Yang hilang di era informasi itu telah kembali

welgedewelbeh

Semenjak era informasi mulai mewabahi negeri ini, mulut merasakan ada suatu tradisi yang sangat penting yang perlahan-lahan memudar. Apa yang menghilang itu ? yaitu tradisi intelektualisme. Kemudahan dan kemurahan berkomunikasi secara langsung menggunakan ponsel, menina-bobokan anak-anak muda kita dan membunuh daya intelek generasi bangsa ini secara perlahan-lahan. SMS dan e-mail sebagai sarana komunikasi yang baru yang lebih murah dan real time membuat layanan jasa pos menjadi sepi peminat. Bahkan masa panen jasa pos yang biasanya berlangsung di saat-saat menjelang Idul Fitri dan Natal pun kini juga semakin kehilangan pelanggannya.

Lantas apa hubungan antara sepinya jasa layanan kantor pos dan intelektualisme ?. Baiklah simak penjelasan berikut ya ….

Tanpa harus memulai sejarah komunikasi dan telekomunikasi manusia sejak awal, kita tahu bahwa berkorespondensi melalui media surat adalah satu-satunya jalan untuk tetap menjalin hubungan dengan kawan atau sejawat yang berada di tempat jauh. Teknologi pengirimannya pun berkembang pesat dari jaman ke jaman mulai dari dititipkan kepada kurir (baca: para kafilah/gembala yang hendak bepergian jauh), menggunakan merpati/elang post hingga yang lebih moderen dan terorganisasi yakni melalui jawatan pos. Seperti halnya teknologi pengirimannya, isinya pun juga berkembang mengikuti konteks jaman dan kebutuhan. Dari hal-hal yang bersifat personal seperti berkeluh kesah kepada sahabat, mengabarkan keluarga yang sakit, membagi berita bahagia kepada sanak famili dan handai taulan yang jauh sampai pada korespondensi perdagangan, kerjasama antar negara, korespondensi akademis, serta intelektual semuanya menggunakan jalur yang satu ini.

Seiring perjalanan sejarah, dan seakan didesak oleh kebutuhan akan kecepatan serta keandalan pengiriman yang tidak bisa ditawar lagi, kemajuan teknologi telekomunikasi pun meningkat pesat. Laju perkembangan teknologi yang ber-kurva eksponensial melesat meninggalkan garis waktu yang terus saja menggelinding konstan di horizon peradaban. Memasuki fase berikutnya, telegram pun menjadi jalur alternatif komunikasi baru yang bisa diandalkan. Beberapa tahun setelah telegram, era teleponpun menyusul dan turut berperan besar mengukir sejarah peradaban umat manusia. Berturut-turut kemudian teknologi radio pun memenuhi ruang udara bumi, dan yang terakhir, beberapa dasawarsa berikutnya menyusul teknologi komputer dan internet. Yang terakhir ini, ditambah lagi dengan kemajuan teknologi data storage, bagaikan mengubah aliran informasi menjadi bah informasi.

Sayangnya, seiring dengan kemajuan tersebut secara berbanding terbalik perilaku intelektual manusia di era informasi menjadi menurun. Lho kok bisa …. ?. ya begini gambarannya. Pada saat komunikasi jarak jauh masih mengandalkan surat, orang-orang biasa menuliskan pesan-pesan atau apapun yang ingin disampaikannya dengan cukup detail. Secara kasarannya, sebuah surat kadang berisi beberapa halaman tulisan yang berisi pesan yang ingin disampaikan tersebut. Pesan-pesan yang ditulis tangan ataupun ditulis dengan menggunakan mesin penulis tersebut hampir bisa dipastikan juga memuat ekspresi emosi dan pemikiran yang menulisnya. Jarang sekali ada orang yang mengirim surat yang hanya berisikan satu atau dua kalimat saja.

Bandingkan hal ini dengan kebiasaan berkomunikasi di era yang dimanjakan teknologi komunikasi (terutama ponsel dengan fitur sms-nya) di akhir tahun 90’an dan awal abad 21 beberapa waktu yang lalu. Para muda-mudi kita menggunakan teknologi canggih itu untuk terutama memenuhi social need mereka saja. Untuk bersambung silaturahmi dengan keluarga, bercengkerama dengan teman, pe-de-ka-te dan pacaran, menggoda ataupun curhat-curhatan saja. Sebagian yang lain menggunakannya untuk mempermudah mobilitas dan kordinasi yang menunjang keprofesian serta bisnisnya. Untuk dua keperluan di atas, sepertinya masih mending dibandingkan yang menggunakannya hanya sekedar untuk gengsi-gengsian saja.

Tidak terlalu berbeda dengan telepon dan ponsel, teknologi internet dengan kemudahan berkirim surat setrum (electronic mail -email) yang mulai mewabah dan me-murah di awal tahun 90 an, tidak serta merta memindahkan kebiasaan berkirim surat (dengan tulisan panjang – melalui kantor pos) ke teknologi ini. Padahal email memungkinkan kita untuk menulis sebanyak-banyaknya selayaknya berkirim surat menggunakan jasa kantor pos, bahkan dengan berbagai keunggulan. Misalkan waktu delivery yang cuman sekian detik dan delivery reliability. Tidak semua sih memanfaatkan internet dan email untuk tujuan-tujuan yang disebutkan terakhir, terutama bagi mereka yang berkecimpung di bidang jurnalistik, akademik, intelektual dan bisnis.

Yah mungkin saja fenomena ini disebabkan karena mahalnya pulsa ponsel dan tidak efektifnya menulis teks yang panjang-panjang untuk dikirim via SMS. Atau, yang soal email, mungkin juga disebabkan karena kemalasan ketidak-nyamanan membaca email yang panjang-panjang di layar monitor atau cuman karena faktor budaya yang malas baca dan malas menulis. Yang jelas, tidak ada yang akan menulis sms yang panjangnya setara dengan satu halaman penuh apalagi sampe dua atau tiga halaman. ūüôā Nah karena tulisan ini tidak dibuat untuk mengupas seluruh pengaruh baikdan buruk teknologi ponsel atau internet pada kehidupan manusia, maka kita akan kembali fokus ke masalah intelektualitas dan teknologi komunikasi yang digunakan.

Seperti telah mulut uraikan sebelumnya bahwa ternyata teknologi komunikasi yang kita gunakan berpengaruh pada aktivitas-aktivitas intelektual (yang terkait dengan komunikasi tentunya) beserta kualitas aktivitas tersebut. Dalam hal menulis misalkan, ternyata surat konvensional lebih memberikan dorongan bagi orang-orang untuk dapat mencurahkan pikiran-pikirannya ke dalam bentuk tulisan. Dengan menulis dan mengkomunikasikannya kepada orang lain, kreativitas terasah, pengorganisasian ide terbentuk, dan diskusi pun bisa berkembang. Demikian pula dengan membaca, surat konvensional memberikan kemudahan (karena nggak harus punya/bayar akses internet, nggak harus ada listrik dll) bagi orang untuk membacanya. Pun dengan surat, kedua aktivitas tersebut sepertinya “lebih manusiawi” lebih punya emosi dan perasaan — karena kita bisa memberi ilustrasi gambar, sketsa, pernak pernik dll di surat yang ditulis.

Bandingkan hal ini dengan email, bentuk huruf pun semuanya seragam. Kalaupun ada pilihan customize … itu cuman terbatas pada beberapa jenis font dan warna yang disediakan oleh mail servernya. Kalau mau menambahkan pernak-pernik pun atau gambar, semuanya adalah produk dari proses yang instan. Gambar kita copy paste dari kamera digital atau ponsel kita, atau dari gambar yang kita temukan entah di mana di jagad maya internet. Tentu saja bentuk komunikasi tulisan ini lebih sedikit memiliki jiwa daripada bentuk terdahulu yang lebih konvensional. Ini ngomongin e-mail lho …. soal SMS lebih-lebih lagi …. semakin miskin rasa, hati dan jiwa.

Lebih dalam soal membaca, kemajuan teknologi informasi membuat lebih banyak lagi orang hanya menjadi konsumen saja. Melakukan aktivitas intelektual pasif meskipun informasi dapat diperoleh secara lebih mudah. Soal menulis (yang mulut anggap sebagai aktivitas intelektual aktif), turut mencipta nilai dan menyumbangkan gagasan serta pemikiran berangsur-angsur menjadi barang yang langka. Kebanyakan orang kita hanya menjadi konsumen pasif baik di milis-milis ataupun di portal penyedia informasi lainnya. Padahal kalau kita mau kritis, menjadi konsumen informasi banyak kerugiannya lho … coba pikirkan siapa yang mampu hosting sendiri (pada saat internet masih mahal dulu), siapa yang bisa dan mampu bikin website di internet. Itu semua tentunya orang-orang/pihak-pihak yang berduit, mereka itu kebanyakan adalah pihak-pihak yang tidak bebas kepentingan. Apakah itu untuk mencari kekuasaan politik, pengaruh ideologi, ataupun sekadar untuk mencari keuntungan finansial.

Untungnya era www yang dahulu lebih didominasi kaum berpunya dan “berkepentingan” itu lambat laun mulai bergeser. Lebih-lebih dengan adanya teknologi web 2.0 yang bisa dianggap generasi ke dua web berbasis komunitas. Teknologi ini membuat situs social networking, wiki, dan folksonomy serta fitur-fitur web baru seperti RSS Feed dan APIs (application programming interface) tumbuh bagaikan jamur di musim hujan diberi pupuk dan disebari benihnya. ūüôā Teknologi ini memungkinkan siapa saja warga dunia untuk berperan aktif, berkontribusi dalam penciptaan nilai, sharing pengetahuan, bersambung rasa; budaya; ideologi; serta emosi. Semenjak itu, jagad maya tidak lagi menjadi hegemoni orang berpunya dan “berkepentingan” saja. Orang biasa pun kini bisa turut andil dalam penciptaan informasi, saling mengoreksi dan membangun nilai global secara komunal.
Sebagai salah satu anak kandung dari web 2.0 ini, blog memegang peranan yang sangat besar. Sifatnya yang setengah personal setengah konsumsi publik, setengah ilmiah setengah gaul, mudah administrasinya, search engine friendly, serta fitur-fitur tag, APIs, Agregator, Tracker dan lain sebagainya membuatnya menjadi teknologi yang sangat digemari. Bahkan mulut yakin aktivitas ngeblog sudah mulai menggeser aktivitas chatting yang sempat menjadi “the black hole” yang menyedot habis waktu kita saat ngenet.

Kembali ke masalah intelektualisme.

Menulis sebagai aktivitas untuk menciptakan, mengorganisir dan mengkomunikasikan nilai, ide serta pengetahuan telah dilakukan sejak jauh hari oleh beberapa generasi sebelum kita. Para pemikir yang tahu kekuatan tulisan menuliskan hasil-hasil pemikirannya. Semua intelektual berkorespondensi dan bertukar pikiran dengan orang-orang yang memiliki interes yang sama dengannya dengan media tulisan. Mulai dari Kartini, Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Gie, Kahlil Gibran, Tagore, Nietche, Einstein, Hassan Hanafi, H. Agus Salim, Cak Nur, Hamka, Gus dur dan banyak lagi juga melakukan hal yang sama, meski teknologi komunikasi masih sangat terbatas.¬† Bahkan Pramoedya A.T. menyatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Di dunia Arab ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “Ilmu itu bagaikan binatang liar, maka ikatlah ia dengan tulisan”.

Karena demikian hebatnya hubungan antara aktivitas menulis dan intelektualisme, maka kita semua, para blogger, hendaknya bersukur dengan teramat sangat dengan adanya teknologi blog ini dengan segala kekuatannya. Terkait dengan kekuatan ini, bahkan sebuah buku mengatakan bahwa ngeblog bisa mengubah dunia. Toh telah begitu banyak orang baik yang secara ikhlas memberikan dorongan untuk menulis, terutama melalui blog yang murah meriah dan efektif ini.

Adanya blog seakan membangunkan jiwa-jiwa intelektual bangsa Indonesia yang lama terlelap dinina bobokan gemerlapnya kemajuan teknologi. Terbukti ribuan blog baru dibuat setiap harinya, ribuan tulisan disampaikan setiap saat, ribuan yang lain mengakses dan berkorespondensi melalui fitur komen dan track back. Kualitas posting dan blog meningkat tajam dari waktu ke waktu. Korespondensi dua arah yang biasa dilakukan oleh intelektual masa lalu, diperluas teknologi blog menjadi korespondensi publik yang multi arah, multi channel. Blog telah membobol keran-keran pergulatan wacana publik yang dahulu didominasi para penulis ternama di surat-surat kabar. Blog telah merubah banyak hal …..

Mulut yakin media internet dengan web 2.0 nya, terkhusus lagi blog, akan mempercepat langkah-langkah meraih kegemilangan umat manusia dan bangsa kita pada khususnya. Kalau dahulu, dengan perangkat komunikasi seadanya bangsa ini bisa melahirkan pemikir pemikir besar seperti Kartini,  Hatta, Tan Malaka, dan lain-lain. Maka yakinlah bahwa teknologi blog ini akan dapat melahirkan tidak hanya satu orang pemikir besar, akan tetapi sebuah generasi Indonesia baru yang cinta dan peduli tanah air, kreatif, cerdas, optimis, positif bertanggung jawab, dan berbudi luhur.

Tulisan ini juga merupakan himbauan mulut kepada rekan-rekan blogger yang lain untuk tidak berhenti berkarya, mengasah akal budi, intelektualitas kita dengan ngeblog. Mematikan blog, bunuh diri blog, berhenti ngeblog atau apapun namanya yang saat ini menjadi trend para blogger Indonesia merupakan anomali yang menyedihkan di saat kualitas posting dan blog secara umum mulai beranjak membaik.

Singkat kata, ayo bersukur akan karunia besar ini dengan terus berkarya, JANGAN BERHENTI NGEBLOG. Kalau anda merasa ngeblog terlalu menyita waktu anda, cobalah belajar manajemen diri dan waktu dengan sungguh-sungguh. Topik terkait dengan yang terakhir ini akan menjadi posting mulut berikutnya . . . . sabar ya.
Mulut bersukur karena yang hilang di era informasi itu telah kembali . . . . .

18 Komentar

  1. ketika era informasi dan komunikasi sudah mampu menembus batas2 geografis di mana negara dari berbagai belahan dunia menjadi sebuah perkampungan global, kenapa kita masih saja terlena hanya sekadar untuk mengembangkan aktivitas reseptif (membaca)? bukankah eksitstensi kita akan lebih bermakna jika kita juga mengembangkan aktivitas produktif (menulis)? blog yang praktis dan mudah dikelola bisa menjadi media yang strategis untuk membangun sebuah peradaban yang terhormat dan bermartabat dengan membangun budaya intelektualisme secara maya. Ok, makasih banget mas mulut telah memberikan pencerahan betapa pentingnya melakukan aktivitas ngeblog di tengah2 atmosfer intelektualisme di negeri ini yang dinilai masih tiarap, bahkan mati suri

  2. Cuma tutup boongan kok, Bos. Sekedar ikut tren harakiri hohohohoh.

  3. […] Dari¬†kemarin¬†yang¬†ada¬†di¬†situ¬†cuma¬†satu¬†link¬†saja¬†yaitu¬†link¬†dari¬†blog¬†saya¬†yang¬†lama¬†yang¬†ada¬†di¬†blogspot.¬†Jadi¬†karena¬†tahu¬†itu¬†link¬†saya¬†jadi¬†saya¬†tidak¬†begitu¬†peduli.¬†Tetapi¬†¬†pada pagi hari ini ada satu tambahan lagi yaitu:¬†Yang hilang di era informasi itu telah kembali. […]

  4. sekedar tambahan…..

    akan tetapi dampak perkembangan media tak sekedar memberikan dampak positif kepada khlayak baik di tatarn kognitif, afektif maupun behavior tapi juga memberikan dampak negatif.
    banyak para orang tua yang datang ke psikiater mengeluhkan ankanya ynag menjadi sangat pendiam dan cendrerung enggan bergaul dengan orang lain. ditelusuri ternyata disebabkan pengaruh internet yang membuat anak lebih suka berada di depan intenet dengan segala kemudahan yang didapat. Perkembangan media juga telah menggeserkan peran komunikasi antarpersonal padahal kekuatan komunikasi anaterpersonal bahakn jauh lebih efektif dibanding peran media massa. Misalnya saja, banyak para produsen yang kemudian melupakan strategy WOM (word of mouth) dalam aktivitas marektingnya padahal dari hasil riset MRI ternyata responden mengatakan sumber informasi terbaik bukan darimedia tapi justru dari WOM.

    Sperti yang dikatakan mas mulut, bagaimana kita bersyukur dengans egala keuntungan hadirnya teknologi saat ini dengan mneggunakannya untuk mengoptimalkan segala potensi kita, istilahnya mugnkin bisa menjadi media belajar yang efektif. Menggunakan media dengan cara yang tepat dan dengan porsi yang benar tentu akan sangat menguntungkan.

  5. *kesummon
    hmm… saya juga heran. kenapa tiba-tiba jadi banyak blogger yang mematikan blognya dengan berbagai alasan. apa mereka cuma mengikuti trend, ,kemudian karena bosan mereka menutup blognya?? entahlah…
    yang penting sekarang umat manusia jadi lebih bebas berpendapat..
    ūüôā

  6. tetep ngeblog lah…

  7. bener2 mulut nih…
    tulisan nya panjang2,….
    heheheh…

  8. yah, sekarang ini saya lagi bersemangat ngeblog nih…

  9. Klo saya pernah baca tentang berhenti nge blog tuh biar kita belajar bikin site sendiri. Dan aktifitas nge blog kita lebih bernilai karena kita yang bikin site itu sendiri. Meski krn gratisan, WP (wordpress) ini bisa di install dan diotak-atik and then di upload jadi situs pribadi kita. Nge blog bukan berarti nulis di blog-blog gratis ini aja kan, tapi juga dengan menulis di site yg kita bikin sendiri.
    Itu komen utk berhenti nge blog :mrgreen:
    Nah, klo ini komen utk tulisannya..great! Dan sy mendukung banget..setuju banget.
    Bener..teknologi maju kita malah makin males. Padahal disinilah perkembangan akan sangat pesat. Manfaatkan teknologi utk lebih mudah berbagi dan mengasah pribadi dan intelektualitas diri.
    tertarik sama komentar Teh Aprina..jadi inget dulu waktu sekolah ada kata-kata “klo masuk jurusan komputer susah dapet temen karena ga bisa gaul”
    Alhamdulillah, sy bergerak di bidang TI, dan ternyata temen-temen programmer di perusahaan sa ga kaku kok :mrgreen: Malah mereka sebagian besar “gila” ūüėÜ pun temen-temen programmer klien..intinya tergantung penyikapan terhadap internet itu sendir deng.
    Tapi memang banyak orang yang karena kecanduan internet lebih suka “menyendiri” dengan hobinya itu karena dia merasa “kebutuhannya” sudah terpenuhi dengan hanya berinternet dan/atau chat, kecuali dia menemukan orang yang “cocok” diajak berbicara mengenai hobinya itu. TInggal pendekatan terhadap orang tersebut.
    Dan perlu dicatat..internet tuh bikin candu..nge blog juga ūüėÜ

  10. Soal manajemen waktu, buat aku masih dalam proses penataan ulang, tapi harus segera dibereskan.

    posting yang bernilai justru karena bicara mengenai blog, tapi dari perspektif yang masih jarang diindahkan di dunia blog Indonesia. Posisi kita soal; ini persis sama, cuma caramu menampilkan lebih taktis dan diplomatis.

    Lanjutkan dengan postingan yang semakin mantap, kawan.
    Salam

  11. maju perut pantat mundur ūüôā , biar Indonesia tercipta Hatta, Sutan Tahrir S, Boedi Oetomo, versi milinium.

  12. Duh ngos-ngosan bacanya…

  13. SALAM.
    WAH SORRY NIH BARU NONGOL LAGI DI BLOG MULUT.
    BETUL SEKALI BUNG MULUT (MAAF SAYA PANGGIL BUNG) BAHWA BLOG MERUPAKAN MEDIA YANG CUKUP BAGUS UNTUK MENTRANSFORMASI NILAI-NILAI. SAYA RASAKAN SAYA MENDAPATKAN “PERUBAHAN” BAIK DARI CARA BERFIKIR MAUPUN BERTINDAK, KARENA SAYA MEDAPATKAN PEMIKIRAN BARU DARI BACAAN DIBEBERAPA BLOG.
    AWALNYA SIH SAYA CUMA ISENG-ISENG BERKOMENTAR DI BLOG ORANG, TAPI LAMBAT ALUN ADA IDE UNTUK MEMBUAT BLOG SENDIRI. AKHIRNYA JADI DEH…
    TAPI MEMANG UNTUK MENULIS YANG BAIK ITU…PERLU KEDISIPLINAN.
    SAYA SENDIRI SIH MENULIS ITU BELUM MENDARAH DAGING. MASIH TERGANTUNG SAMA “MOOD”. BUNG MULUT TAHU SENDIRI, YANG NAMANYA MOOD ITU ADA PASANG SURUTNYA.
    GIMANA PENGALAMAN BUNG MULUT SENDIRI.
    THANKS AND KEEP MOVING AJA.
    AHMAD

  14. Mulut, kenapa kau skearang bungkam. apdet lagi donk mulutnya

  15. oke juga…

  16. wong sidoarjo numpang lewaat yo mas, blogku sing iki sik anyar. dadi sik kpingin blajar akeh nang arek2.

  17. speechless deh depan mulut.. *always* masih kalah nih..
    Anyway, terima kasih sudah link di sini.

  18. mantap kali….setuju Bung Mulut.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s