Pembodohan ala Pers Malaysia

: Momen tepat menggugat tanggung jawab Pemerintah kita

Baru saja mulut menerima sebuah email yang melampirkan cuplikan berita dari kantor berita Malaysia (Bernama). Berita tentang aksi demo seniman reog dari kantor berita resmi Negeri tetangga tersebut sungguh “aneh” bin “ajaib”. Beberapa kali mulut membaca berita itu, dengan maksud ingin sungguh-sungguh memahami perasaan mereka, namun (dengan sangat menyesal) berulang kali pula mulut ngggak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

Coba deh baca sendiri cuplikan berita tersebut seperti ini :

Duta Besar Malaysia ke Indonesia Datuk Zainal Abidin Mohamed Zain memerlukan hanya tiga minit untuk menyuraikan demonstrasi anti-Malaysia, yang sebelum itu berkobar-kobar dan kononnya akan berlangsung satu tindakan nekad di hadapan kedutaan di sini pagi ini.

Lebih 1,000 pendemonstrasi anti-Malaysia daripada kalangan aktivis kebudayaan Reog Ponorogo, yang diapi-apikan semangat anti-Malaysia oleh pelbagai laporan media massa yang menuduh Malaysia telah mengambil dan mengakui berhak terhadap kesenian itu, akhirnya menyuraikan diri selepas mendengar penjelasan itu.

Cuplikan yang lain lagi dari berita yang sama :

Setelah penjelasan yang menggunakan hanya kira-kira 50 patah perkataan sahaja itu, Zainal Abidin terus turun dari pentas itu dan kembali meneruskan tugas di pejabatnya, meninggalkan para pendemonstrasi itu terdiam seperti terpukau.

Artikel selengkapnya dari Bernama yang berjudul “Duta Besar Suraikan 1,000 Aktivis, Demonstrasi Anti-Malaysia” dapat dibaca di sini. Gimana, sudah ikutan ngakak seperti mulut nggak? wak kak kak kak …. cara memberitakannya itu lho seakan-akan dubesnya itu sakti mandraguna …. “hanya butuh waktu tiga menit, dan menggunakan tak lebih dari 50 kata saja sudah bisa membubarkan ribuan demonstran Indonesia” wa ka ka ka (sorry masih nggak bisa brenti ngakak).

(menulis sambil masih ngakak) Artikel yang sama juga terheran-heran dengan pers Indonesia yang tidak ada satupun yang memberitakan tentang ke-sakti-mandraguna-an duta besar mereka. Simak deh :

Namun, tidak satu pun media massa dalam talian dan televisyen yang meliputi demonstrasi itu melaporkan aspek kecekapan diplomasi Zainal Abidin yang tampil dengan tenang menamatkan demonstrasi itu tanpa sebarang insiden buruk.

Ya gustiiii, Malaysia … Malaysia …. kenapa kantor berita resmi negerimu begitu lucu ya ….. wak ka ka ka. Kalau rakyatnya dicekokin berita kayak gitu terus … pantas saja mereka begitu cupet mikirnya. Silahkan bandingkan pemberitaan kejadian serupa juga oleh Jawapos, Kompas, Tempo Interaktif, Suara Merdeka de el el. Inilah pembodohan terlucu ala pers Malaysia kepada rakyatnya. (TVRI saja dulu nggak lucu begitu … mmhm malah membosankan kali yaaa).

Duarrrrr !!!!

Ketika mulut mengatakan itu pembodohan, jadi terpikir apakah kita juga sedang dibodohkan oleh pers kita ya?. Mmmmhm mungkin yang lebih tepat adalah dinina-bobokkan. Coba deh pikir, mungkin kemarahan kita terhadap Malaysia telah menyedot habis daya kritis kita terhadap pemerintah. Dengan “asyiknya” pers kita mengelola kemarahan kita atas malasyia itu menjadi berita yang bernilai jual tinggi, mendongkrak angka penjualan dan oplah harian mereka.

Di sisi lain, kita mungkin jadi kurang kritis dan teralihkan perhatiannya hanya pada masalah ini (klaim-klaim malaysia atas berbagai warisan budaya kita tersebut). Padahal kalau kita mau berpikir lebih jauh, urusan harga diri bangsa seperti yang sedang kita hadapi saat ini tidaklah melulu urusan pencurian berbagai kesenian dan produk budaya kita oleh Malaysia. Malah menurut mulut, masalah harga diri bangsa yang lebih besar itu adalah masalah TKI/TKW kita di sana.

Sadarkah saudara bahwa ketika kita marah kepada Malaysia atas pencurian reog, batik, congklak ataupun lagu rasa sayange dan lain sebagainya, ribuan perempuan bangsa kita dihinakan, ditipu dan diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia dengan dijadikan pelacur (lihat artikel ini dan ini serta masih banyak lagi yang lain). Ribuan lainnya diperkosa majikan, disiksa, tidak dibayarkan gajinya dan lain-lain (baca di sini). Bukankah seharusnya kita lebih marah pada yang beginian, mereka adalah manusia yang punya hati, martabat dan saudara sebangsa kita sendiri. Mengapa kita begitu marah atas dicurinya segala simbol kebudayaan bangsa yang “hanya merupakan benda mati belaka”. Mengapa kita “tidak terlalu marah” mendapati saudara-saudari kita dihinakan, dianiaya, ditindas, diperbudak di sana. Parahnya, kejadian ini sudah berlangsung begitu lama, bertahun-tahun dan terus saja berulang-ulang tanpa ada tindakan kongkrit dari pemerintah kita untuk melindungi saudara sebangsa kita tersebut.

Bukannya mulut melarang anda semua untuk marah pada Malaysia atas pencurian kekayaan budaya dan tradisi kita tersebut. Mulut hanya mengajak saudara sekalian untuk juga kritis pada bangsa/pemerintah kita sendiri (juga pada pemerintah Malaysia). Bukankah, merupakan tanggung jawab negara untuk melindungi seluruh warganya, menyediakan pekerjaan yang layak, pendidikan serta mewujudkan kemakmuran umum. Apa kemajuan yang telah dilakukan pemerintah kita dalam upaya melindungi saudara-saudara sebangsa kita tersebut ?. Jangan-jangan pemerintah kita sekarang malah bisa tidur nyenyak karena rakyatnya sedang marah kepada “orang lain” (Malaysia). Bersembunyi di tengah-tengah riuh rendah kemarahan bangsa pada negara tetangga.

Lebih menangis lagi ketika mulut teringat Miliaran rupiah dihambur-hamburkan untuk studi banding ke luar negeri para wakil rakyat kita. Miliaran rupiah dihamburkan hanya untuk uang makan rapat-rapat ini dan itu (baik pemerintah maupun legislatif) yang tidak menyentuh langsung kepentingan rakyat. Triliunan rupiah dihambur-hamburkan hanya untuk pesta-pesta pilkada, serta pemilu di seluruh penjuru negeri. Belum lagi triliunan uang rakyat yang dikorupsi. Bayangkan jika uang tersebut digunakan dengan baik, pasti bisa membuka lapangan kerja cukup banyak sehingga tidak perlu perempuan-perempuan saudara kita tersebut jauh-jauh tertipu agen PJTKI sehingga menjadi pelacur dan dihinakan di Malaysia. Inilah bung harga diri bangsa kita yang sebenarnya lebih patut kita nomor satukan.

Mulut jadi teringat pernah membaca sebuah artikel beberapa tahun yang lalu, tentang seorang pejabat kita yang dalam kunjungan dinasnya ke Malaysia, “iseng-iseng” dia “sweeping” sebuah sentra pelacuran di sana, kabarnya dia mampu membebaskan beberapa perempuan yang disekap dan dipaksa melacur di Malaysia. (sayang mulut tidak berhasil mendapatkan link artikel tersebut di Internet). Hanya dengan usaha sedikit saja, beberapa perempuan saudara sebangsa kita dapat dibebaskan dari penderitaan lahir batin yang dialaminya di sana. Sang pejabat (karena alasan tidak ada dukungan dana) akhirnya harus pulang kembali ke tanah air.

Bayangkan saudara, kalau pemerintah kita mau peduli, lakukan operasi serupa di atas secara sistematis … mulut yakin ratusan atau bahkan ribuan perempuan kita yang sedang diperbudak, dihina dan direndahkan di Malaysia akan dapat diselamatkan, dibebaskan dari penderitaan lahir batin yang mendera mereka. Ribuan TKW kita yang diperkosa majikannya, disiksa, atau tidak dibayarkan gajinya secara memadai akan dapat dibela. Melihat kemajuan perlindungan terhadap TKI/TKW sampai saat ini, satu saja kesimpulan logis yang muncul. Pemerintah TIDAK BEGITU PEDULI nasib anak bangsanya.

Bagaimana mengatasi hal ini ………….. Ada usulan beberapa politisi agar ada keterwakilan anggota DPR dari warga kita yang sedang bekerja di malaysia (Jawapos 7 Sept 07) sehingga bisa lebih memperjuangkan nasib para TKI/TKW kita di sana. Menurut mulut itu mungkin hanyalah komoditas politik saja bagi para politisi untuk mendapatkan lebih banyak kursi. Walaupun itu bisa dikatakan masih mending, dari pada yang tidak mikir sama sekali. Di sisi lain, pemerintah berkata mereka tak ada cukup dana …… ahhhh itu bohong belaka, mulut tahu pasti miliaran uang kau hamburkan untuk ini itu pengeluaran yang kadang dikarang-karang mereka demi sekedar ada. Meski uang kita hanya sedikit, kalau pemerintah ada kemauan pasti kita bisa bela.

ARRRRRGGGGHHHHH mulut marah !!!!

Saatnya kita bertindak, meski hanya lewat kata-kata, dengarkan 10 tuntutan mulut yang diserukan di alam blogosphere indonesia ini kepada yang mulia PEMERINTAH INDONESIA :

  1. Selamatkan harga diri bangsa – Selamatkan TKI/TKW kita di Malaysia
  2. Selamatkan dan pulangkan saudara-saudari kami yang dipaksa menjadi pelacur di Malaysia sekarang juga.
  3. Hukum mati pelaku traficking/PJTKI kurang ajar penjual saudara sendiri (baik yang berwarga negara Indonesia maupun Malaysia — kalo ketangkap di sini)
  4. Lindungi TKI/TKW saudara kami di Malaysia dari kejahatan ketenaga-kerjaan.
  5. Bikin undang-undang perlindungan TKI/TKW diluar negeri.
  6. Lindungi seni budaya bangsa kita.
  7. Lindungi kekayaan alam nusantara.
  8. Ciptakan lapangan kerja.
  9. Beri pendidikan murah.
  10. Stop basa-basi …. kami sudah bosan !!!

Jika saudara setuju dengan tulisan dan tuntutan di atas, tolong bantu sebar luaskan pemahaman dan tuntutan ini. Silahkan kopi, rujukkan, link atau bikin sendiri tulisan sejenis versi anda sendiri.

Mari bersatu, Ayo berjuang, wujudkan kemerdekaan bangsa yang sesungguhnya.

Artikel terkait:

  1. Kasihanilah Malaysia
  2. Antara aku Indonesia Malaysia dan Blogger
  3. Indonesia Malaysia dari sisi lain
  4. To be Babu No Way !!!
  5. Antara kita dan Tetangga
  6. Kenapa kalian terus mencerca Malaysia
  7. Lucu Deh Malaysia itu (Atau Indonesia?)
  8. (tulisan yang sangat komprehensif –> recommended)
  9. ………………………………………………… siapa saja punya tulisan terkait silakan daftar
Iklan

54 Komentar

  1. Mas Mulut… Indonesia banyak berkibar ormas-ormas dgn berbagai visi dan misi, “mereka” akan getol menyuarakan tuntutan, bila dirasa mengganggu komunitas-nya. tindakan anarkis-pun akan “mereka” lakukan bila perlu. Jadi, rasa nasionalisme-nya patut kita pertanyakan.
    Coba kalo mereka bersatu padu Membangunkan Pemerintah RI yang lagi tidur, ketika harkat dan martabat diinjak-injak bangsa lain. Dulu Bung Karno pernah menyuarakan dlm komandonya “GANYANG MALAYSIA”
    Tapi skrg jaman sudah berubah, cara berpikir masyarakat jg sudah berbalik arah, ini dikarenakan masyarakat Indonesia masih sibuk dgn perut-nya yang bersuara.

  2. Assalaamu ‘alaikum mul… mudah-mudahan ente sehat wal afiat. Jauh sebelum di kota-kota kursus komputer pada menjamur, di pesantren tempat ane mondok komputer udah jadi kurikulum wajib, bahkan setara dengan fardlu ‘ain hehehe…. Ente kayanya pengikut Gus Dur ‘Alaihissalam ya? Soal kafir mengkafirkan, ane punya pengalaman pahit tapi ujung-ujungnya alhamdulillah jadi manis… pesantren ane yang di Bandung pernah diserbu massa karena diisukan mengajarkan aliran sesat, alhamdulillah 70 hari 70 malam pesantren terus-menerus diteror dengan lemparan batu, telur busuk, tulisan jorok de el el. Ini karena kita menggagas Pengajian Kebangsaan (bukan ngaji agama…) yang mempertemukan semua komponen agama dan ormas untuk membicarakan masalah-masalah kebangsaan soal flu burung, kemiskinan, pendidikan, kesehatan dll. Tapi isunya malah disebut pengajian gabungan seluruh agama, padahal forumnya terbuka untuk umum dan diumumkan lewat media massa, artinya gak sembunyi-sembunyi. Sebagai muslim dan tuan rumah kegiatan, ane malu lihat massa melakukan sweeping kepada pendeta dan ummat nasrani, budha, hindu dan aliran kepecayaan yang akhirnya pada lari tunggang langgang. Ane kira ini salah satu akibat dari pemahaman yang dangkal tentang agama, ditambah gak sedikit gerakan-gerakan yang berlabel keagamaan dan ormas yang gampang melabelkan sesat kepada sesuatu yang dianggap gak sama dengan mereka… Astagfirullah

  3. Postingan Mulut ada beberapa point yang bisa diambil kesimpulannya. Saya cuma kutip dua kalimat aja :

    .. harga diri bangsa yang lebih besar itu adalah masalah TKI/TKW kita di sana

    dan

    Ciptakan lapangan kerja.

    Dilema. Disatu sisi .. negara ini belum “mampu” menciptakan lapangan kerja yang cukup “pantas bayarannya”. Dilain sisi .. ada negara lain yang “mampu” menciptakan lapangan kerja yang “pantas bayarannya”.

    Masalah penganiayaan tenaga kerja .. saya pikir tidak saja terjadi di Malaysia. Tapi terjadi juga di negara yang kita “bangga-bangga”kan ini bahwa negara yang lebih “mulia” dari negara lain.

    Masalah tenaga kerja .. terjadi dimana2. Yang membedakan adalah reaksi dan aksi nya yang berbeda. Kita dapat melihat reaksi dan aksi negara Philiphina ketika ada tenaga kerjanya “bermasalah” di luar negeri.

    Saya lebih cenderung untuk pada aksi .. misalnya : upah buruh perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia harusnya sama dengan Malaysia. Karena komoditinya sama. Sama2 memasarkan untuk luar negeri yang harga dipasaran juga sama. Sehingga para tenaga kerja kita .. ga perlu umpet2an di kebun sawit ketika ada razia.

  4. Makin nggak bener tuh pemerintah Malingsia dan persnya. Ironisnya, daha kayak gitu, Mas Mulut, pemerintah kita –atas nama negara dan bangsa — belum juga menentukan sikap. Harga diri bangsa kita di Malingsia tuh kalau baca di berbagai berita dah ancur. Mereka tak lagi hormat pada sesama bangsa serumpun. Apaun yang dilakukan oleh negeri jiran itu dah merupakan bentuk penghinaan dan pelecehan, baik kesewenang2an terhadap TKW maupun mengembat budaya bangsa kita.

  5. Erm…diplomat tinggi ke Indonesia memang bijak menangani masalah ini. Namun, mengapakah saudari begitu kental menyuarakan khabar angin + hasutan yang boleh memburukkan hubungan rapat dan baik kedua-dua negara.

    memang jelas sama sekali yang anda tidak memahami Malaysia dan hanya bertindak mengitkuti perasaan. hanya kerana keadaan di dalam Indonesia sendiri masih tidak mampu memberi kebahagiaan dan kesenangan kepada rakyat-rakyat nya janganlah saudara dengki dengan pencapaian negara lain…

    malaysia di sini tidak pernah mengklaim semua budaya yang kononlah diciplak dari Indo itu milik kami semua, pada kami itu semua milik bangsa-bangsa dan kaum-kaum yang tinggal di MALAYSIA.

    apakah saudara sedar yang kononnya TKI yang dianiayai itu sebenarnya PENDATANG ASING TANPA IZIN yang memasuki negara ini secara haram dan melanggar undang-undang negara ini? sudah tentu pihak polisi akan menangkap dan menghantar mereka balik….

    cuba saudara panggil semua TKI di Malaysia balik ke Indon, lihat berapa ramai yang berbuat demekian, sudah tentu ramai yang memberi alasan di sini mempunyai peluang pekerjaan yang lebih baik berbanding Indonesia.

    jangan suarakan GANYANG MALAYSIA…hentilah

  6. Saya setuju kita harus selamatkan harga diri bangsa ini. Namun, bukan dengan cara berperang tentunya. Karena saya mencintai kedamaian.

    Bagaimana bangsa kita bisa punya harga diri sedangkan sebagaian orang masih meneriakan kejelekkan bangsa ini.

    Para TKI juga butuh bimbingan agar bisa menjaga diri dan sikap.

    Mari kita benahi, kita mulai dari diri kita sendiri. Sekecil apapun yang mampu kita lakukan, lakukanlah yang terbaik. Cintailah kebudayaan kita supaya tidak di comot lagi.

    Oh, ya, blognya saya link ya? Trim’s. Salam.

  7. Ya, namanya juga corong pemerintah, kalau memang yang ngomong dalam hal ini pemerintah seperti itu, sebagai corong ya manut saja.

  8. Salam perkenalan. Saya setuju kenapa kok indonesia berteriak-teriak jika simbol-simbol budayanya diklaim sebagai budaya mereka tapi kenapa ketika banyak anak bangsa yang diinjak-injak martabatnya tak banyak menjadi perhatian. ada apa dengan bangsa ini. semestinya hal-hal yang lebih real seperti nasib tki/tkw asal indo yang tidak mendapatkan proteksi hukum, menjadi hal yang harus diperhatikan dengan serius. itu ada deh dari saya.
    ahmad.
    asli orang Bandung

  9. *karena panjang bacanya awal2 dan belakangnya sepintas*
    mulut, setidaknya kalimat si dubes itu menjadi jaminan buat kita bahwa reog adalah milik Indonesia.

  10. welgedewelbeh

    4 R.Tegar
    Perut boleh bersuara …. jangan dipakai sebagai dalih untuk tidak berbuat apa-apa. Ingat para pejuang pendahulu kita, mereka lebih lapar, lebih kekurangan …. tapi perjuangan tetap berkobar, penuh semangat yang membakar. Apa yang kita rasakan nggak ada apa-apanya dibanding yang dirasakan mereka. Bermaklum diri karena miskin dan lapar … tidak akan mengatasi persoalan dan bukan wujud rasa sukur atas kemerdekaan yang telah diraih … setuju?.

    4 Muhammad Ram-Ram
    walah kok malah dituduh pengikut gusdur …? … dalam hal tertentu yang gusdur benar ya harus dibenarkan dong, kalo salah ya dibilang salah. Semoga sehat wal ahfiat juga

    4 erander
    Bagaimanapun juga negara harus melindungi rakyatnya, ayo negara dituntut bersama-sama …. urusan lapangan kerja adalah kewajiban negara yang lain lagi.

    4 Sawali Tuhusetya
    baca juga pak … apa yang di balik berita, juga “pelangi” dari berbagai berita.

    4 astos1244
    Wahai saudara dari Malaysia, Salam damai dan persahabatan.
    Hendaknya saudara membaca kembali tulisan mulut diatas, sebelum berkomentar. Apabila saudara tidak terlalu bisa memahami bahasa Indonesia dengan baik, sebaiknya saudara belajar dahulu atau cari teman yang pandai berbahasa Indonesia untuk membantu saudara, sehingga tidak salah paham terhadap mulut.

    Perlu anda catat, mulut tidak pernah menyerukan untuk “Ganyang Malaysia”. Mulut dan bangsa kami tidak merasa iri dengan keberhasilan yang dicapai oleh negerimu. Kalau saudara berpikir demikian maka saudara telah berburuk sangka terhadap kami. Darimana saudara berkesimpulan demikian ?, Jangan2 saudara sendiri yang terhasud oleh kabar burung atau saudara sendiri yang telah terbiasa memandang rendah bangsa kami. Mengapa kok langsung mengatakan kami iri terhadap bangsa saudara? bukankah masih banyak kemungkinan penyebab yang lain?

    Wahai saudara dari Malaysia, kami adalah bangsa yang cinta damai, ramah terhadap siapapun, dan mencintai persaudaraan. Kami juga bangsa yang penyabar dan mudah memaafkan. Jika kami marah terhadap bangsa saudara sekarang, seharusnya saudara intropeksi diri, apa yang telah bangsa saudara lakukan terhadap bangsa kami.
    Sekali lagi introspeksi dirilah jangan hanya sibuk membela diri.

    Wahai Saudara dari malaysia, apa yang mulut lakukan, sekarang hanya mengajak seluruh rakyat di negeri kami untuk memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan oleh seluruh anak2 negeri kami.

    4 Hanna
    Optimis …. masa depan kita pasti cemerlang, …. semua dimulai dan ditentukan dari bagaimana cara kita, para generasi mudanya, berpikir dan bertindak secara positif dan optimistis.

    4 imcw
    corong ke kanan .. corong ke kiri … la la la la la la … la la .. trims tlah mampir

    4 itsme231019
    salam kenal bang …. ikut nyebarin “fitnah” ini ya … btw : baby-nya lucu sekali

    4 all
    Please deh baca banner “mulut tak berjenis kelamin” di pojok kanan atas pliizzzz

  11. mulut…….mulut…………. n mulut…. 🙂
    *membiasakan mulut -tanpa jenis kelamin-*
    :mrgreen:

  12. bagi sayah.. diplomasi adalah jalur awal.. dan mungkin untuk stimulus agar bangsa ini menjadi bangsa yang lebih berharga.. maka gunakanlah cara2 yang keras…
    kalo Perang? kenapa tidak.. setidaknya dari perang mungkin ada nasionalisme dan harga diri yang muncul…
    berdiplomasi harus mempunyai target yang jelas, diplomasi pemerintah selama ini jangankan punya target, untuk menggolkan cita-cita mereka saja harus pontang-panting dan itu pun tidak dijamin keberhasilannya.
    so.. masihkah kita berdiplomasi untuk mendapatkan posisi tawar yang lebih baik didunia internasional dengan mental budak kita?
    sayah jadi teringat tulisan bang fertob tentang kecenderungan bangsa kita.. jadi makin muak sayah melihat ini semua…..

    “JIka tuntutan tidak didapat melalui mulut maka tangan hendaklah menggapai”
    😆

  13. koreksi memang tidak harus selalu ke luar, ke dalam juga perlu.
    semoga kita bisa “merdeka”. hihihi

    -IT-

  14. Kalo saya c berpendapat begini, mengapa masalah TKW di Malaysia tidak begitu menjadi perhatian bangsa ini. Kalau kita coba liat-liat lagi persitiwa yang ada di Indonesia, misalnya kasus penggusuran paksa para pedagang kaki lima (diseret-seret atau bahkan sampai dipukuli). Kemudian kasus “pengusiran” warga pendatang di Jakarta apabila kedapatan tidak membawa KTP Jakarta (coba bandingkan dengan kasus “pengusiran” TKI/TKW ilegal di Malaysia). dan beberapa kasus lainnya.
    Dari sini kita bisa merasakan sendiri bahwa bangsa ini bahkan tidak bisa menghargai sodara sebangsa kita, bagaimana dengan bangsa lain? apakah mereka harus menghargai bangsa kita sementara kita sendiri menginjak-injak bangsa kita.
    Yah, ini hanya sebuah pendapat dari buah perenungan saya. Wallahu a’lam…

  15. Masalah kebudayaan bangsa ini, kita lihat aja generasi muda bangsa ini yang lebih bangga mengikuti gaya hidup hedon dan kebarat-baratan. Akhirnya kebudayaan sendiri menjadi tidak diperhatikan. Nah, ketika ada bangsa lain yang mau merawat dan menggunakan kebudayaan kita (yang terabaikan oleh bangsa sendiri) baru kita merasa kecolongan.

    Kalau begini, siapa yang salah?

  16. ternyata pemerintah kita ga mewakili wibawa bangsa.. kecewa saya

  17. maling Malaysia menciluk (mencuri) tajuk posting anda ini di sini

  18. *nggak tau mesti komen apa*
    kenapa ya kok Malaysia nyari gara-gara terus ya? Apa gak sebaiknya kita *sensor* aja tuh negara? Eh, maaf ya, komen saya kok jadi anarkis gini..

  19. welgedewelbeh

    4 GRaK
    Berpuas diri hanya dengan sebuah pengakuan ? …. ah .. kau, bacalah lagi semuanya dulu OK.

    4 almascatie
    good good nah begitu ….. tapi jangan keterusan ntar dikira orang nggak beres .. he he he,

    Soal tangan menggapai ….. kayaknya rugi deh kalau buat kasus seperti ini. Coba bandingkan dengan kampanye ganyang malaysia yang dikumandangkan Bung Karno dahulu, isunya adalah “anti kapitalisme” dan “neokolonialisme”. Dimana Malaysia dipandang sebagai negara boneka Britain raya, salah satu gembong neokolonialis dan kapitalis dunia di saat itu. Kasusnya lokal, isunya internasional bung, itulah hebatnya Bung Karno. Kalo untuk kasus sekarang ….. isunya hanya terkait antara kita dan Malaysia saja (sekedar bilateral). Negara-negara lain … cuman nonton dan mungkin bertepuk tangan. Isu Ganyang Malaysia oleh Bung Karno dulu menggetarkan dua kutub besar Ideologi yang sedang bertarung. Kalau sekarang … ya mungkin semacam Morales dan Ahmadinejad lah bintangnya.

    4 irvan132
    Kok terakhirnya pake hi hi hi ….. lagi dikelamuti kambing ya … he he he (*jadi inget di kampus ITS kan banyak kambing berkeliaran*)

    4 prabuwardhana
    nah itu poin yang bagus bos, …. pemerintah harusnya mampu memanfaatkan “energi” nasionalisme dan cinta tanah air bangsa yang lagi naik tensinya ini dengan baik. Disalurkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan bangsa. Sayangnya pemerintah kita tidak cukup (mau?) pandai memanfaatkan situasi ini. Jadinya terpaksa harus kita … para blogger Indonesia yang harus angkat bicara, ngajak melek saudara-2 sebangsa

    4 brainstorm
    silahkan kecewa pada pemerintah kita …. lalu apa selanjutnya ?

    4 bakaq a.k.a. ~penarik beca
    Thank you for discussing my posting on your blog. Wish all the best for my country and so for yours. Keep this “health” brotherhood between the two nations for the bright future of South East Asia. BTW, that’s not a theft … that’s a very gentle referencing. I am honored. thank you

    4 qzink666
    ….. yang waras … yang sabar ….. he he he … minum dulu biar segerrr. Thx mampir lagi

  20. HAJAR BLEH………
    HAJAR BLEH………
    HAJAR BLEH………

    Masa tidak berani……

  21. […] posting bertajuk “Pembodohan ala Pers Malaysia” (tajuk di sini juga meniru tajuk yang digunakan oleh Welgedewelbeh – maling mencuri lagi?), […]

  22. Bukankah seharusnya kita lebih marah pada yang beginian, mereka adalah manusia yang punya hati, martabat dan saudara sebangsa kita sendiri. Mengapa kita begitu marah atas dicurinya segala simbol kebudayaan bangsa yang “hanya merupakan benda mati belaka”.

    Waduh, betul juga.
    Jadi terkesan seperti nasionalisme semu.
    Namun sampai sekarang saya ndak juga habis pikir tentang kelakuan pemerintah malaysia.
    Apakah mereka juga berniat membangun kebanggaan semu.
    Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah perasaan bahwa dirinya yang paling hebat dan orang lain tidak berharga.

  23. Ya Allah Ya Tuhan ku, berikan lah hidayah, petunjuk dan akal yang baik kepada para pemimpin negara ku Malaysia agar malaysia terus makmur, aman dan damai, dan terus berupaya untuk menjadi sumber rezeki untuk saudara-saudara ku dari indonesia.

    Ya Allah Ya Tuhan ku, berikan lah juga hidayah, petunjuk dan akal yang baik kepada para pemimpin negara indonesia agar mereka bisa mengurus negara indonesia dengan baik dan dapat mencipta banyak lapangan kerja untuk rakyatnya agar dimasa akan datang rakyat indonesia tidak perlu lagi mengadai nyawa merentas selat melaka untuk datang ke malaysia.

    Ta Allah Ya Tuhan ku, berikan juga kesabaran kepada kami agar kami bisa menerima dengan tenang tuduhan-tuduhan buruk yang dilemparkan oleh golongan-golongan tertentu kepada kami . Kami sedar hanya sebahagian kecil rakyat malaysia bertindak kejam kepada indonesia yang mencari rezeki di malaysia, namun ramai rakyat indonesia menganggap semua rakyat malaysia jahat dan tidak berperikemanusiaan.

    Ya Allah Ya Tuhan Ku, berikan juga kesabaran dan ketenangan kepada kami apabila mendengar nama negara kami MALAYSIA diburuk-burukkan olah rakyat indonesia dengan panggilan Malingsia dan sebagainya, walaupun berjuta rakyat Indonesia sedang mencari rezeki di Malaysia.

  24. @ Mulut …

    Betul, di indonesia orang maupun ormas2nya cuma sibuk jika kepentinganya terganggu. Masa bodo kek tentang indonesia, tki dan tkw … selama bukan palestina dan afghanistan yang diganggu sih mereka masa bodo … iya to ?

  25. tulisan yg bagus, saya setuju dengan anda, memang sebenernya lebih baik kita meneriakkan semuanya ini ke Yang Mulia Pemerintah Indonesia dulu daripada kita terlalu meributkan hal sepele seperti ini, lihatlah semua masalah yg harus Indonesia benahi daripada sekedar meributkan hal ini.
    saya juga ada menulis 2 postingan soal seperti ini, tapi rasanya tulisan saya juga kurang berarti, sebab “mereka” sudah terlanjur tersulut emosi dan termakan mulut media.

  26. wis toh..sudah berobat saja ke : http://www.kliniksehatqolbunsalim.wordpress.com

  27. […] Pembodohan Ala Pers Malaysia […]

  28. Sudah saya link linkkan.. mari kita sebarkan semangat ini kepada seluruh atmosfir blogger Indonesia..
    urus bangsa sendiri dulu.. baru kita urus orang lain 😉

  29. ama tetangga kok marah-marahan,..udah maafin aja, maklum dulu kan pernah sakit hati ama bung karno he he.., mari dibahas di warung kopi lagih okeh okeh..

  30. menurutku pers kita pun ikut memberikan pembodohan kepada rakyatnya… hiks

  31. mungkin bahasa melayu ya gitu itu… namun maknanya tidak selucu yang kita kira 🙂

  32. Hahaha, menarik menarik. ^^ Sayang sekali pers memang suka melebih-lebihkan… Tapi bagimanapun kutipan tentang menggunakan sekian banyak kata dan diam terpukau itu rasanya gimanaaa gitu ya. Mungkin itu karena demonstran sebenarnya menahan tawa, tapi nggak mau nyakitin perasaan mereka. Hehehe.

  33. Ini.. ikut nyumbang artikel. Bukan bermaksud membela Malaysia, tapi berusaha mengimbangi berita-berita picisan yang terus diblow media Indonesia:

    Tenang… Indonesia Juga Maling, Kok!

  34. aw.. linknya dimatiin yah?
    http://hariadhi.wordpress.com/2007/12/08/tenang-indonesia-juga-maling-kok/

  35. salam… saya org malaysia….. saya pon berharap indonesia maju… siapakah mahu lihat negara serumpun dimana kita berkongsi persamaan budaya, bahasa dan macam2 lgi hidup dlm serba kekurangan….even nenek moyang saya berasal dri sumatera indonesia… kadang2 warga kami sendiri pulang ke sana utk menziarahi ahli keluarga walaupon kewarganegaraan kami berbeza…. kaedah paling pnting sekarang ialah kita perlu duduk semeja berbincang dengan penuh berdiplomasi….

  36. dulu, kita mengirim guru ke Malaysia dan mahasiswa mereka numpang nimba ilmu di universitas-universitas kita. Malaysia menghormati Indonesia sebagai “guru”.

    sekarang, kita mengirim ratusan ribu perempuan untuk menjadi pembantu disana. Malaysia memperlakukan Indonesia sebagai “bangsa babu”.

    dari dulu sampai sekarang, kantor berita bernama memang begitu : terus-menerus membodohi rakyat Malaysia dengan berita-berita palsu, contohnya fitnah keji yang menjatuhkan pemimpin idola rakyat Malaysia, Datuk Anwar. Itu ditukangi kantor berita bernama.

  37. lam kenal ^^

    Hmm, sebenarnya iya sih, bener juga. Kesannya konyol kalau kita ribut2 soal budaya kita yang dicuri, tapi kita adem-ayem aja soal TKI. Pemerintah dari kedua pihak juga diem aja.

    Udah, kalau gini, kita tindak sendiri! Ngga perlu nunggu pemerintah!

  38. rakyat indonesia apa rakyat malaysia, dua2nya bodoh. bedanya cuman, rakyat indonesia kalo bodoh suka dibangga2kan, jerit2 dan teriak2. kalo rakyat malaysia, suka diam, pura2 ga denger dan pura2 tidur.

  39. Dalam beberapa komentar menyebutkan bahwa kita harus membenahi bangsa indonesia dulu baru mengurus hal-hal lain. Saya setuju, tapi persoalan mengenai curi-mencuri kebudayaan ini juga tidak boleh didiamkan dong. Apa reaksi yang ada di benak kita kalo nanti dunia mengakui jika angklung adalah warisan budaya malaysia, begitu pun batik, dan terakhir reog. Justru dengan adanya persoalan ini makin melecut rasa nasionalisme kita.
    Saya juga terus terang sedih melihat nasib TKI di negara jiran yang diperlakukan semena-mena. Karena itu di dalam negeri juga kita harus berbenah dong. Ciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya, sejahterakan rakyatnya, hindari korupsi (yang ini teramat syusye kayaknya…).

  40. zzzzzzzzz,,,,,:-)….:-)
    berfikiran sempit
    hal sepele sibuk jungkir balik,cuap2 g karuan
    hal yg bsa berdampak besar dan mencoreng2 negri
    gak peduli….ngiris,,,,,,,
    ui…ui…pemerintah mana aksimu
    lon puas juga bubuw manisnya,,,??????

  41. Harga diri bangsa dan warganya harus ditegakkan.. pemerintah RI kutunggu aksimu..

  42. salam kenal mulut,

    selain kita perlu terus memberikan kritik membangun pada pemerintah dengan berbagai macam tuntutan. kita juga harus dengan insiatif mandiri secara aktif berkontribusi nyata demi kemajuan Indonesia. jangan sampe kita cuma jadi orang yg bisanya nuntut doank tapi gilrian disuruh ngebantu gak mau. tul gak??

    btw, tukeran link yuk

    kamal87.wordpress.com

  43. Saya tidak akan komen apa-apa, tetapi jika menyangkut HARKAT DAN MARTABAT BANGSA DI OBOK-OBOK , saya bersedia berkorban jiwa dan raga.

    Generasi muda mari bangun negeri ini dengan segenap kemapuan kita, kita jaga kedaulatan negeri kita, kemana generasi muda sekarang???????, sah-sah saja kritik pemerintah tetapi alangkah baiknya jika masing – masing dari kita memulai sesuatu untuk menuju indonesia lebih baik,

  44. MULUT LAGI PUASA BICARA TAH? 🙂
    Mulut berjenis kelamin gak ya?

  45. Ini seorang lagi yang suka melihat kehancuran dua serumpun.Sepatutnya diberi jalan agar kedua2 Negara saling berbicara dan berunding bagi menyelesaikan perkara ini.Nasib baik kedua pemimpin negara Indonesia dan Malaysia sangat waras.Situasi menang-menang harus ditangani olih kedua negara serumpun ini agar mendapat maafaatnya.Percayalah ramai lagi wisatawan dunia akan berkunjung ke malaysia dan Indonesia sekiranya diadakan kerjasama.Tidak perlu lagi TKI mencari nafkah ke luar negara.peluang pekerjaan sudah pasti banyak diikuti dengan pembangunan tiba bersamanya.Berjuanglah untuk membangunkan negara dari berjuang untuk menjahanamkan sebangsa.

  46. indonesia kampong

  47. indonesia kampong negara mu takkan pernah maju semua kampong

  48. kami di malaysia nggak pena ungkit pasal pelacur2 dan pekerja indonesia yang membanjiri di malaysia apatah lagi buat hal di malaysia.INDONESIA ENGGAK PENA MAJU KAMPONG

  49. ya ampun..nggak perlu ribut2 lho…emang nya nyokapbokap gw pun asal muasal dr indo..kalu mahu diamal bdaya masa salah sich?kalu gw mahu pake tuch baju mlayu masa mlayu riau triak gw maling bdaya mreka?anih buaaanget kalian rkyt indo..

  50. @ng25
    “indonesia kampong negara mu takkan pernah maju semua kampong”
    Kata Cak Nun, Indonesia adalah bagian dari Desa saya.

    “kami di malaysia nggak pena ungkit pasal pelacur2 dan pekerja indonesia yang membanjiri di malaysia apatah lagi buat hal di malaysia.INDONESIA ENGGAK PENA MAJU KAMPONG”
    —-
    Artikel ini menyampaikan pemberitaan yang tidak sehat (cenderung hiprokit) oleh Kantor Berita Negara Anda — bukan soal pelacur, kalau Anda tidak pernah dengar, itu malah membuktikan bahwa media Anda tidak jujur.

    @aeril
    “ya ampun..nggak perlu ribut2 lho…emang nya nyokapbokap gw pun asal muasal dr indo..kalu mahu diamal bdaya masa salah sich?kalu gw mahu pake tuch baju mlayu masa mlayu riau triak gw maling bdaya mreka?anih buaaanget kalian rkyt indo..”
    —–
    Kalau ingin memakai atau menggunakan silahkan… tidak ada yang melarang. Hanya saja jangan pernah mengaku-aku bahwa (misalnya) baju yang Anda pakai itu berasal dari Negara Anda. Itu tidak jujur. Sudahkah Anda paham bedanya “memakai/menggunakan” dengan “mengaku-aku/klaim”?

    Ayah-Bunda mu dari Indonesia bagian mana? Anggap saja Sumatera Barat, kalau mau mengamalkan Rendang silahkan, tapi jujurlah dari mana rendang itu berasal sebagaimana Anda bisa mengaku Ayah-Bunda mu dari Indonesia.

  51. Saya dah baca luahan perasaan hati dan jiwa anda. Tentang ketidakpuasan anda terhadap
    pemerintah negara anda tidak menyediakan peluang secukupnya untuk mengatasi masalah pekerjaan, hingga banyak mencari rezeki di Malaysia, saya kata “NO COMMENT”, Tapi kami orang Melayu di Malaysia TIDAK PERNAH marah atau benci kepada saudara serumpun datang
    bekerja di negara kami. Kami orang Islam, masakan kami sanggup berbuat demikian. Tuduhan media massa Indonesia kami kejam dan zalim terhadap saudara serumpun kami itu adalah tuduhan biadap dan Ya Allah, jatuhkanlah bala dan laknat Mu kepada mereka mereka itu. Saya ingin terus terang mengatakan ORANG MELAYU di Malaysia TIDAK berlaku demikian. Mereka kami terima dengan baik. Mengapa anda tak tanya sendiri dengan pekerja pekerja itu? Semua perbuatan kejam dan zalim itu dilakukan oleh Majikan Majikan NON-MALAYS ! Tanyalah DUBES
    Indonesia di Kuala lumpur itu. Anak saya sendiri menggunakan tenaga kerja wanita Indonesia.
    Ia dianggap sebagian dari familinya. Diberi cuti tiap minggu.Dibayar Lima Ratus Ringgit sebulan.
    Makan ditanggung sepenuhnya, Bilik menginap disediakan Tak perlu beli apa apa, semuanya ada. Kes kes aniaya memang ada berlaku tetapi dilakukan oleh Majikan Non-Malay Dong !

  52. Saya berasa sedih sungguh membaca tuduhan media massa dan TV Indonesia. Sebenarnya, orang orang Melayu di Malaysia terdiri dari berbagai suku kaum, seperti Jawa, Minangkabau, Aceh, Bugis, Riau dan bebagai suku kaum. Mereka berpindah pindah dari satu kawasan ke satu kawasan, dari satu tempat ke satu tempat BERPULUH PULUH TAHUN sebelum datangnya
    Inggeris dan Belanda serta Portugis lagi ke Gugusan Kepulauan Melayu atau disebut juga Nusantara. Mereka bawa budaya mereka ke mana mana mereka pergi merantau. RamaI orang Jawa bawa tarian Jawa, nyanyian Jawa, seni silat Jawa, pakaian Jawa. Orang Minang pun
    bagitu juga. Mereka bawa adat perpath, adat resam dan masakan Minang mereka. Sampaikan satu negeri, Negri Sembilan mereka dirikan dengan Rajanya dan Adatnya sebati dengan bumi Malaysia hingga sekarang ini. Malaysia dan Indonesia adalah entiti baru, hasil dari pergolakan politik serantau. Dimana bumi di pijak, disitu langit dijunjung, kata nenek moyang saya. Oleh itu
    budaya keturunan Melayu dari berbagai suku kaum di Malaysia adalah bebas mempamirkan budaya masing masing untuk tarikan pelancung atau wisata. Pemerintah Malaysia tidak mencuri
    apa apa budaya, Malaysia is a Political Entity and has no connection whatever with the culture
    of the various Malay groups. When we promote our country, we show what we have in our
    country. That’s all. We also promote Chinese culture because we must allow the Chinese
    living in Malaysia to display their cultural heritage. We also promote Indian music for our overseas tourists. Why all this fuss about stealing culture ! The Chinese President was very
    happy to see the Chinese in Malaysia displayed Chinese culture in Melaka when he visited Malaysia in 2009. The People’s Republic of China NEVER accused Malaysia of stealing Chinese Culture ! The Spanish Government NEVER accused the Filipinos and the Latin American countries of stealing Spanish Culture ! Even the Indian Government was TOTALLY SILENT although the Pendet dances in Bali and other cultural elements adopted by the Jogja Sultanate are ACTUALLY Indian in origin. Never in history has there been such an allegation !

  53. Kesan dari perselisihan yang di timbulkan oleh media massa Indonesia, dalam waktu terdekat ini,telah pun menghasilkan kerugian besar kepada peniaga peniaga kulit dan kain di kota kota Bandung, Surabaya, Bogor, Jogjakarta, Medan dan Bali. Orang Malaysia tidak lagi berminat kesana kerana keselamatan diri mereka yang tidak menentu. Mereka mengalihkan tumpuan untuk pergi ke Ho Chi Minh City di Vietnam.. AIR ASIA pula baru saja membuka 6 pintu laluan
    bagi pelancung Malaysia melawat India, termasuk New Delhi, Bangalore, Mumbai dan Chinnai.
    Begitu juga M.A.S. sudah membuat “route map” yang baru dalam iklan iklan di akhbar tempatan.
    Oleh kerana tiada lagi permintaan dari pelanggan, AIR ASIA dan M.A.S. terpaksa mencari laluan laluan baru bagi pelancung pelancung Malaysia ke destinasi destinasi di luar negara.
    “Purchasing Power” orang Malaysia adalah agak kuat dan wang yang sepatutnya di agihkan kepada gedung gedung di kota kota Indonesia sudah berpindah tempat ke India, Vietnam dan Tiongkok. Sekiranya keadaan di Indonesia sudah memberi keyakinan kepada kami di Malaysia,
    untuk menjalin semula hubungan silaturrahim antara bangsa serumpun, maka mungkin “putus
    tali boleh di sambong”. Only time will tell.

  54. Terima Kasih atas infonya…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s