Terharu

Welgedewelbeh

Sudah hampir dua puluh hari mulut nggak bisa memulai menarikan jemari di atas kibot untuk meng-update blog. Setiap kali beberapa huruf diketikkan dan beberapa titik dititikkan langsung saja motivasi menulis buyar begitu saja. Terlalu banyak pikiran yang mengambang belum menemukan jalurnya untuk dituangkan, saling libat melibat dan masih sulit untuk bisa diuraikan menjadi rangkaian makna. Terlalu banyak pergulatan motivasi ngeblog yang menghalangi jemari mulut untuk memainkan musik tik tak tik tak di atas kibot.

Bukannya mulut nggak punya ide, akan tetapi ngupdate blog demi menjaga atau meningkatkan hit pembaca atau kasarnya memanage popularitas kayaknya tidak cukup kuat untuk menjadi niyat yang benar dalam ngeblog. Bagi mulut pribadi, niyat ngeblog yang baik kayaknya mudah terkotori oleh rasa takabur dan kekaburan motivasi oleh yang namanya popularitas.

Akan tetapi kayaknya pemikiran macam begini nggak boleh dipertahankan terlalu lama, toh juga berhenti ngeblog juga tidak membawa kemajuan pribadi dan peningkatan spiritual apa-apa. Kayaknya mulut ini maqom-nya masih manusia biasa yang selalu belepotan dosa, niyat yang masih berbelok-belok dan terlumuri nafsu-nafsu rendah yang sifatnya semu belaka. Kayaknya mulut ini harus selalu berusaha dan belajar dari sejarah hidup setiap waktu.

Baca lebih lanjut

Iklan

Pembodohan ala Pers Malaysia

: Momen tepat menggugat tanggung jawab Pemerintah kita

Baru saja mulut menerima sebuah email yang melampirkan cuplikan berita dari kantor berita Malaysia (Bernama). Berita tentang aksi demo seniman reog dari kantor berita resmi Negeri tetangga tersebut sungguh “aneh” bin “ajaib”. Beberapa kali mulut membaca berita itu, dengan maksud ingin sungguh-sungguh memahami perasaan mereka, namun (dengan sangat menyesal) berulang kali pula mulut ngggak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

Coba deh baca sendiri cuplikan berita tersebut seperti ini :

Duta Besar Malaysia ke Indonesia Datuk Zainal Abidin Mohamed Zain memerlukan hanya tiga minit untuk menyuraikan demonstrasi anti-Malaysia, yang sebelum itu berkobar-kobar dan kononnya akan berlangsung satu tindakan nekad di hadapan kedutaan di sini pagi ini.

Lebih 1,000 pendemonstrasi anti-Malaysia daripada kalangan aktivis kebudayaan Reog Ponorogo, yang diapi-apikan semangat anti-Malaysia oleh pelbagai laporan media massa yang menuduh Malaysia telah mengambil dan mengakui berhak terhadap kesenian itu, akhirnya menyuraikan diri selepas mendengar penjelasan itu.

Cuplikan yang lain lagi dari berita yang sama :

Setelah penjelasan yang menggunakan hanya kira-kira 50 patah perkataan sahaja itu, Zainal Abidin terus turun dari pentas itu dan kembali meneruskan tugas di pejabatnya, meninggalkan para pendemonstrasi itu terdiam seperti terpukau.

Artikel selengkapnya dari Bernama yang berjudul “Duta Besar Suraikan 1,000 Aktivis, Demonstrasi Anti-Malaysia” dapat dibaca di sini. Gimana, sudah ikutan ngakak seperti mulut nggak? wak kak kak kak …. cara memberitakannya itu lho seakan-akan dubesnya itu sakti mandraguna …. “hanya butuh waktu tiga menit, dan menggunakan tak lebih dari 50 kata saja sudah bisa membubarkan ribuan demonstran Indonesia” wa ka ka ka (sorry masih nggak bisa brenti ngakak).

Baca lebih lanjut

Sekulerisme itu perlu

Banyak orang menghadap-hadapkan sekulerisme secara langsung dengan agama sebagai sesuatu yang bertolak belakang. Sebagian yang lain malah cenderung menyamakan bersikap sekuler sebagai anti agama, bahkan kafir atau yang paling halus sebagai sudah teracuni budaya barat (westoxified). Namun pernahkah anda berpkir mendalam mengenai apa itu sekulerisme, mencoba menelaahnya melalui makna asalnya dan semangat yang dikandungnya alih-alih langsung membenci dan bersikap antipati?. Oleh karena banyaknya kesimpang-siuran pemahaman orang mengenai istilah ini, dalam kesempatan ini mulut akan ngomong dan mengupas tentang sekulerisme dan mengapa sekulerisme itu perlu.

Untuk memahami sebuah term, apalagi term yang berasal dari bahasa asing, kita perlu merujuk pada makna asli dari term tersebut sebelum mendapat berbagai atribut konotatif yang diberikan oleh pengguna term tersebut (mulut mengampanyekan untuk membiasakan melakukan hal ini juga ya ….). Hal ini sangat penting agar kita bisa tetap bersikap obyektif dan kritis terhadap sesuatu dan berfikir independen tanpa harus hanyut dalam arus mainstream pendapat besar.

Menurut http://www.yourdictionary.com
secu·lar·ism· (iz′m) adalah sebuah kata benda yang bermakna :

  1. worldly spirit, views, or the like; esp., a system of doctrines and practices that disregards or rejects any form of religious faith and worship
  2. the belief that religion and ecclesiastical affairs should not enter into the functions of the state, esp. into public education

Secara bebas, sekulerisme bisa dimaknai sebagai semangat, pandangan atau sifat keduniaan, atau sebuah doktrin yang memisahkan antara dunia dan semua yang terjadi di atasnya dari keyakinan relijius atau kekuatan gaib apapun. Makna yang kedua lebih pada aplikasi sekulerisme dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Memisahkan praktek kenegaraan, berbangsa dan bermasyarakat dalam segala levelnya dari cara pandang religius atau mistik tertentu.

Baca lebih lanjut

Apakah yang Pertama kali akan anda lakukan jika anda menjadi Presiden? ( ini sebuah pertanyaan lho…)

Semua orang tahu kan kondisi negara kita ini sekarang kaya apa ?(buat yang merasa ga tahu gpp tetep boleh gabung).

Nah…..

Berangkat dari pengetahuan saudara tentang kondisi negara kita sekarang, Mulut ingin mengajak semua orang disini untuk break sejenak dan buka mulut, berandai-andai , mengeluarkan pendapatnya secara bebas, jujur dan sedikit nakal, lucu atau konyol juga boleh.Yaitu dengan menjawab pertanyaan diatas : Apakah yang pertama kali akan anda lakukan jika anda menjadi Presiden?

Yah siapa tahu to, ada ide menarik dari saudara2 sekalian yang nantinya kebaca oleh yang sekarang lagi memimpin negeri kita ini, dan memberi inspirasi positif untuk bikin program atau apa. Dan kalau toh ide2 menarik saudara2 sekalian tidak terbaca olehnya, yang pasti Mulut akan senang membaca setiap jawaban yang Saudara tuliskan.

Dan sebelumnya terima kasih telah meluangkan waktu untuk bermulut ria menjawab pertanyaan mulut itu.

Susahnya untuk konsisten

Welgedewelbeh

Beberapa waktu lalu dua tulisan mulut (PKS, Muhhamadiyah, FPI, NU, Jamaah Islamiyah,salafi,hizbutahrir,wahabi aliran tersesat dan Gusdur menyesatkan kita ke jalan yang benar) dapat komen yang “panjaaaang” sekale. Kata “panjang” ditulis pake tanda kutip soalnya bukan komen yang berupa artikel panjang tapi hanya satu kata yang dicopy paste berulang-ulang atau biasa dikenal dengan nge-flood. Nggak tanggung-tanggung si komentator (yang ber-nick name Salaman AlJazuli) copy paste sebanyak 107 kali di tulisan pertama, dan 146 kali di tulisan kedua. Mungkin ketularan dengan si Salaman AlJazuli, Ust.Muhammad Rachmat juga ngopi paste komennya sebanyak 15 kali.

Secara pribadi mulut nggak masalah dengan isi dan model komen kayak begituan. Toh nanti orang-orang juga pada tahu, seperti apa sih kualitas orang kayak mereka itu. Komen ini juga membuat mulut teringat lagi atas disclaimer yang telah mulut buat yang menyatakan :

Andapun toh bisa menyetujui ataupun tidak menyetujui pikiran-pikiran mulut, mengkritiknya atau bahkan menghinanya dengan bebas.

Dari sini mulut jadi mikir lebih dalam tentang sikap konsisten. Hmmmmhm …..

Baca lebih lanjut

Second life: trend baru setelah blogging?

Saat ini, blogging merupakan trend di internet yang paling laris manis. Jutaan orang ngeblog dengan sedikitnya ratusan ribu posting baru ditulis tiap harinya. Perhatian para netter yang bebrapa waktu lalu kesedot ke aktifitas chatting, saat ini berbelok ke mengelola blog. Namun, sebagaimana lazimnya trend, pasti ada masa puncak dan ada masa surutnya ….. nah kira-kira apa ya trend baru setelaah demam blogging ini mereda?.  Kali ini mulut mau sedikit ngobrolin tentang second life, sebuah genre game baru yang menjanjikan realisasi impian terliar anda. Akankah ia akan menjadi trend baru sesudah blogging? ………… simak dulu gambarannya ya …

_____________________________________________

Perkembangan teknologi komputer jaringan uedan tenan, ada game model baru yang terus saja jadi bahan pergunjingan para gamers di seluruh dunia yaitu secon life (SL) meski launchingnya sudah sejak 2002 lalu. Konsep intinya adalah anda bisa menjadi siapa saja yang anda impi-impikan di dunia maya ini, seakan-akan punya kehidupan kedua. Ciptakan dunia anda sendiri, ciptakan diri anda sendiri dll. Hebatnya, game ini berbasis online 3D, jadi kalau anda subscribe di game ini anda akan bisa menjadi orang lain (atau diri anda sendiri) di dunia maya 3D. Kalo pernah main sims atau sims 2 sedikit banyak anda pasti sudah punya gambaran akan game ini. Akan tetapi tantangannya jauh lebih banyak dan lebih menarik, karena terlalu banyak hal yang bisa diexplore dan didiciptakan di dunia ini. Baca lebih lanjut

Kasihanilah Malaysia

welgedewelbeh

Mengenai klaim malaysia atas lagu rasa sayang, kalo kebanyakan orang marah pada Malaysia, mulut memilih untuk kasihan pada mereka. Kalau kebanyakan orang menganggap Malaysia sombong, mulut melihat itu hanyalah untuk menutupi rendah diri dan ketakutan mereka. Jadi, alih-alih menyebut Malaysia sebagai malingsial, mulut memilih untuk menyebut nama Malaysia sebagaimana aselinya (lengkap dengan kaidah menggunakan huruf besar dalam penulisan nama negara). Mulut tidak mau seperti anak kecil yang membalas olokan kawannya dengan balik mengoloknya.

Beberapa hari lalu, mulut terlibat obrolan serius dengan kawan dari negeri itu di salah satu kota di Australia. Kita ngobrol soal demo besar yang terjadi di negara mereka beberapa hari yang lalu. Kawan kita yang orang Malaysia itu ternyata lebih suprised atas terjadinya demo tersebut ketimbang mulut. Kata dia, demo di Malaysia merupakan barang langka, jadi ketika ada demo dengan massa ribuan orang … tentu saja dia sangat suprised. Obrolan pun akhirnya terus meluncur antara mulut si mulut yang manis ini dengan kawan Malaysia itu, yang tentang kasus penyebutan indon pada orang kita, yang tentang demokrasi, yang tentang realita sosial di sana.

Baca lebih lanjut