Napas-napas kemerdekaan bangsa di Bulan Desember

welgedewelbeh

Di bulan Desember ini paling tidak terdapat tiga hari Nasional yang luar biasa maknanya akan tetapi tidak banyak yang menyadari dan menganggapnya sebagai sekedar hari nasional biasa. Ketiga hari nasional yang mulut maksud adalah Hari Nusantara, Hari Bela Negara dan Hari Ibu. Yang pertama diperingati setiap tanggal 13 Desember, yang kedua diperingati setiap 19 Desember sedangkan yang terakhir disebut diperingati setiap tanggal 22 Desember.

Mengapa ketiga hari tersebut mulut katakan memiliki makna yang istimewa?, tentu saja karena ketiga hari tersebut dipilih untuk memperingati tiga momen luar biasa dalam sejarah perjalanan bangsa kita. Tiga momentum sejarah yang atasnya kita seharusnya berbangga dan sekaligus malu sebagai generasi muda Indonesia tahun 2000-an. Lho kok bangga dan malu, apa nggak merupakan suatu paradox? OK deh untuk mendapat jawabannya silahkan simak penjelasan mulut berikut ini :

1. Hari Nusantara (13 Desember)

Ir. H. Djuanda KartawidjayaTanggal 13 Desember diperingati untuk mengenang deklarasi Juanda. Sebuah deklarasi fenomenal dalam sejarah bangsa kita yang dikumandangkan oleh perdana menteri kita Ir. H Djuanda Kartawijaya pada tahun 1957. Deklarasi tersebut merupakan titik tolak penegasan bahwa wilayah kedaulatan hukum Republik Indonesia adalah meliputi seluruh darat dan laut diseluruh kepulauan Nusantara yang meliputi laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Deklarasi tersebut sekaligus juga menolak pengakuan dunia Internasional bahwa wilayah kedaulatan Republik Indonesia hanya sebatas wilayah daratan plus 3 mil laut dari garis pantai masing-masing pulau sehingga kapal asing boleh berlayar secara bebas di luar wilayah tersebut. Dengan deklarasi tersebut wilayah negara kita meluas menjadi dua setengah kali lipat (5.193.250 km²) dari luas wilayah sebelumnya yang hanya 2.027.087 km². Ia juga membuat negara kita menjadi negara kepulauan terbesar di dunia salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia (wikipedia).

Meskipun telah dideklarasikan sejak tahun 1957, akan tetapi pengakuan internasional akan konsep negara kepulauan Indonesia tidaklah didapat dengan mudah. Baru tahun 1982 deklarasi ini akhirnya dapat diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB ke-III Tahun 1982 (United Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982).

Sayangnya meskipun telah mendapat pengakuan internasional atas kesatuan wilayah laut, darat dan udara bangsa kita, namun bangsa ini belum mampu mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari hal ini. Malahan orientasi kebijakan pembangunan nasional bangsa kita lebih menekankan pada pembangunan daratan daripada kelautan. Hal ini bisa dilihat dari tidak adanya departemen khusus yang menangani kelautan selama 54 tahun setelah kemerdekaan, baru pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999) wawasan nusantara dicoba untuk diwujudkan secara nyata dengan dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan. Indikator lainnya adalah dipilihnya panglima TNI yang didominasi unsur angkatan darat sejak tahun 1973.

Akibatnya potensi kelautan kita tidak termanfaatkan dengan baik. Mulai dari termarginalkannya masyarakat nelayan kita (baca juga di sini), perbandingan tenaga kerja sektor kelautan-daratan yang sangat timpang, pencurian ikan oleh kapal-kapal asing, rendahnya teknologi kelautan kita, rusaknya habitat laut (baca juga di sini) dan terumbu karang dan lain sebagainya. Padalah kalau kita mampu memanfaatkan laut kita secara maksimal kita bisa kaya dan masalah pengangguran bisa mendapatkan jalan keluarnya.

Belum lagi secara kultural bangsa kita telah mulai terbiasa menjadi bangsa daratan. Bahkan beberapa suku bangsa kita yang kental dengan tradisi laut seperti suku Bugis-Makasar, Maluku, Madura dan lain sebagainya perlahan-lahan mulai terkikis nilai-nilai kebahariannya; Anak-anak mudanya mulai tidak tertarik pada dunia laut ataupun menjadi nelayan (baca di sini atau di sini). Padahal kalau kita mau menengok jejak-jejak sejarah bangsa kita, semua kerajaan besar bangsa kita berciri sebagai kerajaan maritim (baca di sini). Juga lihatlah sejarah bangsa-bangsa besar di masa lalu dimana armada laut memainkan peranan kunci untuk kemajuan bangsanya.

Lebih jauh lagi, saat ini lagu “Nenek moyangku seorang pelaut” mulai diposisikan sebagai lagu anak-anak belaka, semangat keunggulan bangsa dari lagu tersebut sudah mulai dilupakan, bahkan nilai-nilai kebesaran bangsa pelaut sudah banyak yang tidak mengerti (baca di sini). Yang berkembang malah opini bahwa laut adalah tempat sampah, dan menguatnya istilah “kelaut aje” seakan-akan laut adalah tempat dari segala sesuatu yang buruk dan nggak keren.

Nah bagaimana bisa menjadi negara maritim yang besar dan disegani oleh negara lain kalau kebijakan kita tidak menuju arah yang semestinya?. Bagaimana bisa memanfaatkan laut untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat kalau teknologi kelautan kita tidak dibangun dengan sungguh-sungguh?. Bagaimana kita bisa melindungi kekayaan laut kita kalau armada penjaga laut kita terdiri dari kapal-kapal bekas yang selalu kalah cepat dari kapal para pencuri ikan kita?. Nampaknya pemimpin bangsa ini masih lebih mengindahkan kepentingan kelompoknya dengan mengorbankan kepentingan bangsa yang lebih besar (renungkan ketimpangan tampuk kekuasaan TNI yang 90% dipegang oleh angkatan darat).

Terlepas dari visi maritim bangsa kita dan segala permasalahannya, yang menarik dari fragmen sejarah deklarasi Juanda ini adalah perjuangan dan kepeloporan bangsa Indonesia dalam mengajukan konsep negara kepulauan. Demi kepentingan nasional, pantang menyerah bangsa kita memperjuangkan konsep ini hingga menjadi konvensi internasional. Sebuah warisan bagi anak cucu bangsa Indonesia yang tak terkira nilainya. Meskipun pada awalnya ditentang oleh bangsa-bangsa besar dunia (tentu saja mereka keberatan karena kepentingan nasional mereka dirugikan), bangsa kita (sekali lagi) kukuh menunjukkan KEMERDEKAAN-nya sebagai sebuah bangsa, tidak takut akan tekanan ekonomi ataupun politik dari negara-negara neo imperalisme moderen. Sekali lagi ini adalah salah satu napas kemerdekaan bangsa kita di bulan Desember.

2. Hari Bela Negara (19 Desember)

Mr. Sjafrudin PrawiranegaraPencanangan 19 Desember sebagai hari bela negara memang relatif masih baru, yaitu semenjak tahun 2006 yang lalu oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Akan tetapi maknanya juga tak kalah luar biasanya dibanding dengan makna hari Nusantara.

Hari bela negara dicanangkan untuk memperingati pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Bukit Tinggi, Sumatera Barat karena pimpinan negara (SukarnoHattaSyahrir) ditawan dan dibui setelah agresi militer Belanda ke-2 tahun 1948. Kewenangan untuk memaklumkan eksistensi republik yang baru berdiri tersebut dilimpahkan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara bersama Kol. Hidayat, Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera.

Peristiwa ini penting sekali untuk diresapi maknanya karena ia membuktikan keuletan bangsa Indonesia, sikap pantang menyerah dan pewujudan Republik Indonesia bangsa merdeka meskipun ditekan dan diserang oleh kekuatan-kekuatan besar dunia. Peristiwa ini juga menunjukkan semangat bahwa prioritas nomor satu adalah kepentingan bangsa dan negara bukan kepentingan golongan. Hal ini bisa dilihat dari latar belakang partai Mr. Syafruddin Prawiranegara yang berasal dari partai Masyumi, bukan dari PNI yang merupakan partainya Presiden Sukarno ataupun dari Partai Sosialis Indonesia yang merupakan partai PM Syahrir. Beliau juga bukan berasal dari Sumatera yang merupakan daerah Bung Hatta.

Karena peristiwa ini, Belanda tidak bisa membuktikan kalau Republik Indonesia telah bubar dan kemudian harus mengambil jalan diplomasi dengan PDRI yang dipimpin Mr. Syafruddin Prawiranegara tersebut. Sekali lagi ini adalah salah satu napas kemerdekaan bangsa kita yang lain.

3. Hari Ibu (22 Desember)

Momentum luar biasa ketiga di bulan Desember ini adalah hari Ibu. Momentum hari ibu bagi bangsa kita ini sangat luar biasa karena ia memiliki akar sejarah yang sekali lagi menunjukkan jati diri sebuah bangsa yang merdeka jiwa raga (red: pada saat itu). Hari ibu ditetapkan untuk memperingati Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928 atau sekitar dua bulan setelah Sumpah Pemuda.

Fakta bahwa tanggal hari ibu bangsa Indonesia yang berbeda dengan mother’s day sebagian besar bangsa-bangsa lain yang membebek hari ibu Amerika Serikat maupun Eropa adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat disangkal. Apalagi spirit perayaan hari ibu bangsa kita yang tidak sama dengan perayaan hari ibu bangsa-bangsa lain tersebut menunjukkan kemandirian jati diri bangsa kita yang luar biasa. Kalau perayaan hari ibu di Amerika, Eropa dan sebagian nagara-negara Timur Tengah berakar sejarah pada pemujaan Rhea sebagai ibu para Dewa Yunani, maka hari Ibu kita mewakili kemandirian jati diri bangsa yang merdeka. Tidak serta merta membebek pada propaganda ideologis yang dilancarkan Amerika dan bangsa Barat lain yang diturut saja oleh bangsa-bangsa lain seperti Turki, Australia, Jepang, Italia, Jerman termasuk juga Singapura dan Malaysia dan lain sebagainya.

Kalau hari ibu di negara-negara tersebut berspirit ungkapan terima kasih atas pengorbanan kaum ibu di sektor domestik, maka hari ibu bangsa kita bertitik tolak pada perjuangan kaum ibu untuk turut serta membangun dan memerjuangkan kemerdekaan bangsanya. Tercatat berbagai rekomendasi strategis pemberdayaan perempuan telah ditelurkan dari kongres bersejarah tersebut seperti penolakan terhadap perkawinan paksa dan perkawinan di usia anak-anak yang banyak merugikan perempuan, pengusulan beberapa butir pasal perceraian yang pro-perempuan, perjuangan tunjangan kesejahteraan bagi para janda dan anak yatim serta, pendirian sekolah-sekolah perempuan, akses pendidikan dan beasiswa. (baca di sini dan di sini) Mengenai ungkapan terimakasih terhadap kaum ibu, bangsa kita sudah terbiasa menghormati dan berterima kasih kepada para ibu.

Sekali lagi, yang perlu digaris bawahi di sini adalah kemandirian bangsa kita untuk menentukan identitasnya sendiri berangkat dari akar sejarah dan budayanya sendiri merupakan cerminan dari sikap bangsa yang merdeka. Partisipasi aktif pergerakan kaum perempuan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa ini yang menjadi spirit hari ibu bangsa kita merupakan satu lagi napas-napas kemerdekaan bangsa ini yang amat sangat layak kita banggakan.

==============================================================

Nah semua yang disampaikan mulut di atas adalah bukti-bukti bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki jati diri sebagai bangsa merdeka. Akan tetapi kecenderungan anak-anak muda kita yang mulai banyak berkiblat ke Amerika atau bangsa lainnya, serta merasa malu dan minder sebagai bangsa Indonesia adalah hal lain yang patut disayangkan. Perasaan kerdil dan minder itu sendirilah sikap-sikap dimana kita seharusnya merasa malu.

Terlalu banyak sudah para pengamat yang membicarakan negeri ini dengan nada mengecilkan, sudah tumpah ruah dokumen seminar yang hanya mampu menumbuhkan pesimisme anak bangsa, dan tak ada habisnya kata-kata berciri inferiority ditebarkan di sekeliling kita melalui koran, televisi maupun media masa lainnya termasuk juga blog. Padahal kalau kita mau menelusuri lorong-lorong sejarah, kita pasti akan malu untuk bermental demikian kepada generasi awal kemerdekaan, kepada generasi pra kemerdekaan (mereka yang merasakan sakit dan pedihnya dijajah), kepada diri kita sendiri, kepada generasi sesudah kita nanti, maupun kepada sejarah itu sendiri.

Bangsa kita sudah ditakdirkan menjadi bangsa besar, merdeka jiwa dan raga. Pertanyaannya adalah ….. apakah kita akan terus-menerus berkubang dalam kebodohan, perasaan rendah diri dan merasa inferior sebagai bangsa?. Kitalah yang harus menjawabnya ….. kitalah yang harus mewujudkannya.

Bangsa kita berhak dan bisa menjadi bangsa besar. MERDEKA !!!

Iklan

16 Komentar

  1. Wah, tgl 13 ditetapkan sebagai hari Nusantara yak? Terus terang saya baru tahu.
    Semoga siyal melulunya bangsa ini bukan lantaran tgl 13 ya, bro.. 😛

  2. Bangsa yang besar adalah bangsa yang punya cita2… cita2 kita apa yaah…. 🙂

  3. welgedewelbeh
    4 qzink666
    nah lho . . . . . . . . tahu itu satu hal, what would we do after know that’s another question . . . . and need another answer :). Tanggal 13 = sial? masak dapat tambahan wilayah hingga menjadi 2,5 kali lipat kok dibilang sial …. 🙂

    4 kurt
    cita-cita bangsa Indonesia yang ada di pembukaan UUD 45 itu sudah sangat luar biasa, lupa ya pak

  4. Seharusnya yang menjadi Negara ADIKUASA DUNIA adalah Indonesia. Tapi sayang Banyak Kucing garongnya.. Inforrmasi yang didapat urutan ke 5 dalam masal korupsi. nanti perlu diperingati sebagai hari Korupsi Indonesia !

  5. Salut buat MULUT yang masih memperhatikan tiga hari besar itu lantaran rakyat sekarang sudah banyak yang tak peduli akan hari-hari besar Republik ini. Rakyat sekarang sepertinya lebih memikirkan bagaimana memperoleh sembako dengan harga murah… (Salam)

  6. wah pekerjaan tulisan yang tidak sebentar… salut deh.. bisa buat referensi ey…

  7. welgedewelbeh
    4 Muhammad Rachmat
    Memandang bangsa secara obyektif itu perlu tapi memandang bangsa secara pesimis itu sama sekali nggak ada untungnya lho ….. 🙂 keep optimistic

    4 Arsyad Salam
    Makasih atas komen-nya. Memperhatikan hari besar itu bukan esensinya lho ….. lebih penting lagi meneruskan semangat hari-hari besar tersebut buat berkarya secara nyata untuk memajukan diri, keluarga dan bangsa. Salam hangat bos.

    4 kurtubi
    Weleh …. datang lagi …. makasih pak kurt, njenengan ini yang bikin aku tergerak lagi ngeblog.

  8. SELAMAT TAHUN BARU 1429 H
    dan
    SELAMAT TAHUN BARU 2008 M

  9. Maaf, baru sempat berkunjung. Tulisannya ngalir benar, salut.

    Tgl 22 Des 2007> Met Hari Ibu ya.
    Tgl 25 Des 2007> met Natal Bagi yang merayakan
    Tgl 1 Januari 2008> Met Tahun Baru ya…
    Moga sukses selalu.

    O, ya, mari selamatkan laut kita. Laut bukan tempat sampah. Sedih membacanya.

  10. wuihhh… pretty comprehensive

  11. selain peringatan Hari juga ada Malam lho… membuktikan bangsa kita lebih lengkap soal peringatan… :mrgreen:

  12. artikel nya tak kopinya, sip buat generasi Indonesia biar tidak JASMERAH.

  13. kayak gado – gado aja….
    tapi enak di baca lho mas!!!
    hitung – hitung buat peringatan untuk generasi muda juga….
    salam kenal!!!

  14. sip deh

  15. Apakah Hari Bela Negara itu dulunya bernama Hari Infanteri?

  16. siap dah,
    semangat untuk indonesia,semangat untuk garuda 😀
    STOP KORUPSI dan SUAP di Indonesia


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s