Adili pimpinan dan backing FPI, Bubarkan FPI

Welgedewelbeh

Kasus monas 1 Juni kemaren yang diikuti dengan adu opini di berbagai blog, milis, forum dan lain-lain, berbagai macam fitnah serta pemelintiran fakta-fakta membuat mulut tidak tahan dan muak dengan itu semua. Pelaku kekerasan FPI harus diproses hukum dan ditahan. Pimpinan FPI serta dalang-dalangnya harus diungkap dan diadili, organisasi FPI harus dibubarkan.

Opini-2 dari blog-2 ataupun milis-2 yang sedang bersliweran mungkin saja sangat bias. Apalagi testimoni-2 ataupun kutipan korespondensi orang-2 yang dituduh sebagai aktor intelektual kerusuhan untuk mendukung teori konspirasi validitasnya juga masih simpang siur.

Akan tetapi mungkin rekaman video bisa secara jujur berbicara. Apapun alasannya, tindakan-2 FPI di video-2 berikut ini sama sekali nggak boleh ditoleransi. Kekerasan dan sok-sokan gak mengeal hukum harus dienyahkan dari bumi Indonesia. Coba saja lihat video-video berikut:

Yang pertama ini berisi agitasi untuk membunuh pengikut ahmadiyah. Hasutan yang sangat jelas dan gamblang untuk membenci Ahmadiyah, menghalalkan darah anggota ahmadiyah dan anjuran untuk membunuh anggota ahmadiyah di manapun di bumi Indonesia. Provokasi yang dilakukan tidak oleh kroco, tapi sekretaris pusat FPI, Sobri Lubis. Ini upaya sistematis penghasutan massa oleh organisasi, bukan oleh oknum.

>> kalau bukti ini kurang cukup untuk membuka mata hati kita, ….. kebangetan deh
>> kalau bukti ini tidak cukup membuat pemerintah bertinak tegas ….. patut dicurigai siapa backingnya

Yang ini jelas-jelas penganiayaan oleh FPI terhadap massa sipil di tragedi monas kemaren .. Bahkan yang sudah terluka dan tidak melawan … masih dianiaya. Apapun alasannya, heran deh, tindakan tak beradab seperti ini kok ya masih dibela. Adil harus … tapi kalau membenarkan tindakan FPI, apakah kita sudah kehilangan obyektivitas? ?.

http://www.youtube. com/watch? v=WmGsR6bviO0
http://www.youtube. com/watch? v=UGrLrMMPDzk
http://www.youtube. com/watch? v=r–6XNvZwMo

Yang ini cara FPI menyelesaikan masalah, sekali lagi warga sipil dihajar dengan kejam terus meski sudah tidak melawan. Polisi pun melakukan pembiaran lagi …

http://www.youtube. com/watch? v=ZWBP6mPH8cE
http://www.youtube. com/watch? v=qnCzdoScFq0&feature=related

http://www.youtube. com/watch? v=DHoyBcmPMz8

Ini kasus betapa sewenang-wenangnya FPI, di bulan Romadhon … Emangnya puasa mengajari orang untuk sewenang-wenang dan mudah marah ya ????

Yang ini adalah penganiayaan terhadap jamaah AHmadiyah, ternyata kebencian atas nama tuhan juga disebar-2 di masjid2. Atribut FPI juga dipakai oleh mereka-2 yang menganiaya ini.

http://www.youtube. com/watch? v=yPAORBa1bX0
http://www.youtube. com/watch? v=Zd2y1yCO9es
http://www.youtube. com/watch? v=HKCoIqKHofc
http://www.youtube. com/watch? v=x0SEYdJ- xwE
http://www.youtube. com/watch? v=EozuwflQ3N8

Susah-sudah para wali mengislamkan sebagian besar orang Indonesia, susah-susah ulama’ yang tanpa pamrih menjaga pancaran kedamaian Islam menaungi bumi Indonesia. Sekarang islam dirusak sendiri oleh orang yang ngaku-2 paling islami. Kalau begini Islam yang ditampilkan, jangan harap ada orang non Islam masuk Islam, orang yang sudah Islam saja dipaksa untuk mengaku bukan Islam.

Sudah terlalu banyak bukti …..

Adili pelaku kekerasan FPI, Adili pimpinan dan backing FPI, Bubarkan organisasi FPI !!!

Bhineka Tunggal Ika
Mari diwujudkan, jangan hanya jadi slogan !!
Islam rahmat bagi semesta
Mari dipraktekkan, bukan untuk jualan !!

Terkait konflik PKB, detik.com tidak netral

Welgedewelbeh

Berita politik paling panas dalam dua minggu terakhir ini adalah berita tentang konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Hampir semua siaran berita, baik cetak maupun elektronik (termasuk didalamnya adalah portal berita online) juga turut menyoroti konflik tersebut. Manuver demi manuver yang dilakukan oleh kedua kubu selalu saja memiliki daya tarik sendiri bagi media untuk memberitakannya. Sayangnya beberapa media massa yang seharusnya menjaga netralitasnya ternyata memiliki kecondongan-kecondongan keberpihakan. Yang ingin mulut soroti saat ini adalah portal berita detik.com, sebagai media masssa berpengaruh dan memiliki pelanggan yang sangat luas ternyata tidak menjalankan kode etik jurnalistik secara baik.

Coba saja lihat di berita-berita konflik PKB yang diturunkannya, penggunaan istilah-istilah yang tendensius serta distorsi berita dapat dilihat dengan sangat telanjang. Misalkan penggunaan istilah “Muhaimin dipecat gus dur” yang secara konsisten di pakai di berbagai beritanya (lihat di sini, sini, atau di sini dll). Padahal pada kenyataanya Muhaimin belum dipecat waktu itu, dia hanya diminta untuk mundur dari ketua tanfidz PKB. Soal pemberhentian itu dilakukan setelahnya di forum MLB setelah dia menolak untuk mundur, dan malah melawan suara terbanyak di dewan pimpinan PKB. Isu soal beredarnya SK pemecatan Muhaimin yang diberitakan portal detik.com juga tidak ada konfirmasinya (lihat di sini dan di sini).

Penyebutan Gusdur sebagai pihak pemecat Muhaimin juga merupakan distorsi kenyataan, padahal yang menghendaki muhaimin mundur adalah sebagian besar pucuk pimpinan PKB yang terdiri dari anggota-anggota dewan syuro DPP-PKB dan anggota ketua dewan tanfidz DPP-PKB. Gus Dur sendiri saat pengambilan suara memilih abstain sebagaimana Muhaimin. Nah ini bagaimana ceritanya kok tiba-tiba redaksionalnya berubah menjadi Gusdur memecat Muhaimin. 

Di berita yang lain di detik.com disampaikan bahwa ada acara nonton bareng (nobar) film “para pembelot gusdur” di MLB Parung Bogor. Padahal jelas-jelas tertulis di artikel berita itu bahwa judul film-nya adalah “Bersama Gus Dur Menang Untuk Rakyat”. Ini jelas-jelas sebuah distorsi pemberitaan yang sangat telanjang, tidak sesuai fakta dan menggiring ke opini tertentu sesuai dengan kepentingan detik.com. Di berita lain terkait permasalahan yang sama, lebih telanjang lagi, detik.com malah menulis di bagian judul berita “Muhaimin Diteriaki ‘Huu!’ Saat Nongol di Film Pembelot Gus Dur” . Nah itu bagaimana ceritanya kok detik mengubah judul film secara tak bertanggung jawab. Ini jelas-jelas distorsi berita.

Kesimpulannya, detik.com sudah kehilangan netralitasnya. Terlihat sekali bahwa ada pembentukan opini untuk memperburuk gusdur dan PKB melalui berita-berita yang diturunkannya. Parahnya, hal ini dilakukan tanpa mengindahkan kaidah-kaidah prinsip jurnalistik yang independen, balance dan akurat. Bagi para pembaca setia detik.com, juga media massa lain di tanah air …. selalulah kritis dan waspada …. media kita sudah mulai terbukti tidak netral, ada kepentingan yang bermain di sana.

waspadalah … waspadalah

Yang hilang di era informasi itu telah kembali

welgedewelbeh

Semenjak era informasi mulai mewabahi negeri ini, mulut merasakan ada suatu tradisi yang sangat penting yang perlahan-lahan memudar. Apa yang menghilang itu ? yaitu tradisi intelektualisme. Kemudahan dan kemurahan berkomunikasi secara langsung menggunakan ponsel, menina-bobokan anak-anak muda kita dan membunuh daya intelek generasi bangsa ini secara perlahan-lahan. SMS dan e-mail sebagai sarana komunikasi yang baru yang lebih murah dan real time membuat layanan jasa pos menjadi sepi peminat. Bahkan masa panen jasa pos yang biasanya berlangsung di saat-saat menjelang Idul Fitri dan Natal pun kini juga semakin kehilangan pelanggannya.

Lantas apa hubungan antara sepinya jasa layanan kantor pos dan intelektualisme ?. Baiklah simak penjelasan berikut ya ….

Tanpa harus memulai sejarah komunikasi dan telekomunikasi manusia sejak awal, kita tahu bahwa berkorespondensi melalui media surat adalah satu-satunya jalan untuk tetap menjalin hubungan dengan kawan atau sejawat yang berada di tempat jauh. Teknologi pengirimannya pun berkembang pesat dari jaman ke jaman mulai dari dititipkan kepada kurir (baca: para kafilah/gembala yang hendak bepergian jauh), menggunakan merpati/elang post hingga yang lebih moderen dan terorganisasi yakni melalui jawatan pos. Seperti halnya teknologi pengirimannya, isinya pun juga berkembang mengikuti konteks jaman dan kebutuhan. Dari hal-hal yang bersifat personal seperti berkeluh kesah kepada sahabat, mengabarkan keluarga yang sakit, membagi berita bahagia kepada sanak famili dan handai taulan yang jauh sampai pada korespondensi perdagangan, kerjasama antar negara, korespondensi akademis, serta intelektual semuanya menggunakan jalur yang satu ini.

Seiring perjalanan sejarah, dan seakan didesak oleh kebutuhan akan kecepatan serta keandalan pengiriman yang tidak bisa ditawar lagi, kemajuan teknologi telekomunikasi pun meningkat pesat. Laju perkembangan teknologi yang ber-kurva eksponensial melesat meninggalkan garis waktu yang terus saja menggelinding konstan di horizon peradaban. Memasuki fase berikutnya, telegram pun menjadi jalur alternatif komunikasi baru yang bisa diandalkan. Beberapa tahun setelah telegram, era teleponpun menyusul dan turut berperan besar mengukir sejarah peradaban umat manusia. Berturut-turut kemudian teknologi radio pun memenuhi ruang udara bumi, dan yang terakhir, beberapa dasawarsa berikutnya menyusul teknologi komputer dan internet. Yang terakhir ini, ditambah lagi dengan kemajuan teknologi data storage, bagaikan mengubah aliran informasi menjadi bah informasi.

Sayangnya, seiring dengan kemajuan tersebut secara berbanding terbalik perilaku intelektual manusia di era informasi menjadi menurun. Lho kok bisa …. ?. ya begini gambarannya. Pada saat komunikasi jarak jauh masih mengandalkan surat, orang-orang biasa menuliskan pesan-pesan atau apapun yang ingin disampaikannya dengan cukup detail. Secara kasarannya, sebuah surat kadang berisi beberapa halaman tulisan yang berisi pesan yang ingin disampaikan tersebut. Pesan-pesan yang ditulis tangan ataupun ditulis dengan menggunakan mesin penulis tersebut hampir bisa dipastikan juga memuat ekspresi emosi dan pemikiran yang menulisnya. Jarang sekali ada orang yang mengirim surat yang hanya berisikan satu atau dua kalimat saja.

Bandingkan hal ini dengan kebiasaan berkomunikasi di era yang dimanjakan teknologi komunikasi (terutama ponsel dengan fitur sms-nya) di akhir tahun 90′an dan awal abad 21 beberapa waktu yang lalu. Para muda-mudi kita menggunakan teknologi canggih itu untuk terutama memenuhi social need mereka saja. Untuk bersambung silaturahmi dengan keluarga, bercengkerama dengan teman, pe-de-ka-te dan pacaran, menggoda ataupun curhat-curhatan saja. Sebagian yang lain menggunakannya untuk mempermudah mobilitas dan kordinasi yang menunjang keprofesian serta bisnisnya. Untuk dua keperluan di atas, sepertinya masih mending dibandingkan yang menggunakannya hanya sekedar untuk gengsi-gengsian saja.

Tidak terlalu berbeda dengan telepon dan ponsel, teknologi internet dengan kemudahan berkirim surat setrum (electronic mail -email) yang mulai mewabah dan me-murah di awal tahun 90 an, tidak serta merta memindahkan kebiasaan berkirim surat (dengan tulisan panjang – melalui kantor pos) ke teknologi ini. Padahal email memungkinkan kita untuk menulis sebanyak-banyaknya selayaknya berkirim surat menggunakan jasa kantor pos, bahkan dengan berbagai keunggulan. Misalkan waktu delivery yang cuman sekian detik dan delivery reliability. Tidak semua sih memanfaatkan internet dan email untuk tujuan-tujuan yang disebutkan terakhir, terutama bagi mereka yang berkecimpung di bidang jurnalistik, akademik, intelektual dan bisnis.

Yah mungkin saja fenomena ini disebabkan karena mahalnya pulsa ponsel dan tidak efektifnya menulis teks yang panjang-panjang untuk dikirim via SMS. Atau, yang soal email, mungkin juga disebabkan karena kemalasan ketidak-nyamanan membaca email yang panjang-panjang di layar monitor atau cuman karena faktor budaya yang malas baca dan malas menulis. Yang jelas, tidak ada yang akan menulis sms yang panjangnya setara dengan satu halaman penuh apalagi sampe dua atau tiga halaman. :) Nah karena tulisan ini tidak dibuat untuk mengupas seluruh pengaruh baik dan buruk teknologi ponsel atau internet pada kehidupan manusia, maka kita akan kembali fokus ke masalah intelektualitas dan teknologi komunikasi yang digunakan.

Seperti telah mulut uraikan sebelumnya bahwa ternyata teknologi komunikasi yang kita gunakan berpengaruh pada aktivitas-aktivitas intelektual (yang terkait dengan komunikasi tentunya) beserta kualitas aktivitas tersebut. Dalam hal menulis misalkan, ternyata surat konvensional lebih memberikan dorongan bagi orang-orang untuk dapat mencurahkan pikiran-pikirannya ke dalam bentuk tulisan. Dengan menulis dan mengkomunikasikannya kepada orang lain, kreativitas terasah, pengorganisasian ide terbentuk, dan diskusi pun bisa berkembang. Demikian pula dengan membaca, surat konvensional memberikan kemudahan (karena nggak harus punya/bayar akses internet, nggak harus ada listrik dll) bagi orang untuk membacanya. Pun dengan surat, kedua aktivitas tersebut sepertinya “lebih manusiawi” lebih punya emosi dan perasaan — karena kita bisa memberi ilustrasi gambar, sketsa, pernak pernik dll di surat yang ditulis.

Bandingkan hal ini dengan email, bentuk huruf pun semuanya seragam. Kalaupun ada pilihan customize … itu cuman terbatas pada beberapa jenis font dan warna yang disediakan oleh mail servernya. Kalau mau menambahkan pernak-pernik pun atau gambar, semuanya adalah produk dari proses yang instan. Gambar kita copy paste dari kamera digital atau ponsel kita, atau dari gambar yang kita temukan entah di mana di jagad maya internet. Tentu saja bentuk komunikasi tulisan ini lebih sedikit memiliki jiwa daripada bentuk terdahulu yang lebih konvensional. Ini ngomongin e-mail lho …. soal SMS lebih-lebih lagi …. semakin miskin rasa, hati dan jiwa.

Lebih dalam soal membaca, kemajuan teknologi informasi membuat lebih banyak lagi orang hanya menjadi konsumen saja. Melakukan aktivitas intelektual pasif meskipun informasi dapat diperoleh secara lebih mudah. Soal menulis (yang mulut anggap sebagai aktivitas intelektual aktif), turut mencipta nilai dan menyumbangkan gagasan serta pemikiran berangsur-angsur menjadi barang yang langka. Kebanyakan orang kita hanya menjadi konsumen pasif baik di milis-milis ataupun di portal penyedia informasi lainnya. Padahal kalau kita mau kritis, menjadi konsumen informasi banyak kerugiannya lho … coba pikirkan siapa yang mampu hosting sendiri (pada saat internet masih mahal dulu), siapa yang bisa dan mampu bikin website di internet. Itu semua tentunya orang-orang/pihak-pihak yang berduit, mereka itu kebanyakan adalah pihak-pihak yang tidak bebas kepentingan. Apakah itu untuk mencari kekuasaan politik, pengaruh ideologi, ataupun sekadar untuk mencari keuntungan finansial.

Untungnya era www yang dahulu lebih didominasi kaum berpunya dan “berkepentingan” itu lambat laun mulai bergeser. Lebih-lebih dengan adanya teknologi web 2.0 yang bisa dianggap generasi ke dua web berbasis komunitas. Teknologi ini membuat situs social networking, wiki, dan folksonomy serta fitur-fitur web baru seperti RSS Feed dan APIs (application programming interface) tumbuh bagaikan jamur di musim hujan diberi pupuk dan disebari benihnya. :) Teknologi ini memungkinkan siapa saja warga dunia untuk berperan aktif, berkontribusi dalam penciptaan nilai, sharing pengetahuan, bersambung rasa; budaya; ideologi; serta emosi. Semenjak itu, jagad maya tidak lagi menjadi hegemoni orang berpunya dan “berkepentingan” saja. Orang biasa pun kini bisa turut andil dalam penciptaan informasi, saling mengoreksi dan membangun nilai global secara komunal.
Sebagai salah satu anak kandung dari web 2.0 ini, blog memegang peranan yang sangat besar. Sifatnya yang setengah personal setengah konsumsi publik, setengah ilmiah setengah gaul, mudah administrasinya, search engine friendly, serta fitur-fitur tag, APIs, Agregator, Tracker dan lain sebagainya membuatnya menjadi teknologi yang sangat digemari. Bahkan mulut yakin aktivitas ngeblog sudah mulai menggeser aktivitas chatting yang sempat menjadi “the black hole” yang menyedot habis waktu kita saat ngenet.

Kembali ke masalah intelektualisme.

Menulis sebagai aktivitas untuk menciptakan, mengorganisir dan mengkomunikasikan nilai, ide serta pengetahuan telah dilakukan sejak jauh hari oleh beberapa generasi sebelum kita. Para pemikir yang tahu kekuatan tulisan menuliskan hasil-hasil pemikirannya. Semua intelektual berkorespondensi dan bertukar pikiran dengan orang-orang yang memiliki interes yang sama dengannya dengan media tulisan. Mulai dari Kartini, Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Gie, Kahlil Gibran, Tagore, Nietche, Einstein, Hassan Hanafi, H. Agus Salim, Cak Nur, Hamka, Gus dur dan banyak lagi juga melakukan hal yang sama, meski teknologi komunikasi masih sangat terbatas.  Bahkan Pramoedya A.T. menyatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Di dunia Arab ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “Ilmu itu bagaikan binatang liar, maka ikatlah ia dengan tulisan”.

Karena demikian hebatnya hubungan antara aktivitas menulis dan intelektualisme, maka kita semua, para blogger, hendaknya bersukur dengan teramat sangat dengan adanya teknologi blog ini dengan segala kekuatannya. Terkait dengan kekuatan ini, bahkan sebuah buku mengatakan bahwa ngeblog bisa mengubah dunia. Toh telah begitu banyak orang baik yang secara ikhlas memberikan dorongan untuk menulis, terutama melalui blog yang murah meriah dan efektif ini.

Adanya blog seakan membangunkan jiwa-jiwa intelektual bangsa Indonesia yang lama terlelap dinina bobokan gemerlapnya kemajuan teknologi. Terbukti ribuan blog baru dibuat setiap harinya, ribuan tulisan disampaikan setiap saat, ribuan yang lain mengakses dan berkorespondensi melalui fitur komen dan track back. Kualitas posting dan blog meningkat tajam dari waktu ke waktu. Korespondensi dua arah yang biasa dilakukan oleh intelektual masa lalu, diperluas teknologi blog menjadi korespondensi publik yang multi arah, multi channel. Blog telah membobol keran-keran pergulatan wacana publik yang dahulu didominasi para penulis ternama di surat-surat kabar. Blog telah merubah banyak hal …..

Mulut yakin media internet dengan web 2.0 nya, terkhusus lagi blog, akan mempercepat langkah-langkah meraih kegemilangan umat manusia dan bangsa kita pada khususnya. Kalau dahulu, dengan perangkat komunikasi seadanya bangsa ini bisa melahirkan pemikir pemikir besar seperti Kartini,  Hatta, Tan Malaka, dan lain-lain. Maka yakinlah bahwa teknologi blog ini akan dapat melahirkan tidak hanya satu orang pemikir besar, akan tetapi sebuah generasi Indonesia baru yang cinta dan peduli tanah air, kreatif, cerdas, optimis, positif bertanggung jawab, dan berbudi luhur.

Tulisan ini juga merupakan himbauan mulut kepada rekan-rekan blogger yang lain untuk tidak berhenti berkarya, mengasah akal budi, intelektualitas kita dengan ngeblog. Mematikan blog, bunuh diri blog, berhenti ngeblog atau apapun namanya yang saat ini menjadi trend para blogger Indonesia merupakan anomali yang menyedihkan di saat kualitas posting dan blog secara umum mulai beranjak membaik.

Singkat kata, ayo bersukur akan karunia besar ini dengan terus berkarya, JANGAN BERHENTI NGEBLOG. Kalau anda merasa ngeblog terlalu menyita waktu anda, cobalah belajar manajemen diri dan waktu dengan sungguh-sungguh. Topik terkait dengan yang terakhir ini akan menjadi posting mulut berikutnya . . . . sabar ya.
Mulut bersukur karena yang hilang di era informasi itu telah kembali . . . . .

Gusdur tidak konsisten ?

welgedewelbeh

Akhir tahun merupakan momentum yang banyak digunakan orang terutama para blogger untuk memaklumatkan resolusi, kilas balik, refleksi, meluncurkan album dan lain-lain, agar menjadi lebih baik di masa mendatang ke ruang publik. Serasa tidak mau ketinggalan, partai politik A dan B, ormas C dan D, pebisnis, para politisi, kelompok penggiat masyarakat dan lain lain pun melakukan hal serupa. Para tokoh politik pun memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan publisitas atas apa yang ingin dia raih di tahun mendatang, terkait ataupun tidak dengan target politik menjelang pemilu 2009 nanti.

Satu hal yang menarik dari berbagai acara di akhir tahun 2007 tersebut adalah pernyataan Gusdur bahwa beliau mau maju kembali menjadi capres Indonesia di pemilu 2009 yang akan datang. Lho gus barusan kemaren (bulanNovember 2007) kan bilang kalau tidak bersedia menjadi capres di pemilu 2009, kok sekarang ngomongnya lain lagi?. Apakah njenengan tidak khawatir dianggap plin-plan atau tidak konsisten oleh rakyat di republik ini?. Welgedewelbeh …
Para pengagum dan orang-orang yang menghendaki Gusdur menjadi presiden pasti telah menyadari hal ini dan akan (mungkin sudah) menyiapkan seribu satu penjelasan akan sikap Gus yang satu ini. Begitu pula sebaliknya, para pembenci Gusdur, lawan politik ataupun orang yang sudah kadung sebel dengan segala tindak tanduk dan statemennya akan memakai fakta ini untuk mengecilkan beliau.

Posting ini tidak dibuat untuk menakar kekonsistenan Gusdur, ataupun menghakimi pilihan yang dibuatnya. Akan tetapi untuk mengajak kita semua merenungkan lebih dalam lagi makna konsistensi.

Bagi kelompok orang yang pertama, Gusdur itu adalah orang yang konsisten. Konsisten dalam menebarkan dan mengamalkan pluralisme dan kemanusiaan. Konsisten membela kaum tertindas, baik dari golongan mayoritas ataupun minoritas, tak peduli siapa yang ditindas (bahkan diri sendiri) dan siapa yang menindas, kawan sendiri ataupun lawan, menaikkan popularitas ataupun menghancurkan reputasinya. Mereka akan berkata kalau Gusdur itu konsisten di tujuan dan niat, caranya bisa jadi berbentuk macam-macam termasuk berubah pernyataan dengan sangat cepat.

Bagi mereka, bisa jadi ketidak-konsisten-an Gusdur kali ini didasari oleh rasa prihatin yang luar biasa terhadap perkembangan terakhir ke arah mana bangsa ini akan dibawa. Mulai dari merebaknya kekerasan yang berlindung alasan klasik kemurnian agama, sampai pada masalah serius seperti pelanggaran konstitusi kebebasan berpendapat dan beragama, termasuk sikap penakutnya presiden dalam hal ini. Arah pembangunan ekonomi yang lebih berpihak pada kapitalis besar dan disetir oleh kepentingan asing. Melebarnya kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin dan lain sebagainya. Semua isu penting tersebut “memaksa” Gusdur untuk mau ber susah-susah lagi (mau) menjadi calon presiden.

Kelompok pertama ini, juga akan menambahi bahwa Gusdur itu bukan orang yang “pedulian”. Pasti akan dikatakan kalau beliau itu nggak pernah mau peduli dikatakan nggak tahu diri, ngawur, kafir, sesat, apalagi cuman dikatakan plin plan dan nggak konsisten. Atau kasarannya, yang penting menempatkan kepentingan dan arah bangsa padda rel yang benar nggak peduli mau jadi presiden atau tidak.

Bagi orang-orang yang memang sudah nggak demen Gusdur pasti akan bilang: “nah tuh kan apa gue bilang …. tambah satu lagi bukti ke-mencla-mencle-an gusdur“. Dari sononya sudah nggak konsisten, mau dipegang apanya omongan dia itu. Orang nggak konsisten macam ini kan berbahaya banget kalau mimpin negara, bisa anjrut-anjrutan negeri ini jadinya. (dan biasanya) Akan ditambah-tambahi pula dengan sederet berbagai “prestasi” buruk dan bukti-bukti lain keplin-plan-an Gusdur semasa memimpin negeri ini di masa lalu.

Hmmmh … mengenai hal ini mulut jadi teringat sendiri akan posting susahnya untuk konsisten yang dibuat mulut beberapa bulan yang lalu. Untungnya mulut hanyalah orang nggak penting biasa yang konsisten atau tidaknya diri tidak berpengaruh pada kehidupan orang banyak. Jadi ingat sepenggal kalimat yang mulut tulis di sana …

Menurut mulut, konsisten itu bagai pedang bermata dua, bisa ke arah positif dan sebaliknya bisa juga ke arah negatif. Sehingga sikap berhati-hati sangat penting untuk dipake sebagai pendamping sikap konsisten. Jangan sampai sikap tidak mau berubah konsisten kita itu malah menjadikan kita lebih buruk dan tidak meningkatkan kualitas kita sebagai manusia. Jangan karena kawatir dianggap tidak konsisten lalu kita takut berubah, padahal perubahan tersebut akan membawa kita kepada kebaikan, atau … kalau kita tidak berubah malah membawa kita pada keburukan.

Nah apakah Gusdur memang manusia yang nggak mau terikat lagi dengan tanggapan-tanggapan publik mengenai segala pernyataan, keputusan dan tindak-tanduknya?, ataukah ini hanyalah tambahan bukti saja bahwa Gusdur memang tidak konsisten?.

Semua terserah anda yang menafsirkan kan …

Semoga saja, apapun yang terjadi pada negeri ini adalah yang terbaik yang memang berhak kita terima dari Yang Kuasa. Kalaupun kita memang belum berhak menerima yang terbaik semoga saja dimudahkan jalan kita untuk menjadi bangsa yang berhak itu. (*Mode maksa Tuhan : On :) ) he he he. Yang terbaik sajalah …. dan harus yang terbaik ya Tuhan yaa … yaa

Ternyata niat baik saja (dianggap) tidak cukup

welgedewelbeh

 
  Beberapa waktu yang lalu, mulut terlibat dalam sebuah diskusi yang cukup asyik dengan saudara Wibisono Sastrodiwiryo di blog budayawan muda miliknya. Gara-garanya adalah komentar mulut di postingan Isyarat Pak Harto di mana mulut menyatakan tidak menyetujui beberapa poin dari isi postingan tersebut.Komen pertama mulut ditanggapi dengan baik oleh sang empunya blog, meski sempat dikira kurang jeli membaca artikelnya.Dengan semangat berdiskusi yang hangat mulut melanjutkan mengajukan beberapa tanggapan dan meyakinkan bahwa mulut sudah cukup teliti di komen ke dua.Yang mulut nyesel adalah di komen ke-dua tersebut, mulut pake ngajak bercanda penulis dengan mengatakan bahwa mungkin malah dia yang kurang teliti, juga bahwa posting itu bukanlah Isyarat Pak Harto melainkan isyarat kalau si penulis adalah orang yang ngefans Amin Rais.Nah mungkin gara-gara mulut tetep bersikukuh pada pendapat semula dan karena guyonan tersebut, akhirnya mulut mendapat komen balik yang beberapa poinnya cukup pedas. Puncaknya adalah ketika identitas mulut mulai dipertanyakan dan dipermasalahkan. Dikatakannya bahwa diskusi tanpa identitas adalah jauh dari apa yang namanya bertanggung jawab. Bagi dia identitas adalah elemen yang penting dalam berdiskusi. Bahkan secara tersirat hidden identity yang dipilih holeh mulut seperti dijelaskan dalam disclaimer kami dianggap tidak mencerminkan sebuah kredibilitas yang tinggi.

Satu hal yang janggal dalam komen balik kedua ini adalah, sikap defensif yang luar biasa yang ditunjukkan oleh kawan potensial yang mengaku sebagai budayawan muda ini. Seperti diambilnya posting pertama mulut sebagai dalih bahwa mulut tidak bisa memahami jalan pikiran Amin Rais. Padahal jelas-jelas (kalau mau baca dengan teliti posting tersebut — bukan judulnya saja), maka akan jelas bahwa tujuan postingan tersebut adalah untuk mengajak kita semua berempati, dan nggak gampang menyesatkan kelompok lain.Sepertinya kok kawan kita yang satu ini mencari-cari segala kelemahan personal mulut untuk tidak terus fokus menanggapi topik yang mulut diskusikan, yaitu soal Amin Rais dan reformasi. Mungkin inilah yang disebut para politisi ataupun aktivis sebagai pembunuhan karakter. Komen balik kedua tersebut diakhiri dengan menyebut disclaimer mulut sebagai sebuah pernyataan yang kontradiktif. Dalam bahasa dia sendiri, dia menyatakan “Niat baik tanpa identitas? Bagaimana mempertanggung jawabkannya? Tapi itu urusan anda. Sebagus apapun pikiran dan gagasan anda tak bisa dipertanggung jawabkan.”

Mengabaikan seluruh serangan dan ke OOT-an bahasan, mulut terus melanjutkan diskusi dengan penuh prasangka baik, harapan dan rasa tanggung jawab, setidaknya demikianlah suasana hati mulut menurut mulut sendiri. Coba saja lihat komen terakhir mulut dalam diskusi tersebut. Dimulai dengan permintaan maaf, mengatur segala kata dengan kontrol sopan santun dan adab ketimuran yang mulut yakini merupakan nilai yang adiluhung. Tidak ada satupun “serangan” di komen balik kedua yang mulut tanggapi dengan “serangan” balik lagi karena mulut nggak ada waktu untuk debat kusir.

Tapi apa daya, harapan tinggal harapan. Dengan hati yang hancur akhirnya tanggapan balik ketiga atas komen ketiga mulut harus mulut terima. Beberapa link berita memang masih diberikan untuk membahas topik diskusi, selebihnya .. sebagian besar adalah kelanjutan serangan kepada karakter mulut. Tidak perlu rasanya mulut kupas satu persatu apa serangan balik yang mulut terima di komen balik tersebut toh semua blogger bisa menilai sendiri dari komen balik tersebut. Yang lebih menyedikan adalah niat baik mulut untuk minta maaf ditanggapi dingin dengan berkata :

“Permohonan maaf andapun sulit saya tanggapi karena siapa yang harus saya maafkan? anda bukan siapa siapa.”

Mulut tidak hendak melanjutkan diskusi di sana toh dia sendiripun telah menyatakan enggan untuk berdiskusi secara lebih jauh dengan mulut dengan mengatakan :

“BTW: Saya males membahas masalah anda ini, membuat postingan saya jadi tidak fokus.”

Baiklah, mulut pun tidak melihat ada niat yang baik dari saudara Wibisono Sastrodiwiryo dalam menanggapi maksud baik mulut. Semoga saja, itu tidak menjadi bunuh diri intelektual kawan kita yang satu ini.

 

Get more frame on BlogFrames

Semua diskusi di atas adalah background dari posting mulut kali ini. Diulas terlebih dahulu dengan bahasan yang dicoba diutarakan seobyektif mungkin agar para pembaca paham latar belakang tulisan ini. Masalah hidden identity dari seorang blogger seperti yang mulut pilih dan kredibilitasnya di blogosphere Indonesia penting untuk diangkat di sini, karena ini menyangkut hajat hidup banyak blogger. Benarkah hidden identity = tidak bertanggung jawab = tidak memiliki kredibilitas?. Simak saja deh ulasan mulut berikut ini yang sebagiannya diambil dan dimodifikasi dari komentar ke-tiga mulut di artikel yang bersangkutan.

Semoga saja, ulasan ini bisa menjadi pelajaran yang berharga buat kita semua para blogger Indonesia. Harapan mulut ke depan, masalah ini tidak perlu terlalu diributkan lagi dan marilah membangun negeri ini dalam kerangka rukun blogger dan niat yang baik. Bagi mulut, terlalu sayang energi dan waktu dibuang-buang hanya untuk meributkan hal yang tidak terlalu penting semacam ini. Akan tetapi, tentunya semua terserah anda …. andapun mulut undang untuk unjuk pendapat dalam masalah ini di forum komentar dari artikel ini.

———————————————————->

Menulis tanpa identitas, bukanlah hal baru di dunia ini. Dunia sastra kita pun pernah mengalami fase dimana para penulisnya adalah anonim. Pilihan ini tidak membuat mereka dikatakan sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, bahkan beberapa diantaranya adalah karya sastra yang luar biasa dan mendapat apresiasi yang tinggi. Tanggapan saudara Wibisono Sastrodiwiryo terhadap hal ini dengan mengatakan bahwa mereka tidaklah anonim akan tetapi memiliki nama alias sebenarnya sudah terjawab dari awwalnya. Bukankah “mulut juga merupakan sebuah nama alias juga?. Penggunaan nama alias semacam ini tentu saja didasari oleh sebuah pemikiran dan tujuan tertentu, dalam hal ini telah dijelaskan semua dalam disclaimer blog mulut.

Bahkan kalau kita ikut mengalir bersama zaman, dan aware dengan aliran jaman tersebut. Maka dunia intelektualisme bentuk baru tidaklah harus beridentitas. Ya … dunia maya Internet memaksa kita untuk memaknai ulang makna eksistensi manusia dan identitas kemanusiaan. Dalam bahasa pak Ribut Wiyoto “internet dapat mewujudkan gagasan kebudayaan post-Filosofi”. “Sebuah karya sastra cerdas” yang bergerak dari satu pemikiran filsuf besar ke filsuf besar lainnya tanpa sungkan, sambil tidak segan memunculkan pemikiran sendiri secara kritis. Mengajukan “deskripsi, sistem simbol dan cara pandang” yang lain.

Lebih Jauh lagi, dengan adanya internet, beliau mengatakan “telah terjadi perubahan konsepsi kemanusiaan” itu sendiri. Kasarannya “di internet, tidak ada yang tahu kalau Anda berwujud anjing” he he he. bener nggak?. Kalau kita mau jujur siapa yang bisa jamin kebenaran identitas seseorang di Internet?. Terlalu banyak kasus blog yang menggunakan identitas yang seakan-akan benar, dilengkapi dengan foto, dan nomor telepon de el el segala padahal itu palsu. Siapa yang tahu kalau mulut ini ternyata Amin Rais atau kang Jalal atau bahkan SBY sendiri he he he.

Pertanggung jawaban dan integritas secara intelektual di internet itu tercermin dari apa yang disampaikan dan kemauan yang bersangkutan untuk berkomunikasi. Sejauh anda bisa dihubungi, memiliki email address, tidak menutup komen dan berkata dengan bertanggung jawab maka itulah inti sikap bertanggung jawab secara intelektual di internet. Lebih jauh lagi secara moral … pertanggung jawaban itu sejatinya kepada Tuhannya sendiri-sendiri.

Cara berfikir tentang tanggung jawab intelektualitas yang sekan wajib beridentitas mirip dengan bangsa barat, dimana sekarang mulut sedang menimba ilmu. Di dunia barat dibiasakan bersikap kritis, sayangnya sikap kritis itu terlalu berat dimaknai sebagai “lihatlah siapa yang berbicara”. Jika ada seseorang membaca sebuah jurnal, maka initial assessment dari jurnal tersebut adalah siapa penulis jurnal itu, jurnal apa yang memuat, berapa banyak jurnal lain yang dia hasilkan, dari lembaga mana penulis itu berasal. Semua yang disebutkan mulut di atas digunakan sebagai judgment awal penentu layak tidaknya sebuah jurnal untuk dilihat lebih lanjut. Inilah budaya popularity based yang memang merupakan salah satu fundamen bangunan sosial bangsa barat.

Sikap kritis demikian tentu boleh-boleh saja diadopsi, akan tetapi kalau digunakan sebagai satu-satunya dasar judgment … maka kita akan rugi sendiri. Ibaratnya … bagaimana jika ada mutiara di dalam lumpur dasar laut yang kotor. Sikap kritis semacam itu hendaknya membantu kita melihat sebuah opini atau karya intelektual secara lebih komprehensif itu saja.

Secara idealita, bangsa kita sebenarnya memiliki cara pandang yang lebih mulia akan obyektifitas intelektual. Telah sering diajarkan pada kita untuk melihat apa yang diucapkan dan bukan siapa yang mengucapkan. Itulah sebenarnya yang menjadi landasan filosofi blog mulut. Mendidik diri sendiri untuk menerima kebenaran secara apa adanya, yang bisa datang dari siapa saja dan dari mana saja.

Mengenai integritas seseorang terkait dengan jelasnya identitas orang tersebut sebagaimana saudara Wibisono Satrodiwiryo rujukkan ke tulisan Fatih Syuhud. Bagi mulut tulisan itu bahkan memperkuat argumen yang diajukan mulut tentang identitas itu sendiri. Tidak ada di sana keharusan bahwa untuk ber-integritas seseorang harus memiliki identitas yang jelas, yang ada adalah kepribadian yang jelas, kepribadian yang selaras antara ucapan dan tindakannya.

Bahkan pandangan yang lebih fundamental soal identitas ini secara indah dikutip oleh Alex R. Nainggolan dari pemikiran Goenawan Mohammad, bahwa para sastrawan “harus menyerahkan diri mereka sebagai “orang tanpa identitas”—dengan mengutamakan prinsip humanisme universal, sehingga memandang sesuatu persoalan dengan lengkap”. Sekali lagi identitas mulut adalah tersirat dari buah-buah pikiran yang mulut hasilkan itu sendiri, silahkan saja semua orang mengkonstruk image identitas mulut berdasarkan persepsinya massing-masing. Toh meminta orang lain untuk mengakui diri sendiri sebagai orang yang anu atau orang yang ini juga merupakan tindakan yang sia-sia.

Penerapan konsepsi validitas pendapat dan perkataan seseorang terkait dengan integritas pribadi orang tersebut yang mulut diskusikan di sini tentu saja tidak bisa kita terapkan secara semena-mena dalam kasus menimbang sanad (ketersambungan hadits dari pengucap terakhir kepada rasulullah) dari sebuah hadits. Hadits adalah salah satu sumber hukum Islam, dimana kedudukannya adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Tentu saja kita harus berhati-hati mengambil perkataan Nabi kita dari orang yang tidak terpercaya. Sedangkan kita ini hanyalah manusia biasa, ucapan dan pendapat kita hanyalah satu dari sekian juta pendapat yang bertebaran di atas bumi. Tidak ada yang akan menjadikannya sebagai pegangan hidup yang bersifat eternal, jadi karenanya logika tersebut menjadi absurd di sini.

Hati-hatilah kita semua karena yang disebut-sebut orang sebagai intelektualisme dan sikap kritis itu dapat membuat kita mencerabut diri sebagian akar tradisi bangsa kita yang adi luhur. Membuat kita pongah dan berlari menjauh dari apa yang kita sebut dengan budaya yang santun, sikap yang saling menghormati dan budi pekerti yang tinggi.

Terakhir, soal niat/berbuat baik tanpa identitas (terutama dalam konteks sosial). Jika saudara seorang muslim, bukankah hal demikian (dalam hal-hal tertentu) malah dianjurkan?. Ingat nggak ungkapan berikut : “kalau bisa tangan kirimu tidak tahu ketika tangan kananmu bersedekah”. Oleh karena itulah banyak sekali kitab luar biasa dalam khasanah Islam klasik (turats — bukan kitab Taurat lho) ada banyak kitab yang pengarangnya (mushonnif — bahasa arab dari pengarang) hanya menyebut dirinya sebagai hamba Allah ataupun sebagai mushonnif saja.

Nah bagaimana pendapat anda semua, para blogger Indonesia, mengenai hal ini?. Pendapatnya kami tunggu di sini. Semoga diskkusi ini membawa manfaat bagi mulut, saudara Wibisono Sastrodiwiryo serta seluruh anak bangsa Indonesia.

Jayalah Indonesiaku, Jayalah Bangsaku.

Artikel terkait :

  1. Scientific and Credible Blogger
  2. Anonymity and credibility

Napas-napas kemerdekaan bangsa di Bulan Desember

welgedewelbeh

Di bulan Desember ini paling tidak terdapat tiga hari Nasional yang luar biasa maknanya akan tetapi tidak banyak yang menyadari dan menganggapnya sebagai sekedar hari nasional biasa. Ketiga hari nasional yang mulut maksud adalah Hari Nusantara, Hari Bela Negara dan Hari Ibu. Yang pertama diperingati setiap tanggal 13 Desember, yang kedua diperingati setiap 19 Desember sedangkan yang terakhir disebut diperingati setiap tanggal 22 Desember.

Mengapa ketiga hari tersebut mulut katakan memiliki makna yang istimewa?, tentu saja karena ketiga hari tersebut dipilih untuk memperingati tiga momen luar biasa dalam sejarah perjalanan bangsa kita. Tiga momentum sejarah yang atasnya kita seharusnya berbangga dan sekaligus malu sebagai generasi muda Indonesia tahun 2000-an. Lho kok bangga dan malu, apa nggak merupakan suatu paradox? OK deh untuk mendapat jawabannya silahkan simak penjelasan mulut berikut ini : Baca Lanjutannya…

Terharu

Welgedewelbeh

Sudah hampir dua puluh hari mulut nggak bisa memulai menarikan jemari di atas kibot untuk meng-update blog. Setiap kali beberapa huruf diketikkan dan beberapa titik dititikkan langsung saja motivasi menulis buyar begitu saja. Terlalu banyak pikiran yang mengambang belum menemukan jalurnya untuk dituangkan, saling libat melibat dan masih sulit untuk bisa diuraikan menjadi rangkaian makna. Terlalu banyak pergulatan motivasi ngeblog yang menghalangi jemari mulut untuk memainkan musik tik tak tik tak di atas kibot.

Bukannya mulut nggak punya ide, akan tetapi ngupdate blog demi menjaga atau meningkatkan hit pembaca atau kasarnya memanage popularitas kayaknya tidak cukup kuat untuk menjadi niyat yang benar dalam ngeblog. Bagi mulut pribadi, niyat ngeblog yang baik kayaknya mudah terkotori oleh rasa takabur dan kekaburan motivasi oleh yang namanya popularitas.

Akan tetapi kayaknya pemikiran macam begini nggak boleh dipertahankan terlalu lama, toh juga berhenti ngeblog juga tidak membawa kemajuan pribadi dan peningkatan spiritual apa-apa. Kayaknya mulut ini maqom-nya masih manusia biasa yang selalu belepotan dosa, niyat yang masih berbelok-belok dan terlumuri nafsu-nafsu rendah yang sifatnya semu belaka. Kayaknya mulut ini harus selalu berusaha dan belajar dari sejarah hidup setiap waktu.

Baca Lanjutannya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.