernahkah anda berpkir mendalam mengenai apa itu sekulerisme, mencoba menelaahnya melalui makna asalnya dan semangat yang dikandungnya alih-alih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=43&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang menghadap-hadapkan sekulerisme secara langsung dengan agama sebagai sesuatu yang bertolak belakang. Sebagian yang lain malah cenderung menyamakan bersikap sekuler sebagai anti agama, bahkan kafir atau yang paling halus sebagai sudah teracuni budaya barat (<i>westoxified</i>). Namun pernahkah anda berpkir mendalam mengenai apa itu sekulerisme, mencoba menelaahnya melalui makna asalnya dan semangat yang dikandungnya alih-alih langsung membenci dan bersikap antipati?. Oleh karena banyaknya kesimpang-siuran pemahaman orang mengenai istilah ini, dalam kesempatan ini <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>akan ngomong dan mengupas tentang sekulerisme dan mengapa sekulerisme itu perlu.</p>
<p>Untuk memahami sebuah <b><i>term</i></b>, apalagi <b><i>term </i></b>yang berasal dari bahasa asing, kita perlu merujuk pada makna asli dari <b><i>term </i></b>tersebut sebelum mendapat berbagai atribut konotatif yang  diberikan oleh pengguna <b><i>term </i></b>tersebut (<font color="#ff00ff"><b><i>mulut</i></b></font> mengampanyekan untuk membiasakan melakukan hal ini juga ya &#8230;.). Hal ini sangat penting agar kita bisa tetap bersikap obyektif dan kritis terhadap sesuatu dan berfikir independen tanpa harus hanyut dalam arus <i>mainstream </i>pendapat besar.</p>
<p>Menurut <a href="http://www.yourdictionary.com">http://www.yourdictionary.com</a><br />
<a href="http://www.yourdictionary.com/secularism"><span class="orth">secu·lar·ism·</span> </a>(<span class="pron">iz′m</span>) adalah sebuah kata benda yang bermakna :</p>
<blockquote>
<ol class="sense">
<li>worldly spirit, views, or the like; esp., a system of doctrines and practices that disregards or rejects any form of religious faith and worship</li>
<li>the belief that religion and ecclesiastical affairs should not enter into the functions of the state, esp. into public education</li>
</ol>
</blockquote>
<p>Secara bebas, sekulerisme bisa dimaknai sebagai semangat, pandangan atau sifat keduniaan, atau sebuah doktrin yang memisahkan antara dunia dan semua yang terjadi di atasnya dari keyakinan relijius atau kekuatan gaib apapun. Makna yang kedua lebih pada aplikasi sekulerisme dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Memisahkan praktek kenegaraan, berbangsa dan bermasyarakat dalam segala levelnya dari cara pandang religius atau mistik tertentu.</p>
<p><span id="more-43"></span>Secara etimologis, term <i>secular </i>yang merupakan akar dari term <i>secularism </i>mengalami perubahan makna sepanjang sejarah. Kata ini berasal dari bahasa Latin <a href="http://www.podictionary.com/?s=saeculum"><i>saeculum</i>, </a>kemudian diadopsi oleh Perancis kuno baru kemudian masuk menjadi kosakata bahasa Inggris. Makna asal term ini adalah &#8220;<i>a generation or an age; that is, the length of time of a lifespan</i>&#8220;, (Makna secara bebasnya) berarti suatu generasi atau jaman, atau sepanjang masa hidup seorang manusia. Lho apa hubungannya dengan makna sekuler saat ini, kok gak nyambung ? &#8230;.. menurut dugaan berbagai <i><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Etymologist">etymologist</a></i>, sekuler dimaknai sebagai generasi, atau sepenggal waktu karena memiliki persamaan sifat dengan kefanaan, ketidakabadian, dan keduniaan yang berlawan kata dari keabadian atau <i>eternal</i> seperti banyak diulas oleh agama sebagai kepercayaan bahwa hidup ini tidak hanya ada di dunia.</p>
<p>Oke, setelah makna asli <i>term </i>sekuler itu telah kita mengerti lalu mengapa kok sekulerisme dikatakan perlu?. Bukankah agama Islam memerintahkan pemeluknya untuk tidak memisahkan antara kehidupan duniawi (misalkan bekerja, berdagang, sekolah, atau aktifitas apapun di dalam hidup ini) dengan ibadah kepada yang Maha Pencipta?. Dengan kata lain, semua aktifitas itu adalah bentuk-bentuk ibadah kepadaNya, bekerja harus diniati beribadah, bernapas ya beribadah, berjalan itu beribadah, berpikir itu beribadah, sekolah itu beribadah, berbuat apapun yang baik itu harus diniati sebagai ibadah. Ya benar &#8230; tapi tunggu dulu ya penjelasan <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>berikut.</p>
<p>Pemosisian term sekulerisme sebagai bertentangan dengan akidah agama Islam seperti di atas sungguh merupakan sikap yang terburu-buru dan terlalu menggeneralisir cakupan makna sekuler dan sekulerisme. Padahal tanpa adanya sikap sekuler dan sekulerisme, maka tidak akan pernah ada yang namanya ilmu pengetahuan moderen. Tanpa adanya ilmu pengetahuan maka tidak akan ada teknologi, apalagi internet dan blogging seperti ini. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Lho &#8230;. kok bisa?</p>
<p>Ilmu pengetahuan moderen lahir secara langsung dari semangat sekuler dan sekulerisme. Pada awalnya masyarakat primitif, memandang apa saja yang terjadi di dunia ini sebagai sesuatu yang bersifat <a href="http://www.m-w.com/dictionary/transcendent">transenden </a>atau ada kaitannya dengan kekuatan gaib. Misalkan terjadinya wabah penyakit, gagal panen, angin puyuh, ataupun banjir bandang, masyarakat primitif biasanya mengkaitkan hal tersebut dengan hal-hal gaib misalkan dewa sedang marah (di Yunani/India/Mesir). Di Indonesia sendiri kita sangat akrab dengan pola pikir semacam ini,  misalkan gerhana bulan itu akibat bulan dimakan oleh buto ijo hingga warga harus membunyikan lesung agar sang buto segera pergi (cerita-cerita macam ini dari berbagai bangsa yang lain dapat dilihat <a href="http://pitoyoadhi.wordpress.com/2007/08/28/gerhana/">di sini</a>), atau tsunami di laut selatan Jawa yang disebabkan oleh kemarahan <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0511/11/Lintimbar/2197810.htm">Nyai Ratu Roro Kidul</a>.</p>
<p>Kalau tidak ada semangat memisahkan berbagai fenomena alam/sosial dari cara pandang mistik/religius (sekuler), maka tidak akan ada orang yang meneliti apa sebab musabab kejadian alam/sosial tersebut. Kalau semua orang tetap beranggapan bahwa gerhana bulan tiu akibat dimakan buto ijo, maka tak akan pernah lahir ilmu astronomi. Kalau semua orang berpikir serangan hama adalah karena warga tidak memberi sesaji pada roh penunggu desa, maka tidak akan pernah lahir ilmu pertanian, ilmu hama, ataupun ilmu serangga. Kalau semua orang beranggapan bahwa sakit itu diakibatkan karena &#8220;<i>ketemplekan jin</i>&#8221; (istilah jawa untuk dirasuki atau diganggu mahluk halus) maka tidak akan ada ilmu kedokteran.</p>
<p>Jadi secara filsafat ilmu, sekulerisme itu adalah kebutuhan. Sekali lagi tanpa sikap sekuler, tidak akan pernah ada ilmu pengetahuan moderen. Dalam kalimat yang lain, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tan_Malaka">Tan Malaka</a> mengatakan bahwa seorang intelektual harus berpikir secara materialisme. Meskipun <font color="#ff00ff"><b><i>mulut </i></b></font>tidak 100% setuju gagasan Tan Malaka, tapi mungkin gagasannya perlu dimunculkan dan diberi kredit di dalam isu ini. Namun dalam kesempatan ini, kita akan fokuskan bahasan pada <i>term </i>sekuler dan sekulerisme bukan pada term materialisme. Nah sekarang jelas kan, kalau secara maknanya yang paling mendasar, kita semua butuh bersikap sekuler. Ilmu pengetahuan umum yang sudah kita semua pelajari dari SD sampai doktoral itu adalah produk dari materialisme dan sekulerisme. Menolak sekularisme secara membabi buta merupakan tindakan yang aneh dan salah kaprah, sama saja menolak ilmu pengetahuan moderen yang sudah dihasilkan oleh semangat sekulerisme tersebut.</p>
<p>Mungkin yang banyak disalah persepsikan oleh orang-orang adalah aplikasi sekulerisme dalam hal berbangsa dan negara. Dalam masalah ini, lagi-lagi alasan teologis keimanan Islam yang menghendaki tidak adanya pemisahan antara seluruh aspek kehidupan dengan penghambaan kita pada yang kuasa menjadi sumber kontroversi sekular dan sekulerisme dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Di satu pihak, ada kelompok orang yang menghendaki negara harus dijalankan dengan bersendikan syariat agama sebagai konsekuensi teologis beragama Islam. <a href="http://www.dudung.net/index.php?naon=depan&amp;action=detail&amp;id=316&amp;cat=2">Kelompok </a>inilah yang getol menolak sekulerisme sebagai ideologi. Di sisi yang lain (bahkan sebagian kelompok Islam sendiri) tidak menghendaki negara ikut campur tangan terhadap masalah keyakinan dan keagamaan warganya, bagi mereka, wilayah agama dan spiritualitas adalah masalah pribadi.</p>
<p>Mengenai sekulerisme dalam hal bernegara dan bermasyaarakat ini, tidak akan di bahas di sini karena memerlukan satu bahasan tersendiri yang panjang. Intinya <i><b><font color="#ff00ff">mulut </font></b></i>mengajak agar kita nggak gampang-gampang menolak sekulerisme (dalam maknanya yang paling mendasar), karena ia telah jadi salah satu tulang punggung kehidupan anda saat ini. Soal negara itu harus berlandaskan ajaran agama atau tidak mungkin akan <i><b><font color="#ff00ff">mulut</font> </b></i>bahas di lain kesempatan. Mengenai soal yang terakhir itu, mulut jadi teringat guyonan Gusdur bahwa negara Indonesia ini adalah <b>negara yang bukan-bukan</b> he he he. Indonesia dikatakan bukan negara agama tapi juga bukan negara yang sekuler, bukan negara sosialis tapi juga bukan negara kapitalis. Apalagi namanya kalo bukan negara yang bukan-bukan. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Artikel terkait</p>
<address>1. <a href="http://islamlib.com/id/index.php?page=article&amp;id=586">Menjadi Muslim Sekuler</a></address>
<address>2. <a href="http://www.tempointeraktif.com/harian/wawancara/waw-MarkJurgensmeyer01.html">Sekulerisme seharusnya sejalan dengan religiusitas</a></address>
<address>3. <a href="http://www.dudung.net/index.php?naon=depan&amp;action=detail&amp;id=316&amp;cat=2">Sekulerisme dalam sistem pendidikan</a></address>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulut.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulut.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulut.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulut.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulut.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulut.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulut.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulut.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulut.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulut.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulut.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulut.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulut.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulut.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulut.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulut.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=43&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulut.wordpress.com/2007/11/29/sekulerisme-itu-perlu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3437fa6e10a2a7074749785b794c382?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Welgedewelbeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah yang Pertama kali akan anda lakukan jika anda menjadi Presiden? ( ini sebuah pertanyaan lho&#8230;)</title>
		<link>http://mulut.wordpress.com/2007/11/24/apakah-yang-pertama-kali-akan-anda-lakukan-jika-anda-menjadi-presiden-ini-sebuah-pertanyaan/</link>
		<comments>http://mulut.wordpress.com/2007/11/24/apakah-yang-pertama-kali-akan-anda-lakukan-jika-anda-menjadi-presiden-ini-sebuah-pertanyaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Nov 2007 06:28:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Buka Mulut]]></category>
		<category><![CDATA[buka-bukaan]]></category>
		<category><![CDATA[pertama kali]]></category>
		<category><![CDATA[pingin]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[queen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulut.wordpress.com/2007/11/24/apakah-yang-pertama-kali-akan-anda-lakukan-jika-anda-menjadi-presiden-ini-sebuah-pertanyaan/</guid>
		<description><![CDATA[Semua orang tahu kan kondisi negara kita ini sekarang kaya apa ?(buat yang merasa ga tahu gpp tetep boleh gabung). Nah&#8230;.. Berangkat dari pengetahuan saudara tentang kondisi negara kita sekarang, Mulut ingin mengajak semua orang disini untuk break sejenak dan buka mulut, berandai-andai , mengeluarkan pendapatnya secara bebas, jujur dan sedikit nakal, lucu atau konyol [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=25&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua orang tahu kan kondisi negara kita ini sekarang kaya apa ?(buat yang merasa ga tahu gpp tetep boleh gabung).</p>
<p>Nah&#8230;..</p>
<p>Berangkat dari pengetahuan saudara tentang kondisi negara kita sekarang,  <strong><em><font color="#ff00ff">Mulut </font> </em></strong>ingin mengajak semua orang disini untuk break sejenak dan  buka mulut, berandai-andai , mengeluarkan pendapatnya secara bebas, jujur dan sedikit nakal, lucu atau konyol juga boleh.Yaitu dengan menjawab pertanyaan diatas : <strong><em>Apakah yang pertama kali akan anda lakukan jika anda menjadi Presiden?</em></strong></p>
<p>Yah siapa tahu to,  ada ide menarik dari saudara2 sekalian yang nantinya kebaca oleh yang sekarang lagi memimpin negeri kita ini, dan memberi inspirasi positif untuk bikin program atau apa. Dan kalau toh ide2 menarik saudara2 sekalian tidak terbaca olehnya, yang pasti <strong><em><font color="#ff00ff">Mulut</font> </em></strong>akan senang membaca setiap jawaban  yang Saudara tuliskan.</p>
<p>Dan sebelumnya terima kasih telah meluangkan waktu untuk bermulut ria menjawab pertanyaan <font color="#ff00ff"><strong><em>mulut </em></strong></font>itu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulut.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulut.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulut.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulut.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulut.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulut.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulut.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulut.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulut.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulut.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulut.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulut.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulut.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulut.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulut.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulut.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulut.wordpress.com&amp;blog=2077057&amp;post=25&amp;subd=mulut&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulut.wordpress.com/2007/11/24/apakah-yang-pertama-kali-akan-anda-lakukan-jika-anda-menjadi-presiden-ini-sebuah-pertanyaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b3437fa6e10a2a7074749785b794c382?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Welgedewelbeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
