Ternyata niat baik saja (dianggap) tidak cukup

welgedewelbeh

Beberapa waktu yang lalu, mulut terlibat dalam sebuah diskusi yang cukup asyik dengan saudara Wibisono Sastrodiwiryo di blog budayawan muda miliknya. Gara-garanya adalah komentar mulut di postingan Isyarat Pak Harto di mana mulut menyatakan tidak menyetujui beberapa poin dari isi postingan tersebut. Komen pertama mulut ditanggapi dengan baik oleh sang empunya blog, meski sempat dikira kurang jeli membaca artikelnya.Dengan semangat berdiskusi yang hangat mulut melanjutkan mengajukan beberapa tanggapan dan meyakinkan bahwa mulut sudah cukup teliti di komen ke dua.Yang mulut nyesel adalah di komen ke-dua tersebut, mulut pake ngajak bercanda penulis dengan mengatakan bahwa mungkin malah dia yang kurang teliti, juga bahwa posting itu bukanlah Isyarat Pak Harto melainkan isyarat kalau si penulis adalah orang yang ngefans Amin Rais. Nah mungkin gara-gara mulut tetep bersikukuh pada pendapat semula dan karena guyonan tersebut, akhirnya mulut mendapat komen balik yang beberapa poinnya cukup pedas.

Puncaknya adalah ketika identitas mulut mulai dipertanyakan dan dipermasalahkan. Dikatakannya bahwa diskusi tanpa identitas adalah jauh dari apa yang namanya bertanggung jawab. Bagi dia identitas adalah elemen yang penting dalam berdiskusi. Bahkan secara tersirat hidden identity yang dipilih holeh mulut seperti dijelaskan dalam disclaimer kami dianggap tidak mencerminkan sebuah kredibilitas yang tinggi.

Satu hal yang janggal dalam komen balik kedua ini adalah, sikap defensif yang luar biasa yang ditunjukkan oleh kawan potensial yang mengaku sebagai budayawan muda ini. Seperti diambilnya posting pertama mulut sebagai dalih bahwa mulut tidak bisa memahami jalan pikiran Amin Rais. Padahal jelas-jelas (kalau mau baca dengan teliti posting tersebut — bukan judulnya saja), maka akan jelas bahwa tujuan postingan tersebut adalah untuk mengajak kita semua berempati, dan nggak gampang menyesatkan kelompok lain.Sepertinya kok kawan kita yang satu ini mencari-cari segala kelemahan personal mulut untuk tidak terus fokus menanggapi topik yang mulut diskusikan, yaitu soal Amin Rais dan reformasi. Mungkin inilah yang disebut para politisi ataupun aktivis sebagai pembunuhan karakter. Komen balik kedua tersebut diakhiri dengan menyebut disclaimer mulut sebagai sebuah pernyataan yang kontradiktif. Dalam bahasa dia sendiri, dia menyatakan “Niat baik tanpa identitas? Bagaimana mempertanggung jawabkannya? Tapi itu urusan anda. Sebagus apapun pikiran dan gagasan anda tak bisa dipertanggung jawabkan.” Mengabaikan seluruh serangan dan ke OOT-an bahasan, mulut terus melanjutkan diskusi dengan penuh prasangka baik, harapan dan rasa tanggung jawab, setidaknya demikianlah suasana hati mulut menurut mulut sendiri. Coba saja lihat komen terakhir mulut dalam diskusi tersebut. Dimulai dengan permintaan maaf, mengatur segala kata dengan kontrol sopan santun dan adab ketimuran yang mulut yakini merupakan nilai yang adiluhung. Tidak ada satupun “serangan” di komen balik kedua yang mulut tanggapi dengan “serangan” balik lagi karena mulut nggak ada waktu untuk debat kusir.

Tapi apa daya, harapan tinggal harapan. Dengan hati yang hancur akhirnya tanggapan balik ketiga atas komen ketiga mulut harus mulut terima. Beberapa link berita memang masih diberikan untuk membahas topik diskusi, selebihnya .. sebagian besar adalah kelanjutan serangan kepada karakter mulut. Tidak perlu rasanya mulut kupas satu persatu apa serangan balik yang mulut terima di komen balik tersebut toh semua blogger bisa menilai sendiri dari komen balik tersebut. Yang lebih menyedikan adalah niat baik mulut untuk minta maaf ditanggapi dingin dengan berkata :

“Permohonan maaf andapun sulit saya tanggapi karena siapa yang harus saya maafkan? anda bukan siapa siapa.”

Mulut tidak hendak melanjutkan diskusi di sana toh dia sendiripun telah menyatakan enggan untuk berdiskusi secara lebih jauh dengan mulut dengan mengatakan :

“BTW: Saya males membahas masalah anda ini, membuat postingan saya jadi tidak fokus.”

Baiklah, mulut pun tidak melihat ada niat yang baik dari saudara Wibisono Sastrodiwiryo dalam menanggapi maksud baik mulut. Semoga saja, itu tidak menjadi bunuh diri intelektual kawan kita yang satu ini.

 

Semua diskusi di atas adalah background dari posting mulut kali ini. Diulas terlebih dahulu dengan bahasan yang dicoba diutarakan seobyektif mungkin agar para pembaca paham latar belakang tulisan ini. Masalah hidden identity dari seorang blogger seperti yang mulut pilih dan kredibilitasnya di blogosphere Indonesia penting untuk diangkat di sini, karena ini menyangkut hajat hidup banyak blogger. Benarkah hidden identity = tidak bertanggung jawab = tidak memiliki kredibilitas?. Simak saja deh ulasan mulut berikut ini yang sebagiannya diambil dan dimodifikasi dari komentar ke-tiga mulut di artikel yang bersangkutan.

Semoga saja, ulasan ini bisa menjadi pelajaran yang berharga buat kita semua para blogger Indonesia. Harapan mulut ke depan, masalah ini tidak perlu terlalu diributkan lagi dan marilah membangun negeri ini dalam kerangka rukun blogger dan niat yang baik. Bagi mulut, terlalu sayang energi dan waktu dibuang-buang hanya untuk meributkan hal yang tidak terlalu penting semacam ini. Akan tetapi, tentunya semua terserah anda …. andapun mulut undang untuk unjuk pendapat dalam masalah ini di forum komentar dari artikel ini.

———————————————————->

Menulis tanpa identitas, bukanlah hal baru di dunia ini. Dunia sastra kita pun pernah mengalami fase dimana para penulisnya adalah anonim. Pilihan ini tidak membuat mereka dikatakan sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, bahkan beberapa diantaranya adalah karya sastra yang luar biasa dan mendapat apresiasi yang tinggi. Tanggapan saudara Wibisono Sastrodiwiryo terhadap hal ini dengan mengatakan bahwa mereka tidaklah anonim akan tetapi memiliki nama alias sebenarnya sudah terjawab dari awwalnya. Bukankah “mulut juga merupakan sebuah nama alias juga?. Penggunaan nama alias semacam ini tentu saja didasari oleh sebuah pemikiran dan tujuan tertentu, dalam hal ini telah dijelaskan semua dalam disclaimer blog mulut.

Bahkan kalau kita ikut mengalir bersama zaman, dan aware dengan aliran jaman tersebut. Maka dunia intelektualisme bentuk baru tidaklah harus beridentitas. Ya … dunia maya Internet memaksa kita untuk memaknai ulang makna eksistensi manusia dan identitas kemanusiaan. Dalam bahasa pak Ribut Wiyoto “internet dapat mewujudkan gagasan kebudayaan post-Filosofi”. “Sebuah karya sastra cerdas” yang bergerak dari satu pemikiran filsuf besar ke filsuf besar lainnya tanpa sungkan, sambil tidak segan memunculkan pemikiran sendiri secara kritis. Mengajukan “deskripsi, sistem simbol dan cara pandang” yang lain.

Lebih Jauh lagi, dengan adanya internet, beliau mengatakan “telah terjadi perubahan konsepsi kemanusiaan” itu sendiri. Kasarannya “di internet, tidak ada yang tahu kalau Anda berwujud anjing” he he he. bener nggak?. Kalau kita mau jujur siapa yang bisa jamin kebenaran identitas seseorang di Internet?. Terlalu banyak kasus blog yang menggunakan identitas yang seakan-akan benar, dilengkapi dengan foto, dan nomor telepon de el el segala padahal itu palsu. Siapa yang tahu kalau mulut ini ternyata Amin Rais atau kang Jalal atau bahkan SBY sendiri he he he.

Pertanggung jawaban dan integritas secara intelektual di internet itu tercermin dari apa yang disampaikan dan kemauan yang bersangkutan untuk berkomunikasi. Sejauh anda bisa dihubungi, memiliki email address, tidak menutup komen dan berkata dengan bertanggung jawab maka itulah inti sikap bertanggung jawab secara intelektual di internet. Lebih jauh lagi secara moral … pertanggung jawaban itu sejatinya kepada Tuhannya sendiri-sendiri.

Cara berfikir tentang tanggung jawab intelektualitas yang sekan wajib beridentitas mirip dengan bangsa barat, dimana sekarang mulut sedang menimba ilmu. Di dunia barat dibiasakan bersikap kritis, sayangnya sikap kritis itu terlalu berat dimaknai sebagai “lihatlah siapa yang berbicara”. Jika ada seseorang membaca sebuah jurnal, maka initial assessment dari jurnal tersebut adalah siapa penulis jurnal itu, jurnal apa yang memuat, berapa banyak jurnal lain yang dia hasilkan, dari lembaga mana penulis itu berasal. Semua yang disebutkan mulut di atas digunakan sebagai judgment awal penentu layak tidaknya sebuah jurnal untuk dilihat lebih lanjut. Inilah budaya popularity based yang memang merupakan salah satu fundamen bangunan sosial bangsa barat.

Sikap kritis demikian tentu boleh-boleh saja diadopsi, akan tetapi kalau digunakan sebagai satu-satunya dasar judgment … maka kita akan rugi sendiri. Ibaratnya … bagaimana jika ada mutiara di dalam lumpur dasar laut yang kotor. Sikap kritis semacam itu hendaknya membantu kita melihat sebuah opini atau karya intelektual secara lebih komprehensif itu saja.

Secara idealita, bangsa kita sebenarnya memiliki cara pandang yang lebih mulia akan obyektifitas intelektual. Telah sering diajarkan pada kita untuk melihat apa yang diucapkan dan bukan siapa yang mengucapkan. Itulah sebenarnya yang menjadi landasan filosofi blog mulut. Mendidik diri sendiri untuk menerima kebenaran secara apa adanya, yang bisa datang dari siapa saja dan dari mana saja.

Mengenai integritas seseorang terkait dengan jelasnya identitas orang tersebut sebagaimana saudara Wibisono Satrodiwiryo rujukkan ke tulisan Fatih Syuhud. Bagi mulut tulisan itu bahkan memperkuat argumen yang diajukan mulut tentang identitas itu sendiri. Tidak ada di sana keharusan bahwa untuk ber-integritas seseorang harus memiliki identitas yang jelas, yang ada adalah kepribadian yang jelas, kepribadian yang selaras antara ucapan dan tindakannya.

Bahkan pandangan yang lebih fundamental soal identitas ini secara indah dikutip oleh Alex R. Nainggolan dari pemikiran Goenawan Mohammad, bahwa para sastrawan “harus menyerahkan diri mereka sebagai “orang tanpa identitas”—dengan mengutamakan prinsip humanisme universal, sehingga memandang sesuatu persoalan dengan lengkap”. Sekali lagi identitas mulut adalah tersirat dari buah-buah pikiran yang mulut hasilkan itu sendiri, silahkan saja semua orang mengkonstruk image identitas mulut berdasarkan persepsinya massing-masing. Toh meminta orang lain untuk mengakui diri sendiri sebagai orang yang anu atau orang yang ini juga merupakan tindakan yang sia-sia.

Penerapan konsepsi validitas pendapat dan perkataan seseorang terkait dengan integritas pribadi orang tersebut yang mulut diskusikan di sini tentu saja tidak bisa kita terapkan secara semena-mena dalam kasus menimbang sanad (ketersambungan hadits dari pengucap terakhir kepada rasulullah) dari sebuah hadits. Hadits adalah salah satu sumber hukum Islam, dimana kedudukannya adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Tentu saja kita harus berhati-hati mengambil perkataan Nabi kita dari orang yang tidak terpercaya. Sedangkan kita ini hanyalah manusia biasa, ucapan dan pendapat kita hanyalah satu dari sekian juta pendapat yang bertebaran di atas bumi. Tidak ada yang akan menjadikannya sebagai pegangan hidup yang bersifat eternal, jadi karenanya logika tersebut menjadi absurd di sini.

Hati-hatilah kita semua karena yang disebut-sebut orang sebagai intelektualisme dan sikap kritis itu dapat membuat kita mencerabut diri sebagian akar tradisi bangsa kita yang adi luhur. Membuat kita pongah dan berlari menjauh dari apa yang kita sebut dengan budaya yang santun, sikap yang saling menghormati dan budi pekerti yang tinggi.

Terakhir, soal niat/berbuat baik tanpa identitas (terutama dalam konteks sosial). Jika saudara seorang muslim, bukankah hal demikian (dalam hal-hal tertentu) malah dianjurkan?. Ingat nggak ungkapan berikut : “kalau bisa tangan kirimu tidak tahu ketika tangan kananmu bersedekah”. Oleh karena itulah banyak sekali kitab luar biasa dalam khasanah Islam klasik (turats — bukan kitab Taurat lho) ada banyak kitab yang pengarangnya (mushonnif — bahasa arab dari pengarang) hanya menyebut dirinya sebagai hamba Allah ataupun sebagai mushonnif saja.

Nah bagaimana pendapat anda semua, para blogger Indonesia, mengenai hal ini?. Pendapatnya kami tunggu di sini. Semoga diskkusi ini membawa manfaat bagi mulut, saudara Wibisono Sastrodiwiryo serta seluruh anak bangsa Indonesia.

Jayalah Indonesiaku, Jayalah Bangsaku.

Artikel terkait :

  1. Scientific and Credible Blogger
  2. Anonymity and credibility
Iklan

32 Komentar

  1. Assalaamu ‘alaikum
    Saya sendiri bingung, jenis kelaminnya mulut ini apa. Jadi ragu-ragu ketika mau menyapa :mrgreen: Sekalipun saya pernah membaca komennya mulut supaya cukup memanggilnya dengan mulut saja, karena mulut tidak berkelamin.

    Identitas yang disembunyikan mungkin paling kentara di dunia maya semacam blog ini. Alasannya mungkin lebih kepada faktor “kenyamanan” belaka. Bukan karena “tidak ingin dikenal” atau karena “ikhlas” sehingga merasa tidak perlu orang lain mengetahui jati dirinya.

    Saya sendiri tidak menyembunyikan identitas diri, bukan karena alasan ingin dikenal. Tetapi lebih karena dorongan pertanggung jawaban moral, dalam artian, saya merasa dituntut untuk lebih berhati-hati ketika membuat tulisan atau memberikan komentar. Karena apapun yang tulis, akan menjadi deskripsi mengenai siapa saya sesungguhnya.

    Dalam kondisi tertentu, menyembunyikan identitas boleh jadi memang diperlukan. Saya kebetulan cukup lama nyemplung di dunia broadcasting dan jurnalistik. Perusahaan menerapkan kebijakan bahwa identitas para penyiar disenmbunyikan pada saat on air. Alasannya demi menjaga “hal-hal yang tidak diharapkan” dan “kenyamanan pribadi penyiar”. Demikian pula sewaktu menjadi wartawan di media cetak. Identitas wartawan sengaja dirahasiakan dengan alasan yang sama. Tapi toh hal tersebut tidak mengakibatkan kredibilitas media menjadi disangsikan atau dianggap tidak bertanggungjawab oleh khalayak pendengar/pembaca.

    Mulut… kayanya kepanjangan nih… Segitu aja dulu, sebenarnya banyak yang ingin saya saya sampaikan, termasuk meluruskan “halah” soal kebiasaan sebagian para pengarang kitab -mushonnif- yang tidak menyebutkan namanya.

  2. Wah, ad-hominem kembali marak ternyata..
    Sabar aja, bro, mungkin dia lagi sensi.. 😛

  3. yang satu (mulut) gak mau nyebut identitas, yang satu lagi (ngaku budayawan) punya banyak identitas… Berdua mau diskusi??? Ya jelas gak nyambung lha… Lha wong standardnya gak sama…. 😀

  4. Sebetulnya komentator di blog yang anda maksudkan itu berlaku ad-hominem, kok. Dia menyerang pendapat pribadi. IMHO, lho, sebaiknya jangan terlalu diambil pusing. 😀

  5. itu biasa dalam reformasi *halah* :mrgreen:
    saya setuju bahwa kadang niat baik saja tidak cukup (untuk orang-orang tertentu). sebagian memang butuh kejelasan sebelum bisa menerima pesan. sebagian cukup menilai pesannya, perkara dari siapa tak ada masalah kalau memang ada benarnya. saya kira komentar Anda telah menyentuh egonya. jadi, yang muncul kemudian adalah sikap pembelaan. *barangkali ini* 😀

  6. tulisan itu yang penting isi tulisannya, bukan orangnya..
    nama MORISHIGE ini saja nama samaran, kok..
    🙂

  7. Weee…… ada lagi perkara yang sama.. setelah kemarin-kemarin diskusi langsung ada yang ngangkat topic yang sama.

    Memaksakan kehendak orang lain untuk sependapat dengan kita hanyalah sebuah kenistaan, anda hanya akan melawan hukum alam “sunaatullah”. Namun demikian alangkah idealnya kita berpendapat, beritikad baik, dan beridentitas jelas. Namun perlu juga kita lekatkan lagi kalau dunia maya internet gak selalu lebih bersahabat dan sopan untuk sebagian kalangan.

  8. Ini bukan karena ingin mencari dukungan, ‘kan? Hehe..ya, kalau seseorang tidak menimbulkan kerugian bagi banyak pihak dan tetap mampu menghasilkan karya-karya luar biasa dengan menjadi anonim, itu malah bagus. Yang tetap mesti diperhatikan adalah bagaimana seseorang tersebut tetap menjaga dirinya agar tidak lepas kendali

  9. Beberapa memang cenderung melecehkan dan menganggap sepele orang-orang tanpa identitas. Anggap aja latihan sabar mas. 😉

    Sependek yang saya tahu, orang milih ngeblog tanpa identitas itu karena alasan keamanan, karena ingin mengangkat masalah-masalah yang terlalu berbahaya, atau berpotensi membahayakan/mengganggu orang-orang yang dikenalnya. Atau… ah, intinya ya menyembunyikan diri karena alasan keamanan.

    Kalau cuma mau jadi penulis biasa-biasa aja, yang tulisannya aman-aman aja, ngapain harus menyembunyikan identitas?

  10. Menurut saya sah2 az kox, tp lebih asik pk idntitas yg jls coz kn bs leluasa kopdar, ya kn?

  11. abis ngopi tadi, langsung dah googling. dah baca tuh di mas budayawan muda…seru juga, cuma emang aku bingung dengan tangagapan beliau yang ngaku budayawan…..
    Terus terang aja aku pendukung berat anonimitas di internet, kenapa enggak, semua bos2 sekarang selalu monitor terus activitas pegawainya di internet…katanya ngabisin bandwith kantor aja……
    buat mas budayawan muda, bener kok mulut lulusan its, dosen juga, tapi bukan di its, lagi sekolah di luar ………. he he he hebat ga?????
    sorry mulut, ga tahan nih…he he he he….

    peace

  12. welgedewelbeh
    4 all
    Makasih bener lho telah menghadiri forum urun rembug blogger ini. Susah memang untuk menjinakkan nafsu ingin mencari dukungan dan menjaganya agar nafsu yang jalan tetep (hanya) untuk mencari kebenaran saja. Semoga saja nafsu-nafsu busuk yang kemaren mulut sembelih waktu hr raya korban, nggak bangkit lagi dan gentayangan disekujur jiwa blog ini. Amin.

    4 Ram-Ram Muhammad
    yang — OOT — dulu (meski tapi masih ada hub. dengan identitas)
    Nggak perlu pusing lagi soal jenis kelamin mulut pak yai, kalo disebut mas bisa jadi mulut ini laki-laki, kalo disebut mbak bisa jadi mulut ini perempuan, kalao disebut mas/mbak bisa jadi mulut memang bener-bener orang yang menolak diidentikkan secara kelamin, bisa jadi kan mulut ini nggak hanya satu orang … bisa saja blog ini diawaki beberpa orang dengan jenis kelamin yang macem-macem. Ya sutra lah kembali ke badge atas blog ini sajalah …. mulut nggak berjenis kelamin, gitu aja kok mak erot …. 😛

    Makasih telah ikut rembugan di sini. Melihat ulasan njenengan yang panjang lebar = luas, mulut membayangkan njenengan ini kayak keynote speaker sebuah rembugan …. setelah selesai baru rembugan dimulai. Yang laen-laen pun pada mulai unjuk bicara. he he he …

    Soal alasan kenyamanan, sepertinya harus diakui pak yai … memang marem berbicara di balik mulut semacam ini. Menyuarakan apa yang menurut mulut benar dari arah yang tak diketahui. Akan tetapi di alam maya seperti ini, konsepsi “dari arah yang tak diketahui” sebenarnya juga telah bergeser jauh. Sejauh pergeseran makna manusia itu sendiri karena adanya teknologi internet. Seperti mulut bilang di artikel, selama selalu menjaga sopan santun, itikat baik, punya alamat, kontak dan tidak menutup diri untuk berkomunikasi, itulah juga bentuk tanggung jawab.

    Soal ikhlash dan nggak ingin dikenal …. mohon bantuan do’anya saja pak kiyai. Semoga selalu bisa istiqomah.

    Oya ditunggu lho soal lmau “meluruskan” statement mengenai mushonnif.
    *longok-longok rumah njenengan …. sambil gak sabar*

    4 qzink666
    Kan sudah sabar, sudah minta maaf, sudah berusaha menunjukkan niat baik …. tapi kebenaran kan harus ditegakkan. Thx

    4 alief
    Makanya didiskusikan biar nyambung, ternyata silaturrahmi intelektual tidak selalu berbuah persaudaraan.

    4 Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Mulut tidak pusing …. hanya rasanya dapat sedikit “sariawan” saja . Ini kan juga demi hajat hidup banyak blogger. Thx atas nasehatnya.
    * sambil tengok lagi text about di sidebar kiri atas — teringat apa yang mulut benci*

    4 sitijenang
    “ego” ? siapa sih dia kiyai ? …. kenalin dong. Lha kenal (ego) aja belum mana bisa mulut nyentuh dia .. he he he. Oya … mantra (kidung) warisan orang tua njenengan maknyus tenan untuk menenangkan jiwa yang sedang panas.

    4 morishige_turun_gunung
    Suara hati kan juga nggak keliatan bentuknya (kadang nggak kedengaran lagi – lirih)…. tapi kan nggak harus diabaikan. Thx bro. Kalau bau yang timbul tanppa suara …. terus nggak ada yang ngaku …. itu baru nggak bertanggung jawab. iya kan
    * mencari-cari siapa yang kentut* 🙂 btw : emang kemaren di puncak mana ?

    4 Alus Setya Pambudhie
    Makasih ikut urun rembug di sini. Niat baik harus selalu dihargai kan …. ?

    4 StreetPunk
    Inilah hebatnya persaudaraan para blogger, (secara sosial) bisa bantu mengendalikan diri ….. (secara personal) selalu ingat mati saja. Tak lupa untuk terus memandang Indonesia dengan optimis, percaya diri, selalu menebarkan energi positip, santun dan tidak lupa akan tradisi leluhur.

    4 Guh
    Ah … hebat kali kau membaca kemana angin blog ini akan bertiup. :). Soal keamanan … idem deh dengan penjelasan mulut buat pak kiyai Ram-ram

    4 maxbreaker
    Mulut juga ingin lho ikutan kopdar … tapi sebagai blogger yang lain lagi saja. Lha kalau misalkan awak blog ini jumlahnya selusin bisa bikin seneng pemilik warkopnya .. he he he.

    4 mbak Piss
    Pitnah nih pitnah ….. please dehh ….. * njitak mbak Piss * awas ya kalo pake acara buka-2 di sini ntar disensor ama KBI (komisi blog Indonesia). he he he. Thx eniwei.

  13. wong om roy suryo aja nge blog dengan anonim kok

    hehehe…

    Emang om roy buat blog yaks.. 😆

  14. berat…berat… soal segini aja kok direpotin. yg namanya blog siapapun orangnya baik itu nyata atau tidak, bener atau bo ong itu cuma fakta lain dari sebuah blog. Mengutip dari sang pengaku budayawan (entah benar atau tidak) “Oh silahkan saja, masing masing punya hak beropini, tidak dilarang. Pembaca blog saya bisa menilai kredibilitas komentar apalagi komentar yang datang dari orang yang tidak memiliki identitas.”
    Kredibilitas sebuah blog tidak di ukur dari identitas pemilik blog tapi dari mayoritas tulisannya. Saya termasuk orang yg tidak memiliki identitas lho. Who know me? Not anyone. Tapi kenapa ada yg mengunjungi?
    Saya cukup menyesalkan sikap mas wibisono ini. Dia terlalu memandang rendah blogger lainnya. ingat blog itu adalah sebuah diary berjalan yg bebas anda tuliskan apa saja. termasuk sebuah identitas apakah perlu ditulis atau tidak itu hak masing2. mengingat kutipan di atas, rasanya saya juga bisa menilai seperti apa kredibilitas beliau. semua kembali kepada pribadi masing2.
    Buat Mulut, whoever you are. salute. semangat!

  15. segera meluncur keTKP dulu..

  16. ooohhhh begitu to.. wah kalo itu sih kaya’nya sang budayawan kurang punya sense of humor.. hehehe
    payah juga kalo jadi budayawan begitu, pantes ga’ bisa terkenal.. hehehe

  17. busyet……

    *lagi ngebayangin, kira-kira berapa jam tuh ngetik postingan sepanjang itu.. 🙂

    *salut….. 🙂 *
    Nice post.. nambah wacana saya… 🙂

  18. Hmm… setelah dipikir2 tulisannya Om Budayawan tuh cukup sarkas juga.
    (Soalnya saya juga pake anonim sih di Internet ;-P ). Tapi, mendingan ga usa di peduliin.
    Hidup tetap berjalan, terserah dia mo berargumen apa pun, Aku adalah Aku seperti juga Kamu adalah Kamu.

    Habisnya ini sudah menyinggung masalah prinsip dan “urusan pribadi”. Dah, lanjutin aja ke topik yang lain… Ato bagi ilmu yang lain 🙂

  19. alumni ITS? *tos sesama ITSnya :D*
    saya ndak mau ikut campur, cuman mau berkomentar..
    aman damai aja lah…
    bloggerkan bersaudara, betul ngak anto? *yg buat banner blogger basodara* 😀

  20. Ini yang saya sedikit sesalkan dari “model” diskusi di negeri ini 🙂

    Kalau seandainya diskusi yang terjadi antara mulut dan budayawan muda itu terjadi pada fotum ilmiah atau sebuah journal ilmiah, dimana keanggotaan harus diregistrasi terlebih dahulu, kemudian mendapat approve dan konfirmasi dari universitas bersangkutan, maka figur atau siapa dibalik diskusi itu sangat penting, karena ini menyangkut kredibilitas di dunia ilmu pengetahuan.

    Tapi ini terjadi di dunia blog, dimana anonimitas adalah bagian dari interaksi antar blogger. Selengkap apapun seorang blogger memberikan identitasnya, tetap saja ada kesulitan untuk memverifikasi bahwa “blogger” tersebut adalah benar orang yang dimaksud.

    Lalu kemudian ketika identitas seseorang terungkap, lengkap dengan gelar dan karya-karyanya, maka apakah diskusi itu bisa berjalan dengan sehat sesuai asas logika ? Belum tentu.

    Bisa saja kita kemudian terjerumus lagi dalam logical fallacy yang bernama Argumentum ad Verecundiam. Yang kita lihat adalah SIAPA-nya dan bukan APA yang dikatakan oleh si blogger itu. Penilaian kita akan bobot argumentasi seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh SIAPA yang mengatakan dan bukan penilaian obyektif terhadap apa yang dikatakan.

    Itulah salah satu contoh “menara gading intelektualisme” yang justtru dibangun oleh kalangan intelektual sendiri. Bahwasanya ilmu pengetahuan hanya dimengerti oleh mereka dan menilai orang lain berdasarkan SIAPA yang berdiri dibalik suatu argumen.

    Dan saya bisa mengambil kesimpulan awal, bahwa sebagian besar blogger di Indonesia itu adalah “BUKAN SIAPA-SIAPA“, karena mereka menggunakan hidden identity atau anonim.

    Yang saya lihat di blog busayawan muda itu adalah beliau berusaha menggiring permasalahan inti diskusi (Soeharto) menjadi masalah identitas siapa yang berkomentar. Menurut saya, dia juga Bukan Siapa-Siapa karena saya tidak bisa memverifikasi siapa dia, apakah dia benar adalah seorang yang memang dibalik blog tersebut atau yang lain.

    Alasannya sederhana, di internet tidak ada yang tahu kalau seseorang adalah “bukan seseorang”. Atau dalam bahasa sononya, on internet nobody know you are a dog. Tapi kita memperlakukan “si anjing” dengan modal kepercayaan saja, sambil berharap bahwa diskusi berjalan baik. Tapi kalau “si anjing” mempertanyakan kita “anjing” jenis apa, maka kita bisa balik menanyakan bahwa “si anjing” itu anjing jenis apa juga.

    Tapi kalau “si anjing” hanya memperbolehkan bahwa “anjing” dengan jenis tertentu yang mempunyai kapabitilitas untuk berkomentar, maka silakan si anjing bermain dengan aturannya, tetapi tetap saja bagi kita, di sana tetap “anjing”, tapi dengan tambahan embel-embel.

    Mungkin perumpamaannya terlalu kasar. Tetapi itulah kenyataan dunia internet. Kalau kita mau membuka pikiran kita dan menyingkirkan argumentum ad verecundiam itu maka diskusi akan menjadi sehat.

    *sorry jadi ngeblog* 🙂

  21. muahahaha… buat mulut, silaken deh kalo mau bikin tafsir. saya tambahin do’a baru tuh. saya baru bisa menikmatinya sendiri… :mrgreen:

  22. klo menurut saya sih itu terserah masing2 orang. tapi emang akan jauh lebih baik kalo kita menunjukkan identitas diri kita

  23. leh tulisan gusdurnya mana mas?

  24. welgedewelbeh
    4 sstkr
    Om Suryo ngeblog anonim …. emang ada hubungannya?, nggak lagi … 🙂

    4 benbego
    Thx bro …. Majukan blogger Indonesia ==> Majukan Indonesia

    4 brainstorm
    Mungkin emang aku nggak pandai bercanda kali ya … he he he

    4 antarpulau
    Makasih dah ikut rembugan di sini ….. btw pulau-pulau Indonesia masih banyak yang anonim lho …. nah kalo pulau wajib ‘ain hukumnya dinamai OK

    4 nirleka
    Anonimitas di internet emang kadang menjadi pilihan yang baik. Soalnya para pemilik database kita tuh … menggunakan data kita untuk profilling potential customers … kadang ada yang dijual sebagai database calon pembeli.

    4 aRuL
    Pernah jadi SC BK nggak? …. *tos juga*

    4 Pyrrho
    Belum bos … belum sampe sambutan penutup diskusi .. he he he … masih dibuka kok. Thx eniwey. Dunia maya memang tidak selalu ramah.

    4 sitijenang
    OOT — Nggak jadi ah mulut ini boso jowone boso jowo bletokan cak, duduk boso langitan *ngeper* 🙂

    4 kamal87
    Menunjukkan identitas nggak selalu baik lho ….. tapi juga banyak baiknya 🙂

    4 aRUL
    Heladalah …. kemaren sempat liak kedipan postingnya ya ….. he he he, sorry kemaren salah pencet publish (harusnya simpan). Wah ditunggu ….. ternyata

  25. saya lebih tertarik ke kalimat terakhir
    Apapun merek, protokol ataupun format mulutnya, yang lebih utama adalah bagaimana menjadikan keanekaragaman tersebut untuk Jayalah Indonesiaku, Jayalah Bangsaku.
    Damai itu indah lho…., syukur2 bisa jaya!

  26. karakter orang bisa dilihat dari ucapannya. Kalau dia senang memancing kontroversi berarti memang begitulah karakter si dia, suka membuat “onar”. just my opinion

  27. […] dari kelemahan sehingga sering terjadi masalah yang menyerempet personality seperti aku baca pada postingan ini atau menimbulkan masalah lain seperti menjelekan orang lain atau penyerangan terhadap pribadi yang […]

  28. saya banyak belajar dari kasus ini. pernah juga nemu kasus di huru-hara beberapa waktu lalu, saling ber ad hominem saling serang secara pribadi. memang benar, yang penting apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan…

  29. […] dari kelemahan sehingga sering terjadi masalah yang menyerempet personality seperti aku baca pada postingan ini atau menimbulkan masalah lain seperti menjelekan orang lain atau penyerangan terhadap pribadi yang […]

  30. Kalo saya sih selalu berpegang pada hadits: “Jangan pandang siapa yang berkata, tapi pandanglah apa yang dikatakannya.”
    Salam kenal Mul. Sudah lama saya lihat Anda wara-wiri di blogosfer. Tapi baru kali ini saya bertandang ke kediamanmu. Salut. Nice blog.

  31. ues that sit

  32. hoaheem,.. ngantug niatnya… tapi gak cukup niat,. tidur ah..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s