Adili pimpinan dan backing FPI, Bubarkan FPI

Welgedewelbeh

Kasus monas 1 Juni kemaren yang diikuti dengan adu opini di berbagai blog, milis, forum dan lain-lain, berbagai macam fitnah serta pemelintiran fakta-fakta membuat mulut tidak tahan dan muak dengan itu semua. Pelaku kekerasan FPI harus diproses hukum dan ditahan. Pimpinan FPI serta dalang-dalangnya harus diungkap dan diadili, organisasi FPI harus dibubarkan.

Opini-2 dari blog-2 ataupun milis-2 yang sedang bersliweran mungkin saja sangat bias. Apalagi testimoni-2 ataupun kutipan korespondensi orang-2 yang dituduh sebagai aktor intelektual kerusuhan untuk mendukung teori konspirasi validitasnya juga masih simpang siur. Baca lebih lanjut

Iklan

Terkait konflik PKB, detik.com tidak netral

Welgedewelbeh

Berita politik paling panas dalam dua minggu terakhir ini adalah berita tentang konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Hampir semua siaran berita, baik cetak maupun elektronik (termasuk didalamnya adalah portal berita online) juga turut menyoroti konflik tersebut. Manuver demi manuver yang dilakukan oleh kedua kubu selalu saja memiliki daya tarik sendiri bagi media untuk memberitakannya. Sayangnya beberapa media massa yang seharusnya menjaga netralitasnya ternyata memiliki kecondongan-kecondongan keberpihakan. Yang ingin mulut soroti saat ini adalah portal berita detik.com, sebagai media masssa berpengaruh dan memiliki pelanggan yang sangat luas ternyata tidak menjalankan kode etik jurnalistik secara baik. Baca lebih lanjut

Gusdur tidak konsisten ?

welgedewelbeh

Akhir tahun merupakan momentum yang banyak digunakan orang terutama para blogger untuk memaklumatkan resolusi, kilas balik, refleksi, meluncurkan album dan lain-lain, agar menjadi lebih baik di masa mendatang ke ruang publik. Serasa tidak mau ketinggalan, partai politik A dan B, ormas C dan D, pebisnis, para politisi, kelompok penggiat masyarakat dan lain lain pun melakukan hal serupa. Para tokoh politik pun memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan publisitas atas apa yang ingin dia raih di tahun mendatang, terkait ataupun tidak dengan target politik menjelang pemilu 2009 nanti.

Satu hal yang menarik dari berbagai acara di akhir tahun 2007 tersebut adalah pernyataan Gusdur bahwa beliau mau maju kembali menjadi capres Indonesia di pemilu 2009 yang akan datang. Lho gus barusan kemaren (bulanNovember 2007) kan bilang kalau tidak bersedia menjadi capres di pemilu 2009, kok sekarang ngomongnya lain lagi?. Apakah njenengan tidak khawatir dianggap plin-plan atau tidak konsisten oleh rakyat di republik ini?. Welgedewelbeh …
Para pengagum dan orang-orang yang menghendaki Gusdur menjadi presiden pasti telah menyadari hal ini dan akan (mungkin sudah) menyiapkan seribu satu penjelasan akan sikap Gus yang satu ini. Begitu pula sebaliknya, para pembenci Gusdur, lawan politik ataupun orang yang sudah kadung sebel dengan segala tindak tanduk dan statemennya akan memakai fakta ini untuk mengecilkan beliau.

Posting ini tidak dibuat untuk menakar kekonsistenan Gusdur, ataupun menghakimi pilihan yang dibuatnya. Akan tetapi untuk mengajak kita semua merenungkan lebih dalam lagi makna konsistensi.

Bagi kelompok orang yang pertama, Gusdur itu adalah orang yang konsisten. Konsisten dalam menebarkan dan mengamalkan pluralisme dan kemanusiaan. Konsisten membela kaum tertindas, baik dari golongan mayoritas ataupun minoritas, tak peduli siapa yang ditindas (bahkan diri sendiri) dan siapa yang menindas, kawan sendiri ataupun lawan, menaikkan popularitas ataupun menghancurkan reputasinya. Mereka akan berkata kalau Gusdur itu konsisten di tujuan dan niat, caranya bisa jadi berbentuk macam-macam termasuk berubah pernyataan dengan sangat cepat.

Bagi mereka, bisa jadi ketidak-konsisten-an Gusdur kali ini didasari oleh rasa prihatin yang luar biasa terhadap perkembangan terakhir ke arah mana bangsa ini akan dibawa. Mulai dari merebaknya kekerasan yang berlindung alasan klasik kemurnian agama, sampai pada masalah serius seperti pelanggaran konstitusi kebebasan berpendapat dan beragama, termasuk sikap penakutnya presiden dalam hal ini. Arah pembangunan ekonomi yang lebih berpihak pada kapitalis besar dan disetir oleh kepentingan asing. Melebarnya kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin dan lain sebagainya. Semua isu penting tersebut “memaksa” Gusdur untuk mau ber susah-susah lagi (mau) menjadi calon presiden.

Kelompok pertama ini, juga akan menambahi bahwa Gusdur itu bukan orang yang “pedulian”. Pasti akan dikatakan kalau beliau itu nggak pernah mau peduli dikatakan nggak tahu diri, ngawur, kafir, sesat, apalagi cuman dikatakan plin plan dan nggak konsisten. Atau kasarannya, yang penting menempatkan kepentingan dan arah bangsa padda rel yang benar nggak peduli mau jadi presiden atau tidak.

Bagi orang-orang yang memang sudah nggak demen Gusdur pasti akan bilang: “nah tuh kan apa gue bilang …. tambah satu lagi bukti ke-mencla-mencle-an gusdur“. Dari sononya sudah nggak konsisten, mau dipegang apanya omongan dia itu. Orang nggak konsisten macam ini kan berbahaya banget kalau mimpin negara, bisa anjrut-anjrutan negeri ini jadinya. (dan biasanya) Akan ditambah-tambahi pula dengan sederet berbagai “prestasi” buruk dan bukti-bukti lain keplin-plan-an Gusdur semasa memimpin negeri ini di masa lalu.

Hmmmh … mengenai hal ini mulut jadi teringat sendiri akan posting susahnya untuk konsisten yang dibuat mulut beberapa bulan yang lalu. Untungnya mulut hanyalah orang nggak penting biasa yang konsisten atau tidaknya diri tidak berpengaruh pada kehidupan orang banyak. Jadi ingat sepenggal kalimat yang mulut tulis di sana …

Menurut mulut, konsisten itu bagai pedang bermata dua, bisa ke arah positif dan sebaliknya bisa juga ke arah negatif. Sehingga sikap berhati-hati sangat penting untuk dipake sebagai pendamping sikap konsisten. Jangan sampai sikap tidak mau berubah konsisten kita itu malah menjadikan kita lebih buruk dan tidak meningkatkan kualitas kita sebagai manusia. Jangan karena kawatir dianggap tidak konsisten lalu kita takut berubah, padahal perubahan tersebut akan membawa kita kepada kebaikan, atau … kalau kita tidak berubah malah membawa kita pada keburukan.

Nah apakah Gusdur memang manusia yang nggak mau terikat lagi dengan tanggapan-tanggapan publik mengenai segala pernyataan, keputusan dan tindak-tanduknya?, ataukah ini hanyalah tambahan bukti saja bahwa Gusdur memang tidak konsisten?.

Semua terserah anda yang menafsirkan kan …

Semoga saja, apapun yang terjadi pada negeri ini adalah yang terbaik yang memang berhak kita terima dari Yang Kuasa. Kalaupun kita memang belum berhak menerima yang terbaik semoga saja dimudahkan jalan kita untuk menjadi bangsa yang berhak itu. (*Mode maksa Tuhan : On 🙂 ) he he he. Yang terbaik sajalah …. dan harus yang terbaik ya Tuhan yaa … yaa

Pembodohan ala Pers Malaysia

: Momen tepat menggugat tanggung jawab Pemerintah kita

Baru saja mulut menerima sebuah email yang melampirkan cuplikan berita dari kantor berita Malaysia (Bernama). Berita tentang aksi demo seniman reog dari kantor berita resmi Negeri tetangga tersebut sungguh “aneh” bin “ajaib”. Beberapa kali mulut membaca berita itu, dengan maksud ingin sungguh-sungguh memahami perasaan mereka, namun (dengan sangat menyesal) berulang kali pula mulut ngggak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

Coba deh baca sendiri cuplikan berita tersebut seperti ini :

Duta Besar Malaysia ke Indonesia Datuk Zainal Abidin Mohamed Zain memerlukan hanya tiga minit untuk menyuraikan demonstrasi anti-Malaysia, yang sebelum itu berkobar-kobar dan kononnya akan berlangsung satu tindakan nekad di hadapan kedutaan di sini pagi ini.

Lebih 1,000 pendemonstrasi anti-Malaysia daripada kalangan aktivis kebudayaan Reog Ponorogo, yang diapi-apikan semangat anti-Malaysia oleh pelbagai laporan media massa yang menuduh Malaysia telah mengambil dan mengakui berhak terhadap kesenian itu, akhirnya menyuraikan diri selepas mendengar penjelasan itu.

Cuplikan yang lain lagi dari berita yang sama :

Setelah penjelasan yang menggunakan hanya kira-kira 50 patah perkataan sahaja itu, Zainal Abidin terus turun dari pentas itu dan kembali meneruskan tugas di pejabatnya, meninggalkan para pendemonstrasi itu terdiam seperti terpukau.

Artikel selengkapnya dari Bernama yang berjudul “Duta Besar Suraikan 1,000 Aktivis, Demonstrasi Anti-Malaysia” dapat dibaca di sini. Gimana, sudah ikutan ngakak seperti mulut nggak? wak kak kak kak …. cara memberitakannya itu lho seakan-akan dubesnya itu sakti mandraguna …. “hanya butuh waktu tiga menit, dan menggunakan tak lebih dari 50 kata saja sudah bisa membubarkan ribuan demonstran Indonesia” wa ka ka ka (sorry masih nggak bisa brenti ngakak).

Baca lebih lanjut

Sekulerisme itu perlu

Banyak orang menghadap-hadapkan sekulerisme secara langsung dengan agama sebagai sesuatu yang bertolak belakang. Sebagian yang lain malah cenderung menyamakan bersikap sekuler sebagai anti agama, bahkan kafir atau yang paling halus sebagai sudah teracuni budaya barat (westoxified). Namun pernahkah anda berpkir mendalam mengenai apa itu sekulerisme, mencoba menelaahnya melalui makna asalnya dan semangat yang dikandungnya alih-alih langsung membenci dan bersikap antipati?. Oleh karena banyaknya kesimpang-siuran pemahaman orang mengenai istilah ini, dalam kesempatan ini mulut akan ngomong dan mengupas tentang sekulerisme dan mengapa sekulerisme itu perlu.

Untuk memahami sebuah term, apalagi term yang berasal dari bahasa asing, kita perlu merujuk pada makna asli dari term tersebut sebelum mendapat berbagai atribut konotatif yang diberikan oleh pengguna term tersebut (mulut mengampanyekan untuk membiasakan melakukan hal ini juga ya ….). Hal ini sangat penting agar kita bisa tetap bersikap obyektif dan kritis terhadap sesuatu dan berfikir independen tanpa harus hanyut dalam arus mainstream pendapat besar.

Menurut http://www.yourdictionary.com
secu·lar·ism· (iz′m) adalah sebuah kata benda yang bermakna :

  1. worldly spirit, views, or the like; esp., a system of doctrines and practices that disregards or rejects any form of religious faith and worship
  2. the belief that religion and ecclesiastical affairs should not enter into the functions of the state, esp. into public education

Secara bebas, sekulerisme bisa dimaknai sebagai semangat, pandangan atau sifat keduniaan, atau sebuah doktrin yang memisahkan antara dunia dan semua yang terjadi di atasnya dari keyakinan relijius atau kekuatan gaib apapun. Makna yang kedua lebih pada aplikasi sekulerisme dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Memisahkan praktek kenegaraan, berbangsa dan bermasyarakat dalam segala levelnya dari cara pandang religius atau mistik tertentu.

Baca lebih lanjut

Mewaspadai penyesatan oleh WordPress

Saudara-saudara para id bloggers di seluruh penjuru dunia, kali ini mulut mau mengingatkan diri sendiri dan anda semua agar awas dan waspada terhadap WordPress.com. Lho ada apa dengan WordPress.com ? mau tahu jawabannya …. baca lidah api mulut berikut ini :

Pernah nggak anda merenungkan bagaimana kebiasaan anda dalam membaca artikel-artikel dari berbagai blog?, apa yang mendasari keputusan anda untuk membaca suatu posting atau tidak?, Apakah kita cenderung mengklik posting-posting urutan teratas yang dipampang di BOTD?, apakah kita secara reguler mengecek adakah posting baru dari blog yang menurut kita bermutu dari list blogroll kita?, ataukah kita membaca posting yang direkomendasikan oleh kawan kita sebagai postingan bermutu? atau yang lain-lain?.

Pernah (secara kritis) bertanya nggak apa special formula yang dipake oleh WorPress.com dalam menentukan the most popular blog of the day. Yang oleh wordpress sendiri dikatakan :

The most popular WordPress.com posts are ranked here according to a special formula.

Kalau anda adalah orang yang cenderung (hanya) membaca posting yang ‘direkomendasikan’ oleh WorPress.com dalam halaman BOTD nya maka mulut mengajak anda untuk berintrospeksi. Menyadari bahaya perilaku demikian bagi diri anda sendiri. Bahayanya apa sih ? …. sabar dulu ya …. 🙂

Baca lebih lanjut